Ikatan Purnabakti Pikiran Rakyat (IPPR) Merayakan HUT ke 16

4681.jpg

Ikatan Purnabakti Pikiran Rakyat (IPPR)
Ketua Ikatan Purnabakti Pikiran Rakyat (IPPR), H.Sudaryo memberikan potongan tumpeng kepada salah seorang pemilik PT. Pikiran Rakyat yang juga pembina IPPR pada acara hari jadi IPPR yang ke 16 di Aula Kantor Pikiran Rakyat Jl. Asia Afrika 77 Bandung, Minggu (31/3/19). Foto Didin Sjafruddin
Bandung (PRINFO) - 16 tahun perjalanan suatu organisasi Ikatan Purnabakti Pikiran Rakyat (IPPR) yang baru menginjak awal dewasa ( 3 Maret 2003 hingga 3 Maret 2019). Pada hari Minggu (31/3/19) diadakan acara untuk memperingati berdirinya IPPR ini dilaksanakan di Aula Pikiran Rakyat Jln.Asia Afrika 77 Bandung, Selama ini kegiatan IPPR yang dilakukan dalam bentuk sosial ( meninjau kel yang sakit, melayat yang meninggal, rekreasi bersama, silaturahmi internal dan insidentil dalam bentuk eksternal). 
 
Salah seorang Pendiri IPPR, Tatang RS, menyampaikan Selayang pandang keberadaan IPPR, berawal dari sering kumpulnya wartawan senior setelah bertugas sebagian reporter, mereka tidak ada kerjaan selama mereka usai bertugas, pada waktu itu koperasi Pikiran Rakyat bertempat di Sadakeling di lantai 2, selama berbulan-bulan, 6 orang wartawan Senior (pendiri), selalu ketemu dengan pakaian rapih seperti waktu bertugas, mereka diantaranya, Tatang RS, Hikmat Husnan, Abdul Salam, Johan Amihardja, Nugraha Widjajasomantri dan Harry Kartabrata.
 
Mereka mengusulkan suatu perkumpulan dengan berbagai usulan. Ada yang menyampaikan forum komunikasi, Ikatan Pensiunan PR, Ikatan Purnabakti dan lain lain. Beberapa usulan tersebut, akhirnya disepakati untuk disampaikan kepada Pemimpin Umum PR, Atang Ruswita, pada 3 Maret 2003.
 
Mereka sepakat untuk menetapkan perkumpulan, akhirnya 3 nama forum komunikasi, Paguyuban, dan IPPR di usulkan, pada waktu itu diadakan rapat yang di hadiri sekitar 50 orang, alhamdulillah akhirnya disepakati, IPPR, (Ikatan Pensiunan Pikiran Rakyat), secara aklamasi sudah disepakati, disampaikan kepada Pemimpin Umum.Atang Ruswita.
 
Selanjutnya kegiatan 6 orang wartawan senior tersebut mendapat tempat untuk kegiatan IPPR di Kliningan, mereka merasa ada jiwa sebagai jurnalis tumbuh kembali, mereka menempati mess Kliningan untuk aktifitasnya yang bisa dipakai atas izin Pemimpin umum "PR".Atang Ruswita, sementara Tatang merasa bahwa para Pensiunan merasa seperti menemukan kembali pekerjaan yang selama ini biasa dilakukan .
 
Dalam perjalanannya, ketua membentuk dan mengesahkan aturan dan AD/ART organisasi IPPR, dengan mengadakan aktifitas kegiatan internal ke daerah Jogjakarta, selanjutnya aktifitas membuat majalah internal.
 
IPPR mengadakan rapat kerja periode pertama di Ciwidey, kemudian Periode kedua rapat pengurus pleno menyempurnakan AD/ART dipimpin Us tiarsa, Otang Fharyana untuk memperbaiki aturan aturan secara hukum untuk keberadaan legal formalnya.
 
 
Tatang RS menambahkan bahwa keberadaan IPPR perjalanannya mengalir seperti Air, kegiatan IPPR terus berjalan menapaki aktifitasnya, mengadakan perjalanan ke Bromo, kemudian mendengar Alex Achlis sakit, pengurus mengajukan permohonan kepada direksi PR untuk menengok ke Alex Achlish sambil perjalanan jurnalistik untuk menunjukkan hubungan baik internal sehingga terjalin baik, ini membuktikan walaupun hubungan sudah putus tetapi dalam hubungan emosional masih tetap berjalan baik, secara kekeluargaan dan secara batiniah.
 
"Dengan kehadiran Direktur Bisnis Januar P.Ruswita (Yepi) pada acara 16 tahun hari jadinya IPPR ini menunjukkan hubungan ini masih berjalan baik. Semoga IPPR, ini merupakan organisasi yang diakui PR, selama IPPR ada kita masih tetap bersama, demikian selayang pandang dari salah Seorang pendiri", ujar Tatang RS.
 
Salah seorang istri pendiri Purnabakti Alm H. Abdul Salam, Hj Yelly Salam mengatakan bahwa, "Purnabakti bukan barati tidak berkarya, tetapi tetap kita bisa berkarya dalam aktifitas yang membuat kita bisa berbuat sesuatu yang berguna untuk sesama", ujar Hj Yelly 
 
Sementara Direktur Bisnis, H.Januar P.Ruswita, dalam sambutannya mengatakan bahwa dengan adanya pertemuan silaturahmi ini tentu merupakan pertemuan yang memang luar biasa, bahwa keberadaan PR bisa berlangsung sampai sekarang ini adalah berkat upaya dan kinerja para pensiunan yang merayakan ulang tahunnya yang ke 16.
 
Januar P.Ruswita (Yepi) menyampaikan, Sekarang ini, zamannya four point zero, menyampaikan" era pembenaran bukan kebenaran" Jadi harus hati hati dalam menyampaikan informasi, artinya orang berkumpul menyampaikan sesuatu kalau sudah menyatakan benar teman2 lain akhirnya membenarkan padahal belum tentu apa yang disampaikan informasi itu benar.
 
Selain itu era sekarang orang sudah Multi Service, artinya seseorang ingin menjadi yang di inginkan, misalnya salah seorang dari pimpinan kita pengen jadi bupati, sekarang bisa dilakukan dengan cara konsultasi datang ke PR, kemudian di setting dalam 6 bulan diprogram agar bisa menjadi bupati, dan itu bisa dilakukan, Itulah multi layanan yang harus dilakukan oleh perusahaan media sekarang. 
 
Yepi sangat merespon catatan perjalanan dan keberhasilan para pensiunan IPPR, ini menjadi bahan untuk dibuat sebagai bahan perjalanan Pikiran Rakyat. Keberadaan IPPR ditetapkan sebagaimana mestinya dengan ditempatkan sebagai perjalan sejarah PR, 
 
Apa yang dikerjakan Uen Djuaeni sebagai mubalig, Udung Noer Rosyad, Otang Fharyana, Didin Sjafruddin sebagai Dosen yang aktif di berbagai organisasi dan P.Uus Tiarsa direktur salah satu TV Swata di Bandung dan yang lain sebagainya yang dikerjakan, ini adalah contoh yang bisa di informasikan kepada anggota IPPR, dan kepada PR
 
"Soal ruangan untuk IPPR memang kesulitan baik untuk IPPR maupun IKPR, Sadakeing masih mau dicoba u dibenahi, insya Allah kedepan keadaan IPPR dan IKPR bisa mendapat ruangan yang representatif", ujar Yepi. (DIN)*