Media Konvensional Makin Dicari di Masa Covid-19

Jakarta, (PR INFO) - Keberadaan media menjadi sangat penting di era Covid-19 karena dengan masyarakat yang lebih banyak diam di rumah, konsumsi konten media sudah pasti meningkat. Selain itu, peningkatan ini juga terjadi karena masyarakat aktif mencari informasi dan update perkembangan Covid-19.

Hal tersebut menjadi pembahasan utama dari “MarkPlus Industry Roundtable” sektor broadcast dan media, yang digelar virtual via Zoom, Jumat (5/6/2020). Selain itu, pada kesempatan ini terungkap bahwa media konvensional kembali memegang peranan penting di era Covid-19.

"Masyarakat akan mencari klarifikasi dan kebenaran berita terkait Covid-19 lewat media konvensional. Karena jika belum terkonfirmasi oleh media konvensional, orang belum percaya," ujar Founder and Chairman MarkPlus, Inc. Hermawan Kartajaya dalam acara bertajuk “MarkPlus Industry Roundtable Broadcast, Pay TV & Media Industry Perspective”.

Hal tersebut diamini oleh Dirjen Penyelenggaraan Pos dan Informatika Kominfo Ahmad Ramli. Terutama televisi, di masa pandemi ini menjadi platform paling dipercaya oleh masyarakat terkait informasi paling update.

"Televisi sangat dipercaya karena tidak hoaks. Siaran-siarannya diawasi oleh komisi penyiaran. Tidak seperti konten-konten di media lain," ucapnya.

Namun di tengah pentingnya televisi bagi masyarakat, distribusi teknologinya masih tertinggal dibandingkan dengan negara-negara lain yang sudah mulai masuk era televisi digital. Pasalnya UU Penyiaran sampai kini belum juga disahkan sehingga mayoritas televisi di Indonesia teknologinya masih analog.

Ahmad membandingkan secara global yang 90 persen sudah televisi digital. Pentingnya konten secara digital karena ada faktor penghematan secara operasional, serta tentu faktor kualitas. Tidak heran kemudian konsumsi media masyarakat mulai beralih ke digital, terutama di era pandemi.

Terutama konten digital melalui platform mobile atau smartphone. "Pengguna SIM card di Indonesia sekitar 300 juta. Dengan jumlah populasi sekitar 270 juta, artinya satu orang bisa memiliki dua nomor. Tidak heran walau kecepatan rata-rata internet ada di kisaran 10 sampai 13 Mbps, konsumsi online shop bisa mencapai 400 persen," sambung Ahmad.

Sementara itu, Head of Communication, Hi-Tech, and Media Industry MarkPlus Inc. Rhesa Prabowo memaparkan, jika sebelumnya media sosial menjadi platform idola bagi masyarakat, di masa pandemi ini penggunaannya menurun dari 82.7% menjadi 79%. Peningkatan konsumsi media justru terjadi pada penggunaan Pay TV dari 22.7% menjadi 26.4% dan free online streaming dari 51.8% menjadi 56.4%.

“Jika tadinya akses platform berbayar cukup challenging sekarang masyarakat rela mengalokasikan budget mereka untuk membayar media berbayar seperti Netflix dan Pay TV,” papar Rhesa.

Perferensi masyarakat terhadap platform serta konten media selama pandemi ini juga cukup unik. Jika sebelum adanya pandemi tiga konten yang paling banyak dicari yaitu 42.7% terkait sports, 44.5% seputar kuliner dan travel, kini konten tersebut digeser oleh konten lifestyle sebesar 41.8%, 39.1% konten sosial, dan 37.3% konten finansial. Banyak dari mereka mencari informasi terkait bantuan sosial akibat Covid-19 yang dilakukan oleh pemerintah maupun sipil serta konten keuangan agar bisa memutar uang atau mendapatkan penghasilan tambahan, mengingat jumlah pekerja yang mengalami PHK di Indonesia cukup tinggi.

Berita Regional

CEO Group Media Kompas Gramedia Andy Budiman menyatakan bahwa platform-platform digital Kompas mengalami kenaikan selama pandemi. Seperti di Bulan April 2020 dibandingkan dengan April 2019, kenaikan traffic-nya naik 134 persen.

"Kita bisa menyentuh pageviews sampai dua miliar. Artinya ada sebanyak itu halaman digital dibuka oleh pembaca kami," ungkap Andy.

Pun begitu dengan IndiHome yang mengalami kenaikan cukup signifikan traffic terutama penonton series dan film. Hanya, dengan penurunan bisnis di banyak sektor, pengiklan juga tinggal menyisakan sektor yang masih dicari masyarakat di era pandemi.

"Pemain di sektor F&B, kesehatan, sampai e-commerce masih beriklan. Namun sektor lain yang terdampak, menahan iklan-iklan mereka," ujar EGM Divisi TV Video Telkom AA Gede Mayun Wirayuda.

Selain penambahan traffic, ada juga pergeseran pembaca platform digital Kompas yang awalnya didominasi pria, kini malah didominasi perempuan. Di masa Covid-19 ini pembaca platform digital mereka mencapai 60 sampai 70 persen.

Selain itu di saat kanal mengenai pemberitaan Covid-19 mulai menurun perlahan, pemberitaan-pemberitaan daerah justru meningkat. "Buat kami di media pemberitaan daerah harus dipertahankan bahkan ditingkatkan baik sekarang maupun sesudah Covid-19. Masyarakat daerah pasti lebih tertarik update Covid-19 di daerahnya daripada di daerah lain," tutupnya. (corcomm/PR)