Swarha

3253.JPG

Swarha
Nugraha R/PDR
SEPERTI tertera di atas bangunannya, gedung ini dikenal dengan nama Swarha. Sebagian orang mengenalnya dengan sebutan Swarha Islamic. Gedung ini terletak di pojok Grote Postweg (Jalan Raya Timur) dan Regentsweg (Jalan Kabupaten) atau sekarang berada di samping Masjid Raya Provinsi Jawa Barat (Masjid Agung Bandung) dan di seberang Kantor Pos Besar, Jalan Asia Afrika. Pada 1950-an, Gedung Swarha dibangun untuk dijadikan hotel dan pertokoan. Bangunan ini terdiri dari lima tingkat, lantai dasar berfungsi sebagai pertokoan sementara empat lantai di atasnya dijadikan hotel. Sebelum menjadi Gedung Swarha, gedung ini merupakan bangunan toko bergaya arsitektur eklektik dengan atap tumpuk seperti atap bangunan Cina. Bangunan toko tersebut sengaja dirobohkan, dibangun ulang, dan lahannya diperluas dengan memakai bangunan toko di sampingnya yang bergaya Timur Tengah. 
 
Tidak diketahui secara pasti siapa perancang Gedung Swarha, namun Gedung Swarha dibangun dengan gaya Nieuw Bouwen, suatu aliran yang banyak dipakai arsitek Belanda sebelum Jepang menduduki Hindia Belanda. Gaya ini sering juga disebut gaya Aalbers Look, yakni gaya arsitektur yang terpengaruh oleh rancangan arsitek A.F. Aalbers (arsitek Hotel Savoy Homann). Salah satu ciri khas dari gaya seperti ini adalah dihindarinya penambahan elemen-elemen dekoratif. Dengan gaya seperti ini maka Gedung Swarha pun memiliki bentuk bangunan yang  melengkung seperempat lingkaran tanpa ada elemen-elemen khas. Bangunannya menghadap ke arah utara dan timur dengan warna bangunannya  yang sangat khas, yakni perpaduan biru dengan putih.
 
Beberapa sumber menyatakan bahwa hotel ini sengaja dibangun untuk tempat penginapan para peserta Konperensi Asia Afrika (KAA) pada tahun 1955, khususnya para jurnalis. Saat itu ratusan wartawan asing maupun wartawan Indonesia memang menginap di  hotel ini, termasuk wartawan senior Rosihan Anwar. Konon, karena letaknya yang berdekatan dengan Kantor Pos Besar, maka para jurnalis akan lebih mudah dalam mengirimkan berita hasil liputannya melalui telegram. 
 
Sayangnya, fungsi Gedung Swarha sebagai hotel tak bertahan lama. Sejak sekitar tahun 1970-an atau 1980-an, Gedung Swarha bagai ‘mati suri’. Gedung ini tidak lagi berfungsi sebagai hotel. Bangunan lantai dua hingga lima dibiarkan terbengkalai, tak terawat, dan tak lagi memiliki fungsi yang berarti. Sementara lantai dasarnya masih digunakan pertokoan, salah satunya toko Indra yang sudah ada sejak dulu. Konflik waris maupun konflik dengan pemerintah sempat mewarnai masalah kepemilikan gedung ini. Pengembalian fungsi Swarha juga sempat digulirkan oleh sang pemilik gedung, tetapi terbentur masalah perijinan. Kabar terakhir, gedung ini berada di tangan pemerintah dan rencananya akan dijadikan perpustakaan umum. Namun, hingga kini belum ada realisasi. Lagi-lagi, gedung ini kembali terlupakan. (DOK/PR)
 
Alamat: 
Swarha
Jln. Asia Afrika, Kota Bandung
Bandung Jawa Barat
Indonesia
Daerah: