Kala Barang Jadul Kembali Unggul

ZAMAN boleh saja disebut modern. Akan tetapi, minat orang untuk menyukai barang-barang zaman dulu atau jadul -entah itu dalam arti antik, retro, atau vintage, tak pernah mati. Tak hanya orangtua, anak muda pun semakin ­menunjukkan geliat ­tersebut, seperti kutipan ”life is looking forward, unless it’s vintage!”
ENDEKATI pukul 17.00, sepasang muda-mudi beringsut masuk ke garasi yang terletak di bela­kang bangun­an Kineruku, Jalan Hegarmanah, Kota Bandung, Rabu (25/3/2015). Dengan semringah, tangan keduanya sibuk menggilir barang-barang tua yang ada di dekat mereka. Perhatian keduanya terpaku pada mesin tik Olivetti yang dibuat pada tahun 1982. ”Wow, keren! Pas buat properti pemotretan,” ucap seorang di antaranya.
Mereka sedang berada di toko barang jadul bernama Garasi Opa yang dimiliki pasangan Ariani Darmawan dan Budi Warsito. Sudah sejak lima tahun terakhir garasi belakang yang disulap menjadi toko barang jadul itu banyak kedatangan tamu. Calon pembelinya tak hanya berasal dari kalangan ”beruban”, tetapi juga anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dan kuliah.
Di dalam Garasi Opa berderet barang-barang jadul seperti piring dan gelas antik, bingkai kacamata, televisi NEC, mesin tik tua, radio kuno, jam antik, kotak-kotak tua, dan banyak lagi. Ada juga ke­reta bayi dari tahun 1800-an yang mengingatkan kita pada film ho­ror klasik.
Rani, sapaan Ariani, bercerita bahwa semakin banyak anak muda yang tertarik dengan barang jadul atau vintage. Fakta autentik yang mendasari kalimat tadi adalah jika menilik dari angka kunjungan ke tokonya. Belum lagi, tren yang terjadi secara global, yaitu gaya hidup vintage semakin dilihat sebagai sesuatu yang keren dan abadi.
”Arahnya memang lagi ke sana, buktinya banyak band-band yang mengusung tema itu seperti Naif dan White Shoes and The Couples Company, musik psychedelic juga naik lagi, bahkan Instagram aja look-nya kebanyakan vintage,” ucap Rani yang ikut diamini Budi.
Menurut Rani, hal tersebut terjadi karena manusia selalu punya kecenderungan untuk melihat ke belakang. Dampaknya, sesuatu yang bernuansa masa lalu semakin banyak diincar. ”Akan tetapi, bukan yang serba jadul loh ya. Barang-barang itu biasanya lebih dipakai sebagai elemen campuran atau perpaduan saja. Nanti kalau top to toe seluruhnya jadul, dikira mau manggung di mana lagi,” ujarnya diikuti tawa.
Meskipun perputaran barang jadul sering kali berjalan tertatih, tetapi pros­peknya cukup cerah terutama untuk aksesori yang sifatnya menghasilkan penampilan eklektik. Sebut saja jam tangan, bingkai kacamata, ikat pinggang, dan aksesori lain.
Selain faktor nostalgia, bagi Rani yang juga merupakan kolektor jam antik, hal tersebut juga didasari oleh beberapa hal lain. Misalnya, ada daya tarik lebih dari sisi desain dibandingkan dengan yang bersifat kekinian. Ada juga faktor pencitraan yang menghinggapi benak anak muda demi terlihat berbeda dengan yang lain.
Media sosial dan aneka gawai yang beredar juga memegang pe­ran­an penting. Rani menyebutkan, anak muda yang datang ke ga­ra­sinya tak jarang melakukan hunting barang jadul demi properti pemotretan. Ada yang untuk pemotretan profesional dan berkaitan dengan pekerjaan, ada pula yang hanya iseng-iseng berfoto lalu disebarluas­kan melalui Instagram.
Tidak jarang seseorang berburu barang jadul untuk kepentingan properti ruang atau bangunan. Biasanya, barang-barang itu akan menjadi suatu aksen cantik dalam kafe, barber shop, perpustakaan mini, atau ruang-ruang lain yang memiliki konsep unik.

Semakin diburu
Rani mulai tertarik mengo­leksi barang jadul sejak 2007. Ibu satu anak ini paling suka memburu jam tangan antik. ”Pada dasarnya memang suka jam tangan, lalu bosan dengan desain jam baru. Kalau melihat jam tua kan auranya berbeda. Warnanya yang semakin mengu­ning dan usang terlihat berkarakter. Kulitnya juga makin tua makin lentur, jadi makin bagus,” kata perempuan yang juga berkiprah sebagai sutradara dan seniman video ini.
Hal lain yang paling disukainya dari barang jadul adalah harganya yang cukup miring untuk kualitas yang didapatkan.
Selain itu, Rani merasakan adanya kepuasan tersendiri saat menemukan barang yang terkadang hanya ada satu-satu­nya atau tergolong barang relics. ”Rasanya gimana gitu ya, saat mendapat­kan satu barang yang sulit ditemukan di mana pun juga,” ujarnya.
Banyak pula yang berpendapat mendapatkan barang jadul lebih mengasyikkan karena kualitasnya jauh lebih baik daripada barang-barang sejenis yang dibuat pada masa kini.
Kolektor barang jadul lainnya di Bandung, Rully Ginting (42), menyatakan pendapat senada. Ada kecenderungan sebagian anak muda untuk mengumpulkan barang-barang yang berasal dari masa lalu. Rully yang juga memiliki toko di Pasar Barang Antik Cikapundung, Jalan Banceuy, mulai tertarik dengan barang jadul sejak dua tahun terakhir.
Menurut dia, semakin tua usia barang jadul justru akan bernilai lebih mahal. Itu sebabnya semakin banyak yang memburu. Dengan catatan, pemburunya mengetahui nilai historis di baliknya. ”Kalau tidak, ya paling cuma foto-foto saja dengan latar barang jadul. De­ngan adanya jejaring sosial seperti Instagram kan orang juga bisa lebih ekshibisionis ya, daripada bosan foto di mal, lebih keren foto di depan barang antik memang,” tutur warga Sarijadi ini.
Selain nilai historis, Rully juga mendapatkan nilai plus lain. Saat memiliki atau memandang barang jadul, ia seperti terseret pada ke­nangan masa lalu. Tak jarang, memori masa kecilnya pun bisa di­hadirkan kembali. ”Teman-teman saya juga banyak yang menyim­pan barang-barang peninggalan kakek neneknya dan itu terlihat keren,” ujarnya.
Hal serupa juga dirasakan Zulfan Lubis (51). Sejak sepuluh tahun terakhir, ia hobi mengoleksi aneka barang jadul, mulai dari lukisan lama, poster iklan jadul, radio kuno, aneka telefon putar berbunyi kring, kipas angin jadul, hingga raket tenis kayu. Ada lebih dari 200 barang jadul yang diboyongnya ke Festival Bandung Baheula, akhir pekan ini.
”Kalau punya barang yang susah didapat, rasanya bangga sekali. Jadi memang ada kepuasan tersendiri,” ujar pria yang bermukim di Bekasi, Jawa Barat.
Dia menyatakan, tren barang jadul semakin digemari anak muda sebagai bentuk realisasi gaya antiarus utama (antimainstream). ”Barang-barang baru kan bertebaran di mana-mana. Nah, begitu ketemu barang jadul, suasananya jadi cozy aja, ademnya beda, lebih nyaman dilihat,” ucapnya.

Romantika masa lalu
Ada banyak istilah untuk menunjukkan sesuatu yang bernuansa jadul. Ada yang menyebutnya dengan antik, retro, atau yang paling sering disebut anak muda masa kini, vintage. Kata vintage berasal dari bahasa Prancis, vendage. Kata tersebut digunakan untuk merujuk pada proses pembuatan wine dari buah anggur yang memerlukan waktu penyimpanan panjang untuk mendapatkan kualitas baik.
Namun, seiring berjalannya waktu, makna kata tersebut bergeser menjadi makna yang dimengerti sekarang, sebagai sesuatu yang bergaya tua atau sesuatu yang memberi kesan lampau. Biasanya, benda atau gaya disebut vintage jika berusia antara 20 hingga 100 tahun. Sementara barang antik adalah benda seni yang berusia lebih dari 100 tahun. Antik berasal dari bahasa la­tin, yaitu antiquus yang berarti lama.
Sementara retro merupakan kependekan dari kata retrospective yang biasanya mengacu pada pakaian masa lalu. Menurut Longman Dictionary of Contemporary English, retro berarti ”delibera­tely using styles of fashion or design from design from the recent past”. Bisa dibilang, retro mengacu pada gaya baru tetapi dikemas dalam tren masa lalu.
Psikolog Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung Ifa Hanifah Misbach melihat fenomena tersebut selalu berkaitan de­ngan makna historis. Kecenderungan itu membuat seseorang ter­ikat terhadap konsep ruang dan waktu.
”Setiap barang jadul yang diburu, value-nya ada di makna historis, misalnya nilai sejarah di balik barang itu atau yang paling se­derhana, barang itu mengingatkannya pada barang yang pernah digunakan oleh kakek atau neneknya,” ucap Ifa.
Memandang atau memiliki barang jadul erat kaitannya dengan memelihara romantika masa lalu. Efeknya terka­dang menenang­kan dan bisa memberikan kepuasan tersen­diri. Bayangkan, memiliki ba­rang yang tidak dimiliki secara massal oleh orang lain atau karena tidak ada lagi di pasaran, bisa tumbuh menjadi perasaan yang menyenangkan. Apalagi, untuk seseorang yang memang memiliki jiwa kolektor.
Meskipun demikian, Ifa berpendapat bahwa banyak juga anak muda yang memburu barang jadul untuk membangun identitas minat atau menjadi penanda (marking) diri dengan orang lain. Alhasil, meskipun terkadang barang jadul tidak bisa di­sa­makan dari segi fungsi dengan barang kekinian, perburuan tetap dilakukan. ”Inti­nya, ada keterikatan dengan sejarah masa lalu yang masih ­ingin dipelihara di dalam pikiran,” katanya. (Endah Asih/­”PR”)*** Selengkapnya...