Masjid Lautze 2

3261.JPG

Masjid Lautze 2
Nugraha R/PDR
TIDAK seperti masjid-masjid lainnya, masjid yang satu ini memiliki ciri oriental yang sangat kental dengan warna yang mencolok yaitu merah dan diselingi kuning. Dua warna yang sangat dalam makna dan luas pemakaiannya bagi etnis Tionghoa. Di depan bangunan, terdapat gerbang lengkung atau gerbang bundar yang memisahkan trotoar dengan lantai masjid sebelum pintu masuk. Hal ini seolah menegaskan bahwa masjid ini dibangun oleh warga keturunan Cina yang memeluk agama Islam.
 
Dinding terawang di samping kanan kiri gerbang lengkung, sekilas menampilkan kesan rangkaian simbol sakral yang dicat warna kuning, dengan garis berwarna merah. Penampilan dinding tersebut menyiratkan tempat ini sebagai ruang multikultural untuk mempelajari berbagai hal berkaitan dengan agama. Seperti yang dituturkan Jesslyn Reyner (25) hubungan masyarakat Masjid Lautze 2, bahwa tempat ini berfungsi juga sebagai tempat diskusi mengenal ajaran Islam, tempat kursus Bahasa Arab, Mandarin, dan Shufa atau seni kaligrafi Cina.
 
Dominasi warna merah tidak hanya pada eksterior, tetapi juga pada interior bangunan. Sekat pembatas jamaah perempuan juga berwarna merah, begitu pula ornamen berbentuk persegi panjang pada lampu-lampu bagian dalam masjid. Karpet untuk salat juga dipilih yang berwarna merah, dari bahan semi plastik yang sejuk dan relatif mudah dibersihkan. Kesan keseluruhan sebenarnya sangat sederhana, di ruangan dalam masjid, hanya ada satu ruangan yang bisa menampung sekira 50 orang, dengan satu mimbar kecil berwarna merah, di bagian yang menjorok ke depan.
 
Kesederhanaan Masjid Lautze 2 semakin terasa, ketika mengetahui bahwa pengelolanya, yaitu Yayasan Haji Karim Oei, masih mengontrak lahan bangunan masjid ini. Sejak 1997, masjid yang mengambil nama Jalan Lautze, di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat ini, baru bisa mengusahakan untuk melakukan proses alih sewa lahan, yaitu menyewa tanah dari penyewa tanah sebelumnya yang berujung pada pemilikan tanah Pemerintah Kota Bandung. Namun, karena para pengelola yayasan bersifat sukarela, mereka tidak khawatir, bila suatu hari, lahan yang mereka sewa dipermasalahkan. Tempat ibadah, rumah sakit, sekolah, seharusnya menjadi fasilitas umum yang diperhatikan dan dibantu pemerintah dalam pemeliharaannya.
 
Bagi orang yang belum tahu bangunan di Jalan Tamblong ini, baik pejalan kaki yang melintas atau pengendara motor dan mobil, akan mengira masjid ini ruko biasa, tidak berbeda jauh dengan Toko Lautze yang berada di sebelahnya. Kesan masjid hanya terpatri pada papan nama yang menunjuk ke arah pintu masuk dan sebentuk kubah yang terbuat dari kayu dicat merah, yang berada di atas bangunan depan. Namun, bila telah berada di dalamnya, ketenangan dan keheningan sebuah masjid, akan tetap terasa. Masjid ini merupakan cabang dari Masjid Lautze yang berada di Jakarta.
 
Di saat salat Jumat, jamaah masjid ini dan warga sekitar bisa meluber hingga ke trotoar dengan jumlah sekira 300 orang. Seakan ingin menyamai salat di Masjid Haram Mekkah, di mana sebagian jamaah ternaungi dan sebagian yang lain di area terbuka, tetapi ini di trotoar. Meskipun terkesan unik, sebagai masjid yang kegiatannya menjadi pusat informasi Islam bagi mualaf, masjid ini sebenarnya terbuka bagi siapa saja. Kecanggungan memasuki masjid dengan nuansa yang berbeda, segera hilang begitu bertemu dengan pengurusnya, atau ketika sudah berada di dalamnya.(E Saepuloh/PDR)
 
Alamat: 
Masjid Lautze 2
Jln. Tamblong No. 27 Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung
40111 Bandung Jawa Barat
Indonesia
Daerah: