Manfaatkan Pot untuk Menanam di Lantai

DAPAT ilmu baru sudah pasti, karena banyak hal baru yang diinformasikan dalam Bandung Urban Farming Goes to School (BUGS). Hal ini pula yang disampaikan Michael David Martua Sitompul dan Agatha Michelle Fridatharia Sihombing, siswa XI A-2 SMAK Yahya Bandung ketika ditanyai soal pengalamannya mengikuti BUGS yang berakhir pada Juli lalu.

Diakui Michael dan Michelle, menanam sebenarnya bukan hal yang baru karena di sekolahpun telah ada mata pelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH), namun sebagian yang ditanam biasanya tanaman hias. Akan tetapi untuk farm-nya seperti menanam sayuran atau membuat pupuk organik merupakan pengalaman baru.

“Peuyeum kok bisa dijadikan pupuk. Awalnya agak aneh, tapi ternyata benar. Pupuk dari Peuyeum dibuat dengan menggunakan air ditambah gula kemudian dicampur peuyeum atau nasi. Kemudian didiamkan dalam jangka waktu tertentu. Setelah itu air peuyeum tersebut disiramkan ke sampah organik, untuk kemudian diolah menjadi pupuk organik. Tapi yang saya buat waktu itu dari nasi dan gagal,” ungkap Michael sambil tersenyum.

Berbeda dengan Michael, pupuk organik yang dibuat Michelle yang menggunakan bahan Peuyeum berhasil dibuat. “Kalau tanamannya yang waktu itu ditanam ada sosin, kangkung, cabe, tomat. Ada yang berhasil adapula yang mati karena lupa disiram,” tutur Michelle. Namun hal ini diakui dia sebagai pengalaman untuk menanam berikutnya agar lebih rajin disiram.

Baik Michael ataupun Michelle mengaku sementara ini belum mempraktekan ilmu yang didapatnya di BUGS di rumah. “Kalau mempraktekkannya kembali seperti buat pupuk atau nanam sayuran belum. Tapi di rumah saya suka membantu orang tua menanam buah-buahan di pinggir-pinggir halaman,” kata Michael. Sedangkan Michelle sering membantu ibunya menanam tanaman hias. Meski belum secara penuh mempraktekkannya, namun keduanya menyatakan menyadari pentingnya lingkungan bagi kelangsungan ekosistem di dunia ini.

Di SMAK Yahya sendiri meskipun memiliki keterbatasan lahan, namun tak menyebabkan surutnya kegiatan menanam tanaman. Banyak pot dari drum dan lainnya yang dimanfaatkan dengan ditanami berbagai macam tumbuhan yang sengaja disimpan di ruang terbuka khusus di lantai 5. Adapula ruang khusus pembuatan kompos yang merupakan hasil kerja siswa siswa SMAK Yahya.

Menurut Kepala Sekolah SMAK Yahya, Lannie dan Guru Tetap SMAK Yahya, Yoyo Martin yang didampingi TU Adm. IPA, Rudy Hartono, sementara ini sekolah memang lebih dominan untuk menanam tanaman hias untuk penghijauan dan keindahan. Pemanfaatan tanaman produktif seperti buah-buahan atau sayuran hanya dilakukan saat praktek IPA.

Yoyo mengatakan setiap siswa mendapatkan mata pelajaran PLH dan diwajibkan untuk menanam setiap dua atau tiga siswa satu pot. Kegiatan pengomposan juga dilakukan oleh siswa siswi. “Sementara ini sebagian besar tanaman memang masih menanam tanaman hias. Adapula pernah menanam cabe, tomat, namun belum dominan. Mungkin kedepannya bisa dilakukan menanan tumbuhan produktif,” ungkap Yoyo.

Terkait kegiatan BUGS, Yoyo menyarankan agar diberitahukan kepada sekolah dengan jangka waktu yang lebih lama. “Kemarin acaranya mendadak, sebaiknya kalau mau diadakan lagi disampaikan ke pihak sekolah tidak mendadak,” katanya. Lebih lanjut, Rudy menyatakan selain waktu yang mendadak, penghubung/fasilitator yang melakukan pembimbingan ke siswa/siswi sekolah untuk mempraktekan kegiatan menanam tidak terlalu sering berkunjung sehingga terkadang kebingungan harus diapakan lagi tanaman ini. “Kedepannya mungkin agar lebih intensif,” tutup Rudy. (AE-03/AE-08/ Donny Amantino Manap)***