Lukisan Tanpa Bingkai

(PRINFO), Buku ini merupakan novel karya Ugi Agustono yang berkisah tentang Neji dan Lola, dua anak muda dengan jenis karakter sering bertolak belakang, namun masing-masing adalah pribadi yang unik. Neji lulus SMA dengan mulus dan cemerlang, sedangkan Lola harus menerima kegagalan, tidak lulus. Pertemuan keduanya yang tak sengaja di Labuan Bajo, memaksa Neji dan Lola harus saling mengenal melalui perjalanan menuju Loh Liang, Pulau Komodo, Rinca Village, dan Pink Beach. Kehadiran Don Bosco yang putus sekolah dan teman-temannya dalam perjalanan, menyadarkan Neji dan Lola tentang persahabatan, kasih sayang, dan kesederhanaan hidup. Berdua menjadi mengerti tentang keindahan alam, budaya, serta kekayaan Indonesia. Semuanya berubah pilu saat mengetahui ibu Don Bosco meninggal.

Labuan Bajo telah menantang emosi Neji dan Lola sebagai anak muda untuk mengenal lebih jauh tentang tanah airnya. Dari Manggarai Barat, Neji dan Lola bersama dua sahabatnya, menyisir pedalaman Wae Rebo, serta kepulauan Raja Ampat, Sorong, Waisai, Teluk Kabui, Teluk Mayalibit, Manta Point, Kampung Arborek, dan Wayag. Mengarungi perjalanan jauh dan tak mudah, berinteraksi dengan kehidupan masyarakat dan anak-anak pedalaman Indonesia, berbagi serta saling belajar hal sederhana di pulau terpencil. Dialog-dialog tajam dan kritis tentang penguasa negara mengalir apa adanya, berpadu cantik dengan keluguan anak-anak pedalaman yang selalu mengundang tawa dan duka. Saatnya Neji harus pamit, meninggalkan Lola. Mampukah kekuatan cinta mereka berdua menahan Neji untuk tetap tinggal? Dan apa yang terjadi pada Bu Indah, ibu Lola kemudian?

Disajikan dengan kisah yang menarik berlatar keindahan alam dan pendidikan anak-anak di Indonesia Timur, melalui novel ini penulis sekaligus memperlihatkan perhatian yang tinggi terhadap keberlangsungan pendidikan di Indonesia Timur. Dimana fasilitas kurang menunjang terhadap semangat tinggi anak-anak Indonesia Timur terhadap pendidikan. Hal yang berbanding terbalik dengan mereka yang menikmati pendidikan di ibukota, fasilitas banyak, tapi semangat belajar kadang lemah. (Nia K. Suryanegara. Pusat Data dan Riset)