Disbudpar Dorong Penyelenggara Event Bersertifikasi CHSE

Sebagai destinasi wisata, Kota Bandung menjadi salah satu daerah yang mendapat kesempatan menggelar event Drive-In Senja di Kiara Artha Park, Jalan Jakarta, Kota Bandung. Event Drive-In Senja atau menonton bioskop dengan konsep dari dalam mobil ini hanya digelar dibeberapa kota besar seperti Jakarta, Bali, Surabaya, Yogyakarta dan Bandung.

Alasan lain yang membuat Kota Bandung dipilih karena Kota Bandung dikenal sebagai kota kreatif, berhawa sejuk, serta lokasinya yang strategis untuk dijangkau warga kota-kota sekitar.

Drive-In Senja sendiri menjadi salah satu event yang digelar di masa pandemi Covid-19, dengan tujuan memberikan hiburan aman dan nyaman di tengah pandemi bagi masyarakat. Pelaksanaan event ini pun mendapat sambutan meriah dari masyarakat.

Melalui event Drive-In Senja ini, penonton tidak perlu khawatir terpapar virus Covid-19 karena hanya perlu nonton film di dalam mobil, tanpa bertemu banyak orang. Drive-In Senja menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Seluruh panitia sebelumnya telah melakukan rapid test untuk memenuhi persyaratan yang ditetapkan pemerintah kota. Saat penyelenggaraan, mereka dibekali oleh masker, face shield dan sarung tangan.

Pengunjung pun diharuskan pakai masker, cek suhu, dan pakai hand sanitizer yang telah disediakan saat memasuki lokasi. Mobil pengunjung juga akan disemprot dengan disinfektan. Tentu saja, tidak ada kontak langsung karena dari checking tiket hingga pesan makanan semua dilakukan dengan scan barcode dari dalam mobil.

Meski nonton dari mobil, Drive-In Senja tetap menerapkan pembatasan jumlah orang di dalam mobil. Untuk mobil kapasitas empat orang, hanya diisi dua sampai tiga orang. Sementara mobil kapasitas enam orang sebaiknya diisi hingga empat orang saja.

Jarak parkir antar mobil juga sudah ditentukan satu meter. Saat nonton, tidak boleh keluar mobil kecuali dalam keadaan darurat. Nonton di Drive-In Senja bisa jadi hiburan singkat, aman, dan seru buat yang jenuh di rumah saja. Drive-In Senja menjadi salah satu percontohan bagaimana menggelar event di tengah pandemi namun tetap aman dan nyaman.

Kini, untuk membuat masyarakat merasa lebih aman saat datang ke event di masa pandemi, pemerintah Kota Bandung mewajibkan penyelenggara event menerapkan protokol kesehatan berbasis CHSE (Clean, Health, Safety & Environmental Sustainability).

Dalam panduan khusus tentang penerapan protocol Kesehatan berbaris CHSE ini diatur lebih rinci mulai dari pre event, on event hingga post event. Seluruh pekerja, pengunjung, tenant, pengisi acara, vendor, petugas kesehatan, dan pihak terkait yang terlibat secara langsung dalam proses tahapan kegiatan pre event, on event, dan post event, wajib mengikuti panduan personal.

Setiap penyelenggara event, di Kota Bandung wajib mengukuti standar CHSE agar tersertifikasi dan memiliki logo InDOnesia CARE sebagai simbol kesiapan pelaku usaha pariwisata menerapkan standar CHSE.

Proses sertifikasi CHSE ini gratis dan sepenuhnya dibiayai pemerintah. Cara mendapatkan sertifikasi CHSE ini pun sangat mudah, pengelola atau pemilik tempat wisata hanya perlu mengakses situs web https://chse.kemenparekraf.go.id/.

Menjaga kondisi tubuh, serta memastikan diri dalam kondisi sehat, dengan suhu <37,30oC, sebelum terlibat dalam kegiatan (event), mempersiapkan perlengkapan kesehatan diri semenjak dari rumahsekurang-kurangnya masker dan hand sanitizer, tetap menjaga jarak aman minimal 1 (satu) meter, menerapkan etika bersin dan batuk saat sedang tidak mengenakan masker, menghindari kontak fisik.

Pekerja atau tenant wajib menginformasikan kepada pimpinan atau panitia jika mengalami gangguan kesehatan seperti demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan atau sesak napas, mematuhi dan melaksanakan SOP Panduan Covid-19 yang berlaku selama pelaksanaan kegiatan (event).
Seluruh pihak yang terlibat secara langsung dalam proses pelaksanaan kegiatan (event) seperti pengunjung, tenant, pengisi acara, pekerja, vendor dan petugas kesehatan memakai Alat Pelindung Diri (APD) dengan ketentuan sekurang-kurangnya menggunakan masker; disarankan menggunakan sarung tangan atau APD sesuai dengan ketentuan Kementerian Kesehatan.***