Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan Bandung

3257.JPG

Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan Bandung
Nugraha R/PDR
PADA akhir abad ke-19 di Kota Bandung, beredar wacana soal kebutuhan orang Eropa yang ingin mempunyai tempat berkumpul bagi kalangan mereka saja. Keinginan mereka lalu terealisasi pada 1870an setelah menyewa rumah kecil di Jalan Braga. Perkumpulan khusus orang Eropa dan yang sederajat dengan mereka itu kemudian diberi nama Societeit Concordia. Karena rumah di Jalan Braga tak mampu lagi menampung anggota Societeit Concordia yang semakin banyak, maka mereka pindah tempat ke gedung yang kini menjadi Gedung Merdeka Bandung.
 
Salah satu bangunan yang juga dipakai sebagai tempat perkumpulan adalah gedung yang kini bernama Yayasan Pusat Kebudayaan (YPK) Bandung. Bedanya, perkumpulan yang bertempat di Gedung YPK itu bisa dihadiri kalangan Indo-Eropa dan bahkan orang pribumi. Perkumpulan yang dimulai pada 1920an tersebut diberi nama Societeit Ons Genoegen. Sama seperti Societeit Concordia, Ons Genoegen juga menyuguhkan berbagai fasilitas hiburan bagi anggotanya, seperti meja biliar, catur, lantai dansa, hingga pergelaran musik dan sandiwara.
 
Cerita soal Gedung YPK sebenarnya sudah ada jauh sebelum bangunan di Jalan Naripan itu dipakai sebagai Societeit Ons Genoegen. Pada 1904, RM Tirto Adhi Soerjo, pendiri surat kabar berbahasa melayu pertama di Hindia, Medan Prijaji, menjadikan Gedung YPK sebagai kantor badan hukum N.V. Javaansche Boekhandel en Drukkerij en handel in schrijfbehoeften. N.V atau badan hukum tersebut tercatat sebagai N.V.pribumi pertama sekaligus N.V. pers pertama dengan modal sebesar 75.000 fl yang terdiri atas 3.000 lembar saham.
 
Seolah tidak bisa terlepas dari peristiwa sejarah dan tokoh nasional, Gedung YPK juga sempat dipakai oleh Soekarno dan tokoh pergerakan lainnya untuk mengadakan vergadering atau rapat serta ceramah politik pada 1930an. Sesekali, pergelaran hiburan berupa orkes dan sandiwara kecil-kecilan juga diadakan. Konon, grup sandiwara Batovis pimpinan Sutan Syahrir pernah mentas di Gedung YPK.
 
Setelah Indonesia merdeka, tepatnya pada periode 1950-1980an, Gedung YPK masih dipakai untuk pertunjukan seni dan budaya. Seniman dan budayawan yang tercatat kerap mentas di sana di antaranya, seniman teater Jim Liem, Sastrawan Ajip Rosidi, Rustandi Kartakusumah, dan Rahmatullah Ading Affandie. Gedung YPK juga kembali sempat dipakai sebagai kantor beberapa surat kabar seperti, Warta Bandung, Harian Berdikari, Bandung Pos.
 
Kini, Gedung YPK khusus digunakan untuk kegiatan kesenian dan kebudayaan. Bentuk bangunan yang tergolong cagar budaya tersebut tidak banyak berubah. Konturnya masih asli, dengan bentuk jendela dan pilar-pilar khas Eropa. Terdapat pula aula yang biasanya dipakai untuk latihan menari dan pameran. Sementara itu aula lainnya yang lebih luas digunakan untuk berbagai pertunjukan. YPK sendiri sudah ada sejak 1949. Dulu namanya adalah Stichting Cultur Center. Sejak dulu, salah satu tugas yang diemban YPK adalah pembinaan, pengembangan, dan apresiasi seni budaya. Seniman yang lahir dari YPK di antaranya Bing Slamet, Upit Sarimanah, dan Asep sunandar Sunarya. ( Fitrah Ardiansyah/PDR)
 
Alamat: 
Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan Bandung
Jln. Naripan No. 7-9
40112 Bandung Jawa Barat
Phone: 0227796482
Indonesia
Daerah: