MAKAM BOSSCHA

KAREL Albert Rudolf Bosscha, ilmuwan yang lahir di Te Sgravenhage, Den Haag, Belanda, 15 Mei 1865, meninggal dunia di Malabar, Pangalengan, Kabupaten Bandung pada 26 November 1928. KAR Bosscha paling dikenal lewat karyanya yang monumental, yaitu Observatorium Bosscha, tempat peneropongan bintang yang dibangunnya bersama Dr J Voute. Mereka sempat pergi ke Jerman saat membeli teleskop Refraktor Ganda Zeiss dan teleskop Refraktor Bamberg untuk observatorium itu.

Bosscha juga berjasa dalam pembangunan Technische Hogeschool, kini Institut Teknologi Bandung, dengan laboratorium fisikanya, menjadi dewan kurator hingga menjelang wafatnya. Ia juga membangun Nederland Indische Jaarbeurs, saat ini Gedung Kologdam, Societiet Concordia atau sekarang Gedung Merdeka tempat penyelenggaraan Konferensi Asia-Asfrika, perusahaan telefon untuk Bandung dan Priangan atau Telefon Maatschappij Voor Bandung and Preanger, dan lain-lain.

Bosscha meninggal dunia beberapa saat setelah dianugerahi gelar sebagai Warga Utama Kota Bandung di dalam sebuah upacara kebesaran yang dilakukan oleh Gemente Kota Bandung. Sejarah mencatat KAR Bosscha meninggal akibat terserang tetanus atau lockjaw. Namun, cerita mengenai bagaimana infeksi kuman tersebut bisa menghinggapinya, tidak banyak yang dapat menjelaskan.

Bosscha datang ke Indonesia atau dulu Hindia-Belanda pada usia 22 tahun. M ulanya, dia membantu pekerjaaan di perkebunan teh milik sang paman, Edward Julius Kerkhoven, di Sukabumi. Kemudian, Bosscha diangkat menjadi Administratur Perkebunan Teh Malabar pada Agustus 1896 dan mencapai perkembangan pesat di bawah kepemimpinannya selama 32 tahun. Dia mendirikan dua pabrik teh dan membuat perkebunannya menjadi perkebunan maju sehingga digelari ” Raja Teh Priangan”. Setiap pukul 9.00, Bosscha sering duduk berjemur di kursi sebelah timur yang kini menjadi makamnya. Bosscha sering juga memberi makanan pada binatang di areal hutan setempat.

Berdasarkan Besluit van den Gouverneur-Generaal pada 7 Juli 1927, No 27 Staatsblad 99, lokasi tersebut ditetapkan sebagai cagar alam. Makam Bosscha berbentuk bangunan lingkaran dengan delapan pilar penyangga atap. Bangunan makam memiliki kemiripan dengan Observatorium Bosscha Lembang. Diameter m akam dua meter dengan tinggi pilar sekira tiga meter. Hal itu sesuai dengan permintaan Bosscha, yang ingin dimakamkan di hutan kecil tersebut. Makam Bosscha terawat cukup baik. Makam berarsitektur Eropa dengan cungkup atau kubah lebih mirip topi demang atau topi kadatuan. Dulu, Bosscha selalu menggunakan topi demang saat mengontrol perkebunan di atas puncak Gunung N ini. Makam didominasi warna putih yang kontras dengan hijaunya perkebunan teh di sekitarnya.

Di antara tulisan pada tugu makam Bosscha tertulis, ”Seorang brilian yang memiliki dedikasi, integrasi, serta kepribadian yang kuat. Datang ke Indonesiap ada tahun 1887, berhasil mengelola dan mengembangkan Perkebunan Teh M alabar-Pangalengan.” (E Saepuloh/Periset ”PR”) Epaper