Jambore Nasional MTB Federal Indonesia

Karena Federal Punya Kharisma

”We recycle, rebuild and conserve...”

 

Sepeda merek Federal buatan PT Federal Cycle Mustika sudah lama tak diproduksi lagi. Produsen Federal yang merupakan anak perusahaan PT Astra Honda itu terpaksa tutup pada 1996 akibat tuduhan praktik dumping oleh Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE). Namun, legenda sepeda Federal sebagai sepeda gunung pertama buatan anak bangsa tak akan pernah mati. Setidaknya itulah yang terlihat selama dua hari pelaksanaan Jambore Nasional MTB Federal Indonesia di Yogyakarta, Jumat-Sabtu (16-17/11) lalu.

 

Seratusan loyalis sepeda Federal datang dari berbagai penjuru tanah air. Selain tuan rumah Yogyakarta, para peserta datang dari Bandung, Jakarta, Surabaya, Semarang, Kediri, dan kota lainnya. Mereka datang dengan caranya masing-masing. Hampir setengahnya datang dengan cara menggowes dari kotanya masing-masing  menuju kota gudeg. Tak terkecuali, pada federalist (sebutan loyalis sepeda Federal) dari Bandung yang mendominasi peserta jambore perdana itu.

 

Jambore ini merupakan pestanya para federalist dengan berbagai kegiatan yang mengasyikkan. Meski hanya dua hari, namun jadwal yang disusun panitia sangat padat. Setelah acara pembukaan yang berlangsung sangat cair, para peserta jambore langsung disuguhi pemandangan kota Yogyakarta dalam acara reli wisata yang dibagi dalam beberapa grup. Hujan deras yang mengguyur kota Yogyakarta tak menyurutkan para peserta jambore untuk berburu lokasi-lokasi wisata yang telah ditentukan panitia.

 

Acara informal  antarpeserta jambore juga digelar pada malam harinya seperti berbagi cerita selama perjalanan hingga cara mengidentifikasi sepeda Federal yang asli. Beberapa peserta bahkan langsung mempraktikkan cara identifikasi ini dengan ”berburu” sepeda Federal yang masih banyak dimiliki masyarakat Yogyakarta untuk diboyong ke kotanya masing-masing untuk direkondisi.

 

Acara puncak jambore ini berupa gowes bareng dari tempat pelaksanaan di Balai Latihan Pendidikan Teknik  (BLPT) Yogyakarta di Jalan Kyai Mojo menuju kompleks Candi Prambanan sejauh 20 kilometer. Para peserta dibawa menyusuri jalan-jalan alternatif yang memanjakan mata untuk menuju lokasi tersebut.

 

Menurut ketua penyelenggara Jambore Nasional MTB Federal Indonesia, Bagas Triaji, event jambore nasional ini pertama kali tercetus lewat grup Facebook MTB Federal yang kini beranggotakan ribuan orang. Selain mempererat tali silaturahmi antarsesama federalist di seluruh Indonesia, event ini juga merupakan upaya untuk memopulerkan sepeda sebagai sarana olah raga dan transportasi bebas polusi.

 

”Kita juga ingin menunjukkan bahwa Indonesia mampu menciptakan produk sepeda yang tangguh dan melegenda di mata dan hati masyarakat,” kata Bagas.

 

Sepeda tangguh

Sepeda federal diciptakan sebagai sepeda gunung. Namun, karena kekuatan frame dan bentuknya yang simpel, maka Federal banyak dipilih sebagai sepeda untuk perjalanan jarak jauh. Itulah sebabnya Federal sangat identik dengan aktivitas bikepacking dan biketouring. Imej itu diperkuat oleh Bambang Hertadi Mas (Paimo) yang menjelajah dunia dengan menggunakan sepeda Federal tipe Mt. Everest.

 

”Sepeda Federal banyak dipilih karena harganya lebih murah, gampang dicari, dan memiliki frame yang kuat,” kata M. Firdaus dari Komunitas Bikepacker Indonesia. Menurut dia, untuk aktivitas bikepacking, tak diperlukan sepeda yang mahal karena akan sangat terlihat mencolok dan rawan dicuri selama perjalanan. Sepeda untuk perjalanan jarak jauh tak memerlukan spesifikasi khusus yang biasanya mahal, tapi lebih pada fungsi sepeda sebagai alat transportasi menuju lokasi tujuan.

 

Faktor ketangguhan ini pula yang melatarbelakangi perjalanan jauh para federalist untuk menuju lokasi jambore di Yogyakarta. Beberapa pesepeda dari Bandung bahkan menjajal sejumlah lokasi eksotik sebelum menuju Yogyakarta, salah satunya kawasan Gunung Dieng, pantai selatan Jawa Tengah dan Yogyakarta, serta Borobudur.

 

Jambore Nasional MTB Federal Indonesia ini merupakan ajang pembuktian bahwa Federal bukanlah sepeda gunung biasa, namun sepeda yang berkharisma dan melegenda....

 

( Deni Yudiawan/”PR”/ Billy )***