Mengenal sosok Boris Syaifullah: Best for the World (Menjadi yang Terbaik untuk Dunia

Bandung, (PR INFO) - Rencana besar Boris Syaifullah membangun SMK Borsya Telekomunikasi, merupakan upaya mulia dan amaliahnya untuk menghadirkan pendidikan yang berbasis pada kemerdekaan dalam belajar yang terdiri dari spesialis big data, spesialis artificial intelligence (AI) dari Sumbawa untuk dunia.

Mengamati Boris Syaifullah yang akrab disapa Borsya, tidak cukup waktu hanya beberapa tahun. Sempat gagal karena vote saat pemilihan ketua Kadin Jawa Barat kurang sehingga tidak terpilih, tidak membuatnya menyerah untuk berbakti sehingga mencoba peruntungan pada pencalonan Ketua Umum Apnatel Jawa Barat, hingga akhirnya terpilih atas suara mutlak di babak akhir.

Borsya memang pengusaha papan menengah, karena memulai kariernya sebagai pekerja di Industri telekomunikasi Korea. Jabatannya pun tidak tanggung setelah kembalinya dari Korea yakni dipercaya menjadi mitra utama dalam hal industri telekomunikasi Indonesia yang bekerja sama Kadin Korea Bandung. Sekarang Kadin Korea Bandung juga ia nakhodai.

Tentu kepercayaan Kadin Korea kepada Borsya sesungguhnya bukanlah mudah, tentu ada proses kepercayaan yang didalami sebelum memilih Borsya sebagai mitranya. Keterpilihan Borsya merupakan value (nilai) yang sudah tercatat dalam jejak perjalanannya. Jelas, penilaian kepercayaan itu subjektif karena Borsya dinilai sangat jujur, kapabel, dan konsisten pada bidang yang dikuasainya.

Saat ini, Borsya berencana mendirikan sebuah sekolah atau kampus perguruan tinggi telekomunikasi yang dinamakan "SMK Borsya Telekomunikasi". Lokasi yang dipilihnya adalah Sumbawa. Tentu ini rasa syukur yang mendalam dan harus didukung semua pihak. Karena Borsya ini merupakan aset besar Tau Tana Samawa yang memiliki komitmen kuat membangun Sumbawa ke depannya.

Tentu, Borsya sebagai founding father SMK Borsya Telekomunikasi itu sudah membaca arah masa depan yang segera dijemput. Bagi Borsya pemikirannya melampaui kaum muda yang lainnya. Karena Borsya sesungguhnya sudah melihat dan mengamati dunia saat ini tengah dihadapkan dengan disrupsi pekerjaan di beberapa lini industri, termasuk sektor unggulan.

Borsya mampu meneropong peradaban masa kini dimulai dari Sumbawa untuk dunia. Karena, Borsya telah mengidentifikasi ada kebutuhan mendasar atas penguasaan keterampilan baru di Sumbawa yang menjadi keniscayaan bagi perusahaan Borsya Group itu sendiri.

Atas cakupan pemikiran Borsya melihat dunia itu, maka mencoba membangun infrastruktur peradaban melalui sektor pendidikan dengan tujuannya agar ada keseimbangan antara output dan input yang dibutuhkan masyarakat Sumbawa.

Sebagai contoh, masyarakat Sumbawa harus berpindah mindset dari bercita-cita menjadi birokrat kepada praktisi dalam dunia teknologi. Dahulu, mungkin jenis pekerjaan seperti spesialis big data, spesialis artificial intelligence (AI), atau analisis data belum dibutuhkan perannya. Namun, sekarang Borsya melihat peluang yang ada sehingga berencana membangun "SMK Borsya Telekomunikasi".

Dengan demikian, Boris Syaifullah yang menakhkodai perusahaannya Borsya Group mengintip peluang itu dalam beberapa tahun terakhir hingga puluhan tahun ke depan, bahwa permintaan (demand) terhadap pekerja sektor ini diprediksi akan meroket dan peluang bisnis to bisnis sangat besar.

Selain itu, Boris Syaifullah dalam nurani dan nyali besarnya memiliki tugas dan fungsi membangun peradaban masyarakat Sumbawa. Karena menurut dia, generasi Sumbawa sudah semestinya mempunyai pengetahuan dan penguasaan softskill (kemampuan) yang bersifat afektif dan psikomotorik. Karena, sesungguhnya masyarakat Sumbawa paling tidak, harus memegang dua kemampuan peran yang sangat penting itu tadi.

Boris Syaifullah dianggap berkemampuan tinggi membaca situasi, seperti critical thinking, problem solving, communication, collaboration, dan creativity atau invention yang menurutnya justru sangat dibutuhkan dalam persaingan global dunia saat ini.

Sedikit melansir white paper yang diterbitkan oleh World Economic Forum (WEF) pada Januari 2020, dunia saat ini dibutuhkan metode Pendidikan 4.0 guna mendukung The Fourth Industrial Revolution. Pada white paper tersebut, disebutkan delapan karakteristik kritis dalam konten dan pengalaman pembelajaran untuk menerapkan pendidikan 4.0.

Meliputi kemampuan masyarakat global, kemampuan berinovasi dan berkreativitas, kemampuan teknologi, kemampuan interpersonal, dan pembelajaran yang telah dipersonalisasi sesuai karakteristik individu masing-masing (personalized and self-paced learning). Borsya sangat menyadari akan kemampuan generasi masyarakat Sumbawa di masa yang akan datang.

Ketika metode belajar merdeka yang ditetapkan di SMK Borsya Telekomunikasi nanti. Maka Boris Syaifullah adalah orang kesekian yang menguasai dunia. Karena, merdeka belajar merupakan suatu filsafat pembelajaran untuk menguasai dunia sekarang dan yang akan datang. Jelas, tidak akan bisa dengan metode pembelajaran seragam karena dapat menurunkan kualitas sumber daya manusia.

Boris Syaifullah bersama SMK Borsya Telekomunikasi harus mencoba suatu metode yang baru ini sehingga lebih kreatif, inovatif, dan kolaboratif. Dengan kemerdekaan belajar, akan tercipta ruang kelas yang parsitipatif sehingga guru dan murid dapat semakin baik melalui proses belajar mengajar mereka.

Apalagi, SMK Borsya Telekomunikasi nanti menggunakan merdeka belajar melalui metode STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics) menjadi salah satu kunci penting dunia pendidikan menghadapi era 4.0. Pasalnya, STEAM bisa mendorong pengembangan ilmu sains, teknologi, teknik, dan matematika semakin kreatif.

Kehebatan analisis kebutuhan seorang kaum muda seperti Boris Syaifullah ini bahwa sekolah-sekolah selama ini tanpa sikap praktik, maka belum lengkap persentase keberhasilannya. Jika ditambahkan "arts" bisa melihat lebih jauh untuk menyelesaikan masalah sehingga muncul akselerasi berpikir analitis dan kolaboratif.

Dengan demikian cita-cita menghasilkan anak bangsa yang berdaya saing tinggi dan berkualitas bukan lagi menjadi angan-angan belaka. Hal tersebut, sesuai prinsip yang dipegang teguh oleh Boris Syaifullah, yakni best for the world (menjadi yang terbaik untuk dunia). (adv)