Hasilkan Mesin Pencacah Sampah Organik, BUGS - SMKN 6 Bandung

SIAPA bilang hanya tanah Lembang saja yang subur untuk ditanami sayuran. Setelah mengikuti pelatihan di BUGS (Bandung Urban Farming Goes to School), saya baru tahu ternyata sayuran bisa juga ditanam di kota, bahkan di lahan sempit sekalipun,” papar Permana Rudiyana, siswa Kelas XII TKR I SMK Negeri 6 Bandung, menerangkan dengan semangat soal ilmu barunya yang didapat dalam kegiatan BUGS.

Kegiatan BUGS mungkin sudah berlalu pada Juli kemarin, tetapi bagi Permana kegiatan bercocok tanam masih terus berlanjut. Bukan hanya sekadar senang, diakui Permana, hal ini dikarenakan menanam tanaman produktif dapat meraih hasil. “Sayuran kangkung dan sosin yang ditanam saat kegiatan BUGS sudah panen, hasilnya dibagi-bagikan untuk para siswa. Namun kegiatan menanam sosin masih terus dilanjutkan. Kami membeli benih sosin baru untuk kemudian kami tanam kembali di lahan sekolah yang kosong,” tandas Permana yang mengaku baru mengetahui adanya kol berwarna ungu saat mengikuti pelatihan bersama di BUGS.

Hal senada pun diakui Rizky Miftah Salam, siswa Kelas XI TGB I SMK Negeri 6 Bandung. “Saya suka menanam, awalnya hanya menanam tanaman hias. Setelah mendapatkan ilmu di BUGS, saya mulai melirik tanaman sayuran dan tanaman produktif lainnya,” ungkap Rizky. Menurut Rizky, dirinya tertarik mengikuti BUGS karena ingin memanfaatkan lahan kosong yang tidak terpakai di belakang sekolahnya. “Saya memilih menjadikan lahan tak terpakai di belakang sekolah sebagai lahan untuk menanam sayuran seperti sosin dan mungkin lainnya karena selain cocok juga bisa mendatangkan hasil/manfaat,” jelasnya.

Kini mereka berdua bukan hanya menanam sosin dan kangkung darat seperti yang dipraktekan dalam kegiatan BUGS, Permana dan Rizky yang keduanya perwakilan BUGS dari SMKN 6 Bandung, juga mencoba menanam ubi. Diakui mereka, kegiatannya menanam ubi mengalami kendala karena sebagian tanaman ubi yang mereka tanam bersama rekan-rekannya itu, tidak tumbuh optimal. “Kita mencoba menanam ubi, ternyata ada sebagian yang tidak optimal karena tidak terkena sinar matahari. Ini menjadi pengalaman kita jika akan menanam kembali,” tambah Rizky.

Baik Permana ataupun Rizky mengaku ingin menyebarkan virus cinta lingkungan dan menghijaukan lingkungan ini kepada rekan-rekan mereka. Sebagai aksi nyata keduanya untuk memotivasi yang lain, mereka memberikan contoh dengan terjun langsung menanam dan membersihkan lingkungan. Mereka juga mencoba menyelipkan perbincangan ringan bersama rekan-rekan mereka tentang lingkungan.

Kegiatan lingkungan yang dilakukan Rizky dan Permana ini mendapat dukungan penuh dari pihak sekolah. Sebagaimana diungkapkan Wakil Kepala Sekolah SMK Negeri 6 Bandung, Dra Euis Purnama, bahwa lahan sekolah yang luasnya hampir 5 hektar sehingga memiliki banyak lahan kosong yang bisa dimanfaatkan. “Selama ini kami memang sudah concern menata lingkungan sekaligus berkomitmen membentuk lingkungan yang baik termasuk menghijaukan sekolah. Tak hanya itu kami juga berupaya membangun karakter anak agar memiliki budaya peduli lingkungan.

Salah satu cara mendidik anak yang disampaikan Euis, yakni dengan memberikan tanggungjawab kepada setiap kelas untuk memelihara kavling-kavling agar tanaman yang ada di kavling tersebut tetap tumbuh subur. Setiap siswa juga bertanggungjawab atas setiap pot dari benih yang mereka tanam. “Kami juga mulai sedikit demi sedikit mendidik siswa agar tidak membuang sampah sembarangan. Bahwa sampah bukan tanggungjawab bagian kebersihan saja, tetapi tanggungjawab bersama,” tuturnya.

Beberapa kavling/lahan menurut Euis sengaja ditanami tanaman produktif seperti mangga agar bisa mendapatkan hasil yang bisa dinikmati bersama-sama. Euis mengatakan selain sayuran atau buah-buahan, ditanam pula tanaman apotek hidup di sebagian lahan/kavling. Dikatakan Euis, bagi SMKN 6 Bandung, lahan memang tidak menjadi kendala untuk menanam. Selain lahannya yang relatif luas, pot-pot atau polibag pun tetap bisa digunakan di lahan-lahan sisa. Kendala yang dialami adalah dari sisi pengawasan dan bibit, karena lahan yang begitu luas sehingga tentunya bibit dan perawatantan pun memerlukan biaya yang tidak sedikit.

Selain kegiatan menanam masih berlanjut, kegiatan BUGS menjadi pemotivasi rencana dibuatnya komunitas Pelajar Cinta Lingkungan (PCL) di SMKN 6 Bandung, sekaligus menjadi pembulat tekad dari upaya mereka membuat mesin pencacah sampah sendiri. “Belum lama ini, siswa jurusan mesin berhasil membuat mesin pencacah sampah sendiri yang bermanfaat dalam pembuatan kompos. Kami buat sendiri mesinnya, dan kami juga mengelola sendiri sampahnya,” kata Rizky. “Hasilnya adapula yang kami jual,” tambah Permana. (AE-02/AE-08/Donny)***