Masjid Agung Majalaya

3344.JPG

Masjid Agung Majalaya
Foto : Nugraha R/PDR
SEBELUM Masjid Agung Majalaya berdiri, ditempat itu sudah ada surau kecil berbentuk. Dulu masjid dibangun dari bambu dan kayu beralaskan tembok. Masjid tersebut berdiri di tanah wakaf Bapak Rd.H. Tubagus Zainudin. Kondisi masjid pada waktu itu sudah lapuk sekitar tahun 1939 kepala desa Majalaya Bpk H.Abdul Gafur mengusulkan untuk merenovasi masjid itu. Usul  H.Abdul Gofur  tersebut mendapat dukungan dari Rd. Hernawan Soemarjo sebagai asisten wedana (camat) pada waktu itu. Karena posisi masjid terletak di pusat kecamatan Hernawan Soemarjo mengusulkan untuk membangun kembali masjid yang lebih besar. 
 
Rd. Hernawan Soemaryo dan H. Abdul Gafur membentuk panitia pembangunan masjid. Hasil rapat tersebut menetapkan Bapak Rd.H. Kosasih (Desa Cibodas)  sebagai ketua, sekretaris yakni Rd. Dendadibrata (Desa Panyadap) sedangkan sebagai bendahara Ijradinata (Desa Majalaya). Panitia masjid sepakat untuk mengubah bentuk masjid dengan melibatkan seorang arsitek yang bernama Ir. Suhamir, lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB). 
 
Tahun 1940 dimulai pembangunan masjid dengan dana awal 15.000 gulden. Dana tersebut diperoleh dari anggota panitia yang sebagian merupakan pengusaha. Biaya pembangunan masjid juga diperoleh dengan menggalang sedekah amal jariyah dari masyarakat di Kecamatan Majalaya. Masyarakat juga menyetor bahan bangunan seperti batu dan pasir. Bahkan Rd. Hernawan Soemarjo berinisiatif beserta aparat desa berkeliling naik sepeda ontel hias   mengajak masyarakat menyumbang masjid. 
 
Tahun 1942 bangunan Masjid berserta tempat berwudlu selesai dan mulai dipakai masyarakat. Namun pada tahun yang sama setelah pecah Perang Dunia ke-2, pembangunan Masjid terhenti sementara karena sebagian masyarakat Majalaya mengungsi. Bahkan beberapa bagian Masjid rusak akibat terkena tembakan peluru pesawat milik Belanda. Tahun 1944, masjid sempat menjadi markas dan basis pertahanan Tentara Rakyat Indonesia (TRI) di Majalaya. Baru setelah Kemerdekaan pembangunan dan pengumpulan dana Masjid dimulai kembali. Selain  itu dibangun balai nikah di sebelah utara Masjid. Tahun 1950-an jendela-jendela Masjid yang tadinya hanya berupa lubang dipasang kaca dan jendela yang terbuat dari kayu jati.
 
Tahun 1982 tempat wudlu dipindahkan ke sebelah barat Masjid.  Enam tahun berikutnya, karena jemaah semakin banyak kolam yang mengelilingi Masjid diubah menjadi Serambi (bale). Tempat wudlu diperbaiki dan jumlah toilet diperbanyak.
 
Masjid Agung Majalaya memiliki  gaya yang mirip dengan Masjid Demak di Jawa Tengah.  Bedanya  Masjid Agung Majalaya memiliki lima suhunan yang melambangkan rukun Islam ,sedangkan Masjid Agung Demak hanya memiliki dua suhunan. Bagian atap atau sirap Masjid berasal dari Kalimantan yang sama dipakai di gedung ITB. 
 
Keempat tiang masjid ditopang dengan batu dari  Demak. Batu bata yang dipakai yakni batu bata press sayati (Kopo Sayati) dipakai untuk bagian dalam bangunan , sedangkan bagian luar menggunakan bata press buatan pabrik milik Belanda yang berada di Ujung Berung. Lantai masjid bagian dalam masih terawat yakni lantai yang seperti  digunakan  di Masjid Cipaganti dan SMPN 5 Bandung.
Masjid Agung Majalaya memiliki kohkol (bedug) yang dikenal dengan nama Geumper Sakaten. Kohkol yang dipesan langsung oleh Hernawan Soemaryo terbuat dari kayu jati Jepara dan memiliki panjang sekira 1,70 meter. Waktu itu, masyarakat yang mau membunyikan kohkol itu dikenakan tarif sebesar satu benggol (sakeuntreung sabenggol). (Nugraha Ramdhani./PDR)
 
Alamat: 
Masjid Agung Majalaya
Jl. Masjid Agung No.13 Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat
Bandung Jawa Barat
Indonesia