Di Asia, 1 dari 5 Pria di bawah 75 Tahun Beresiko Kanker

Bandung (PRINFO) - SEBAGIAN besar dari pria berusia lebih dari 40 tahun tak sadar sedang digerogoti kanker prostat atau kanker penis. Hal itu terjadi karena, biasanya, mereka malu untuk berkonsultasi ke dokter saat merasakan ada yang berbeda dengan penisnya, baik secara bentuk atau pun rasa. Para pria lebih memilih untuk mengacuhkannya. Alhasil, saat terpaksa berobat ke dokter, kankernya sudah stadium lanjut.
 
Ahli kanker dari Parkway Cancer Centre (PCC) dan Parkway Hospitals Dr. Richard Quek dalam diskusi bertema “Yang sering Luput Dibicarakan dari Kanker Pria” menuturkan, konsep sosial “kejantanan” menggiring pria untuk tak siap mengakui sedang sakit kelamin. Bukan hanya malu terhadap pasangannya, pria tersebut juga takut kehilangan fungsi dari penisnya. Padahal, jika dikonsultasikan sedini mungkin, tindakan medis berupa amputasi penis sangat mungkin dihindari.
 
“Konsep sosial “kejantanan” membuat pria lebih cenderung mengadopsi gaya hidup tidak sehat dan menghiraukan tanda-tanda masalah kesehatan. Terlebih, diskusi mengenai kesehatan pria serta ajakan melakukan pemeriksaan kesehatan masih kurang dijumpai,” kata Quek, di Jakarta, Kamis (31/1/2019).
 
Ia menuturkan, diagnosis dini dan akurat dapat membantu pasien menentukan pilihan perawatan yang optimal. Apalagi jika konsultasi dilakukan ke rumah sakit yang berpegang pada pendekatan multidisiplin melalui kolaborasi dengan puluhan spesialis untuk memberikan diagnosis yang cepat dan akurat. “Di PCC dan Parkway Hospitals melakukan itu,” ujarnya
 
Sebuah badan penelitian asal Inggris mengungkap konsep sosial “kejantanan” sebagai salah satu penyebab di balik lebih rentannya pria terhadap kanker. Di Asia, 1 dari 5 pria diprediksi mengidap kanker sebelum umur 75 tahun. Diskusi mengenai kesehatan pria serta ajakan melakukan pemeriksaan kesehatan juga masih kurang dijumpai dibandingkan dengan pesan-pesan kesehatan yang biasanya ditujukan bagi wanita.
 
 
“Padahal, waktu yang tepat adalah faktor kunci dalam perawatan kanker. Tetapi kami justru sering mendapati pasien pria yang menunda memeriksakan diri ke dokter hingga kanker mereka telah mencapai tahap lanjut,” kata Quek.
 
 
Para pasien pria tersebut umumnya beralasan, gejala-gejala yang mereka alami seperti letih berkelanjutan dan gangguan kemih hanya tanda penyakit ringan dan mereka harus kuat menghadapinya. Padahal, bila terus berlanjut, gejala-gejala tersebut dapat menjadi pertanda awal kanker pria, seperti kanker prostat dan penis.
 
 
“Semakin cepat kita mendiagnosis pasien, semakin baik pula prospek perawatan atau penyembuhan. Oleh karena itu, Parkway Cancer Centre sebagai salah satu pusat kanker swasta terbesar di Singapura memiliki misi untuk meningkatkan kesadaran seputar deteksi dini kanker, termasuk kanker pria,” tutur Quek.
 
 
Kanker prostat adalah jenis kanker ke-3 terbanyak di Indonesia setelah kanker paru-paru dan dubur. Sekitar 15 kasus ditemukan di setiap populasi berjumlah 100.000 orang, dan angka ini terus meningkat dengan cepat. Kanker prostat pada tahap awal umumnya muncul tanpa gejala. Namun, pada tahap lanjut, gejala-gejala seperti perubahan pola berkemih – lebih sering, sulit mulai atau berhenti, aliran lemah – serta munculnya darah pada air seni dan nyeri tulang dapat muncul.
 
 
Sebaliknya, kanker penis lebih jarang ditemui. Tetapi akibatnya banyak orang juga tak familiar dengan tipe kanker yang diasosiasikan dengan inveksi virus papiloma manusia (HPV) layaknya kanker serviks pada wanita. Gejala yang perlu diperhatikan ialah munculnya benjolan, ruam atau lecet yang tak kunjung sembuh, serta pendarahan pada penis.
 
Ahli Urologi Parkway Hospitals Dr. Poh Beow Kiong memaparkan sejumlah faktor risiko kanker prostat dan penis. “Meningkatnya usia berperan besar terhadap kemunculan kedua kanker ini, demikian pula gaya hidup tidak sehat. Obesitas, akibat pola makan tak sehat dan kurang olahraga, misalnya meningkatkan kemungkinan pria mengidap kanker prostat. Sedangkan, merokok, seks bebas dan infeksi HIV mempertinggi prospek kanker penis,” ujarnya.
 
 
Untungnya, berkat laju perkembangan penyakit yang relatif lambat dan kemajuan dunia medis, kedua tipe kanker ini memiliki tingkat penyembuhan yang tinggi. “Yang penting, pasien harus mendapatkan diagnosis yang akurat untuk mengetahui tipe serta tahap kanker yang diidapnya, sehingga ia bisa mendapatkan rencana perawatan yang optimal, entah itu radiasi, operasi, atau lainnya,” kata Poh. 
 
 
Ia menjelaskan, dari beberapa studi mengungkapkan bahwa pendekatan multidisiplin berkontribusi terhadap rencana perawatan yang optimal dalam penanganan kanker. “Kami berusaha keras untuk mencapainya melalui kolaborasi puluhan spesialis di PCC dan Parkway Hospitals. Kolaborasi ini memungkinkan PCC untuk memberikan diagnosis yang cepat dan akurat, biasanya dalam 48 jam, untuk membantu pasien memilih perawatan yang tepat untuknya,” ujarnya. (Dhita Seftiawan/“PR”)*