Indonesia Mampu Berdikari Dalam Teknologi Kesehatan

Bandung, (PR INFO) - Pandemi Covid-19 yang menerpa dunia, seharusnya mendorong Indonesia untuk berdikari dalam pengadaan teknologi kesehatan. Kemampuan untuk menciptakan sendiri teknologi kesehatan telah dibuktikan dengan keberhasilan Dr. Syarif Hidayat dkk. mengembangkan Ventilator Indonesia (Vent-I). Demikian salah satu poin penting yang mengemuka dalam acara “Bincang Ramadhan” yang diadakan Panitia Pelaksana Program Ramadhan dan Iduladha (P3RI) Masjid Salman ITB, yang diisi oleh M. Ridwan Kamil (Gubernur Jawa Barat) dan Dr. Ir. Syarif Hidayat, MT (Penggagas Vent-I). Sesi Bincang Ramadhan bertema “Berdikari Teknologi di Tengah Pandemi” tersebut  berlangsung secara online, Selasa (12/05) pukul 15.30-17.30 WIB. 

Acara Bincang Ramadhan tersebut disiarkan langsung dari Masjid Salman ITB melalui Kanal Youtube Salman TV, Live FB Salman ITB, dan siaran Radio Online Salman. Acara ini terselenggara atas kerja sama Wakaf Salman ITB dan Rumah Amal Salman. Tidak lupa kontribusi media partner yaitu, Pikiran Rakyat, Ikatan Alumni ITB, dan Salam Ganesha.

Dalam kesempatan tersebut Kang Emil, demikian Gubernur Jabar tersebut kerap disapa, menyampaikan sejumlah hikmah wabah Covid-19. “Pola kesehatan kita yang semula tidak higienis menjadi lebih baik,” ujarnya. Lebih jauh ia menambahkan, wabah ini menyadarkan kita betapa tidak memadainya kesiapan teknologi kesehatan kita saat ini. Oleh karena itu, menurut Emil, sekarang mungkin saatnya Indonesia bergeser pada industri teknologi kesehatan.

Darurat kesehatan yang meluluhlantakkan seluruh aspek kehidupan ini, menurut Emil, seharusnya mendorong anak-anak bangsa berpikir untuk mengembangkan sendiri teknologi kesehatan bangsa. Keberhasilan pembuatan ventilator dengan biaya murah oleh Dr. Syarif Hidayat dan tim menjadi sebuah momen sejarah kemandirian teknologi kesehatan. Pemerintah, khususnya pemerintah pusat pun, menurut Emil, perlu mengubah pola pikir untuk mempersiapkan instrumen investasi dan regulasi yang diperlukan demi lahirnya tatanan baru di bidang teknologi kesehatan.

Ketergantungan akan teknologi kesehatan luar negeri ini pula yang menurut Syarif menggugahnya menciptakan Ventilator Indonesia (Vent-I). “Alat-alat kesehatan yang kita beli dari luar negeri bernilai 10 kali lipat dari harga jual di negeri asal. Inilah yang menguatkan saya untuk masuk ke dalam upaya memerangi Covid-19,” tutur Syarif. “Lewat Vent-I, saya juga mencoba menggugah kesadaran kita bersama, bahwa selama ini kita terlena,” ucap Syarif.

Teknologi Lahir dari Kerendahan Hati

Teknologi menurut Syarif selalu lahir dari kerendahan hati, baik terhadap gejala alam, menyadari keterbelakangan bangsa, dan memahami kebutuhan masyarakat penggunanya. “Kita selalu merasa ‘kaya’ sehingga terbiasa untuk membeli namun tidak pernah membuat. Kita kurang rendah hati untuk merasa miskin walaupun kenyataannya kita saat ini benar-benar miskin,” tegas Syarif. Untuk menyelesaikan prototipe Vent-I ini, hampir dua bulan Syarif meninggalkan pekerjaan dan keluarganya, agar tidak ada kekhawatiran penularan Covid-19 kepada istri, anak, dan cucunya. Menurut dia, rasa takut tertular tentu saja ada. Namun ia memilih menghadapi rasa takut itu karena merasa harus menyumbangkan sesuatu di bidang keahliannya bagi para tenaga kesehatan yang berada di garda terdepan menghadapi wabah.   

Syarif memulai Vent-I dari nol, menggunakan banyak benda sederhana di sekitarnya, seperti waterpass tukang bangunan dan botol, untuk menggantikan berbagai fungsi komponen ventilator yang sulit didapat. Dia meminta izin menggunakan tempat dan dana Masjid Salman ITB untuk membuat prototipe Vent-I. Untuk mempercepat pengembangan alat ini, rekan-rekannya mengusulkan diadakan crowd funding yang ternyata disambut antusias masyarakat, sesuatu yang membuat Syarif terharu.

Crowd funding Vent-I yang difasilitasi Rumah Amal Salman sejak awal April lalu, telah menghimpun dana sekitar Rp 8 miliar. Tidak hanya itu, Syarif dan tim juga dibantu masukan dari tim dokter FK Unpad dan berbagai pihak lain yang ikut menyempurnakan ventilator ini. Setelah melalui serangkaian proses dan uji kelayakan, terciptalah Vent-I. Sampai saat ini target ventilator yang akan dibuat oleh tim adalah sebanyak 600 buah.

Vent-I atau ventilator pertama made in Indonesia adalah alat bantu pernapasan kategori CPAP (continuous positive air pressure) hasil pengembangan ITB, Unpad, serta Masjid Salman ITB untuk penanganan pasien Covid-19. Ventilator ini sangat dibutuhkan bagi pasien Covid-19 yang belum sampai pada tahap kritis (belum perlu masuk ICU). Untuk memperoleh bantuan alat Vent-I, rumah sakit atau fasilitas kesehatan dapat mengakses website Vent-I yang beralamat di https://vent-i.org/. (corcomm/PR)