Kebiasaan Menanam Tumbuhkan Kecintaan Lingkungan

INILAH hasil kebun kita,” ungkap Anwar Fadlil Abdullah, siswa 8A SMP Laboratorium Percontohan UPI, dengan sumringah, saat menunjukkan tanaman terung ungu yang tengah berbuah di kebun sekolahnya. Saat mengikuti Bandung Urban Farming Goes to School (BUGS) yang berakhir pada Juli kemarin, Fadlil mengaku sangat senang.

“Mama saya seorang guru biologi, jadi dari dulu memang sudah senang dengan tanaman. Tapi ketika saya ikut BUGS, saya lebih banyak dapat ilmu baru, bisa bertanya banyak kepada kakak pembimbing. Saya termotivasi untuk menanam dan ingin punya komunitas pecinta lingkungan,” papar Fadlil. Bahkan ketika ditanya soal cita-citanya, Fadlil menjawab, “Ingin menjadi guru pendidikan lingkungan hidup.”

Fadlil mengatakan baru tahu jika boks kertas bekas ayam bisa dimanfaatkan untuk menanam. “Pertama boks kertas diberi tanah, lalu dicampur pupuk dan diberi bibit selada. Kemudian ditutup rapat menggunakan hekter serta diisolatip agar benar-benar tertutup rapat. Diamkan dan tunggu hingga satu minggu, selada pun dapat tumbuh dengan cepat. Hasilnya bagus dan bisa dimakan,” tambah Fadlil mengisahkan ilmu barunya yang didapat di BUGS.

Tak jauh berbeda dengan Fadlil yang memang sudah memiliki kecintaan terhadap lingkungan karena sudah dibiasakan di rumah, Khansa Naila T.P.K pun mengaku sangat senang karena di BUGS ia tahu cara membuat pupuk cair. “Gunakan botol bekas kemudian isikan air bekas cucian beras masukan sampah organik, seperti sayuran yang dicacah, kemudian diberikan gula merah ditutup rapat hingga seminggu, kemudian dicampur air dan dimanfaatkan untuk menyuburkan tumbuhan,” kata Khansa menuturkan ilmu barunya yang didapat di BUGS.

Perbaiki lingkungan

Fadlil yang berkeinginan suatu hari nanti bisa memiliki perkebunan, menuturkan ikut BUGS karena ia memiliki kesadaran akan pentingnya lingkungan yang bersih dan sehat. “Kegiatan BUGS seperti kemarin misalnya praktek menanam itu sangat penting, manfaatnya akan dibutuhkan di masa mendatang. Kita harus bisa memperbaiki lingkungan sehingga anak cucu kita mendapatkan lingkungan yang sehat dan hijau. Dengan menanam banyak, maka oksigen pun akan banyak. Saya juga kelak ingin membuat pupuk organik sehingga makanan yang dimakan menjadi lebih sehat, lingkungan juga menjadi lebih baik. Selain itu, buangan asap kendaraan juga harus dikurangi, misalnya dengan memanfaatkan kendaraan yang ramah lingkungan menggunakan listrik atau energi matahari,” tuturnya. Sementara itu Khansa menyatakan hal serupa, “Menanam bisa membantu lingkungan menjadi lebih hijau dan udara pun menjadi segar.”

Baik Khansa ataupun Fadlil keduanya memiliki kendala saat praktek menghijaukan lingkungan. Namun kendala itu dijadikan pengalaman dan pembelajaran bagi mereka. “Saya sering lupa menyiram, sehingga tanaman menjadi kering,” kata Khansa. “Kalau saya, pernah tanaman stroberi saya terkena hama. Akhirnya gagal panen karena daunnya habis dimakan ulat,” timpal Fadlil.

Selain di sekolah, Khansa dan Fadlil mengaku menanam juga di rumah. Jika Fadlil menanam sayuran, Khansa memilih menanam buah-buahan di kebunnya, dan menanam tanaman hias di halaman rumahnya. “Saya sudah biasa menanam, membantu nenek,” tambah Khansa.

Minim sarana

Kecintaan siswa siswi SMP Lab School UPI terhadap lingkungan ini mendapat dukungan dari sekolah. “Siswa siswinya sudah semangat untuk menanam. Setelah mengikuti BUGS mereka meminta untuk dibuat komunitas pecinta lingkungan di sekolah,” kata Komala Martini, Guru Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) SMP Laboratorium Percontohan UPI. Namun dukungan ini tentunya tidak selalu berjalan mulus. Menurut Komala, dukungan yang diberikan pihak sekolah terpentok sarana dan biaya.

“Kami kan sekolah swasta sehingga sedikit kesulitan untuk urusan sarana dan biaya. Waktu itu pak Dada Rosada (Walikota Bandung) saat menetapkan mata pelajaran PLH mengatakan boleh menanam dari hulu hingga hilir. Nah, kami dari dulu menunggu-nunggu kapan mendapat bagian untuk menanam dan dimana wilayahnya,” tutur Komala.

Saran untuk BUGS

Terkait BUGS, Fadlil menyarakan agar materi BUGS disesuaikan dengan tingkatan pendidikan mereka di sekolah. Sehingga untuk pelatihan siswa SMA/SMK tidak disamakan dengan SMP. Sedangkan Khansa menuturkan bahwa materi yang disampaikan terkadang terlalu cepat sehingga sulit di mengerti. Namun meski demikian keduanya mengaku senang dan pasti akan aktif kembali jika BUGS kembali diadakan. (AE-03/AE-08/ Donny amantino Manap)***

CSR