Kebiasaan ke Mal akan Berubah Pasca Covid-19 Peritel Harus Gunakan Strategi OMNI

Jakarta, (PR INFO) - MarkPlus, Inc. dan Jakarta Chief Marketing Officer (CMO) Club kembali menghadirkan MarkPlus Industry Roundtable, Selasa (9/6) 2020. Pada Roundtable kali ini industri ritel menjadi topik utama, sektor ritel terutama pusat-pusat perbelanjaan yang kental aktivitas jual beli secara offline ikut terdampak pandemi Covid-19. Terutama dengan kebijakan PSBB yang mengharuskan masyarakat tetap di rumah, sehingga pusat perbelanjaan atau mal sepi bahkan tutup.

"Sebenarnya mal sepi bukan karena PSBB. Sebelum itu pengunjung mal sudah berkurang, terutama ketika Covid-19 pertama ada di Indonesia. Masyarakat sudah waswas. Akhirnya mereka datang ke mal bukan jalan-jalan, tapi membeli kebutuhan primer seperlunya. Kebutuhan sekunder tidak dicari lagi," ungkap Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Stefanus Ridwan.

Pendapatan masyarakat juga menurun sehingga daya beli ikut menurun. Dan barang-barang yang kian dicari bukan lagi pakaian, tetapi barang kesehatan seperti suplemen dan vitamin penjaga daya tahan tubuh.

Menurut Ketua Umum Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI) Kany Soemantoro, yang mayoritas 60 persen anggotanya berkecimpung di bisnis suplemen merasakan peningkatan penjualan di awal masa Covid-19. "Sayang sekali Mei stagnan karena demand-nya tinggi, namun pasokan tersendat sehingga sulit memenuhi permintaan pelanggan," ucapnya.

Walau sekarang PSBB mulai memasuki transisi dan masyarakat sudah beraktivitas kembali, Stefanus tidak serta merta yakin mal akan langsung penuh. Selain keuangan masyarakat belum langsung membaik, rasa waswas masih terasa. Kalaupun ke mal, mereka diprediksi hanya seperlunya lalu secepatnya kembali ke rumah.

"Mungkin kondisi seperti ini akan berjalan setahun sampai satu setengah tahun. Di Cina pun pertumbuhan mulai dari sepuluh persen, lalu merangkak naik pelan-pelan," sambungnya.

Strategi OMNI

Perubahan kebiasaan konsumen juga dirasakan oleh pendukung pusat perbelanjaan seperti restoran. Boga Group yang mayoritas restorannya ada di mal menyatakan sebelum Covid-19 sekitar 92 persen bisnisnya dine-in.

"Namun sejak Maret pengunjung mal turun drastis sampai akhirnya ditutup. Sekarang sekitar 98 persen bisnis kami delivery, di mana dua persennya dine-in karena ada di kota-kota yang tidak menerapkan PSBB ketat seperti Samarinda dan Yogyakarta," ujar Direktur Boga Group Kusnadi Rahardja.

Akhirnya, Boga membuka 22 restoran khusus di luar mal khusus melayani delivery di Jakarta, Surabaya, Semarang, sampai Medan. Awalnya mereka menawarkan makanan ready to eat, kini frozen food menjadi salah satu produk utama.

Dengan bergesernya kebiasaan konsumen, Kusnadi memprediksi bahwa bisnis restoran mereka tidak akan seperti sebelum Covid-19. Walau konsumen rindu untuk makan di restoran, porsi delivery akan masih tetap tinggi.

"Saya prediksi 60 persen bisnis kami masih akan ada di dine-in pasca-Covid-19. Namun porsi delivery akan menjadi 40 persen karena sudah terbiasa ketika PSBB," sambungnya.

Menurut Founder and Chairman MarkPlus, Inc. Hermawan Kartajaya, walau masyarakat sudah terbiasa serba-online dan delivery, bukan berarti bisnis akan bergeser ke dunia maya.

Masyarakat akan tetap menginginkan pengalaman langsung secara offline. Namun di satu sisi pasti ada konsumen yang terbiasa layanan melalui online. "Ini strategi baru buat perusahaan-perusahaan. Menggabungkan offline dan online, atau OMNI. Digital transformation penting, tapi human experience tidak kalah penting," tutupnya. (corcomm/PR)