Dari Menanam Bisa Wirausaha

PROGRAM Bandung Urban Farming Goes To School (BUGS) merupakan sarana pembelajaran untuk anak-anak, berkaitan dengan program Pembibitan, Penanaman, Pemeliharaan, dan Pengawasan Lingkungan Hidup (P4LH) sebagai bagian dari mata pelajaran PLH di sekolah. Demikian dikemukakan Guru PLH SMKN 5 Bandung, Asri Dena Veviani, S.Pd, saat ditanya mengenai manfaat keikutsertaannya dalam program BUGS beberapa waktu lalu.

“Awal mula ikut BUGS karena saya baru masuk sebagai guru PLH. Akhirnya saya banyak mencari tahu apa yang harus dilakukan, dan banyak melakukan pendekatan untuk mengetahui program apa yang harus dilaksanakan. Keikutsertaan tersebut juga diharapkan memberikan kontribusi positif untuk pemanfaatan lahan luas sekolah. Sekolah yang minim lahan bisa hijau, apalagi SMKN 5 Bandung yang luasnya mendekati 2 hektar,“ ujar Asri.

Ide untuk memanfaatkan lahan sekolah yang luas ini juga tercetus dalam benak Fella Friskilla, siswi Kelas XI SMKN 5 Bandung. “Saya melihat sekolah saya ini memiliki lahan luas. Meski begitu, masih ada lahan yang belum terpakai. Dengan lahan hijau dan tertata rapi, bisa dibayangkan sekolah ini bisa jadi lebih bagus dan keren,“ tutur Fella.

Fella juga menambahkan penuh semangat bahwa dengan adanya BUGS ini, memotivasi dirinya untuk memanfaatkan lahan tersebut. Lebih lanjut lagi, Fella juga mendapatkan banyak manfaat dari keikutsertaannya dalam BUGS.

“Seru ikut BUGS! Tidak hanya belajar tapi juga menghasilkan hal bermanfaat. Dari awal belajar pembibitan, saya semangat ingin segera tahu hasilnya dan memanfaatkannya untuk diri kita. Apalagi cukup banyak tanaman yang kita tanam, seperti sosin, bayam, cabe rawit, kacang, waluh, dan jeruk,” ujarnya lagi.

Andy Ramdhani, siswa Kelas XI SMKN 5 Bandung yang memang menyukai bercocok tanam, merasakan apa yang Fella rasakan, bahwa ikut serta BUGS menyenangkan dan mendapatkan banyak manfaat.

”Dari awal, ada pembibitan sosin selama 2 hingga 3 minggu yang ditanam di sekitar area sekolah. Menjelang satu bulan, sosin sudah mulai tumbuh. Hasilnya, dimanfaatkan oleh teman-teman untuk dimakan. Ada kebanggaan tersendiri bisa menghasilkan sesuatu dari yang kita rawat sendiri. Senang rasanya melihat hasil panen kita dimakan orang lain,” ungkap Andy.

Tidak hanya di sekolah, di rumah pun Andy bersama kedua orang tuanya, menyukai tanaman. Awalnya, Andy menanam strawberry sebanyak 3 pot, tapi lama kelamaan dikembangkan, dan sekarang telah ada 12 pot. ”Saya dan orang tua bersama-sama menanam, merawat dan membersihkan, dan secara bergiliran menyiram,” cerita Andy.

”Saat ikut serta BUGS, saya baru tahu kalau ternyata merawat tanaman itu ada caranya juga. Dulu, saat melihat daun kering atau batang kering, seringkali langsung saya cabut daun atau batang tersebut. Sekarang saya belajar lebih detail, lebih berhati-hati, tidak asal cabut tapi dilihat dulu mana yang harus dipotong, mana yang tidak,” tuturnya.

Fella juga menceritakan bahwa banyak ilmu baru yang didapatnya saat BUGS, ”Saya belajar membuat pupuk dari sampah rumah tangga. Ternyata sisa makanan kita, bisa dimanfaatkan untuk jadi pupuk,” papar Fella.

Pengalaman anak didiknya tersebut, membuat Asri terinspirasi memasukkan projek urban farming sebagai bagian dari mata pelajaran PLH di sekolah. ”Untuk tahun ajaran ini, yang dimulai setelah Bulan Ramadan, saya telah mempersiapkan pelaksanaan projek urban farming sebagai bagian dari PLH. Saya juga melibatkan siswa yang telah punya pengalaman di BUGS untuk membantu menjadi mentor bagi adik kelasnya,” papar Asri.

BUGS periode lalu, SMKN 5 Bandung memang belum beruntung jadi pemenang, tetapi Asri mengakui bahwa dirinya termotivasi untuk bisa berhasil kedepannya. ”Saya tidak mau mentok. Jangan sampai dengan berakhirnya program BUGS, ilmunya tidak diteruskan. Program ini bagus, bisa diterapkan ke anak-anak. Bahkan, tidak hanya berakhir di panen, tapi juga bisa diteruskan untuk wirausaha, mendapatkan penghasilan dari menanam. Tidak hanya ketahanan pangan, tapi bisa menghasilkan secara finansial,” tambah Asri.

Baik Asri, Fella, ataupun Andy berharap program BUGS bisa berkelanjutan, dan berjalan maksimal. Meski, sebagai masukan, mereka berharap sebaiknya monitoring dan komunikasi pengawasan, bisa dilakukan lebih intens.

Andy bahkan punya harapan agar program ini dikembangkan dengan menyentuh tempat-tempat yang kurang terpakai. Tempat tersebut ditata dan ditanam, sehingga tampil hijau dan menghiasi kota. Begitupun dengan Fella yang beranggapan bahwa program ini bagus. Semua sekolah bisa terlibat untuk kembali menghijaukan Kota Bandung. ”Kalau bisa, setiap tahun ada BUGS, agar setiap angkatan, setiap tahun terlibat langsung menghijaukan Kota Bandung,” ujarnya menutup pembicaraan. (AE-03/ Donny Amantino Manap)***