Mengenang Lie Kim Hok

Didorong oleh rasa kagumnya pada sosok Lie Kimhok, Tio Ie Soei menulis biografi tokoh pujaannya itu pada tahun 1958 atau tepat pada hari lahir Lie Kimhok yang ke-105. Padahal, sosok pujaannya itu telah wafat 46 tahun sebelumnya. Kekaguman Tio Ie Soei pada Lie Kimhok tak lain karena jalan hidup dan perannya sebagai bapak Melayu-Tionghoa.

 

WARISAN utama bagi bangsa ini yaitu pendokumentasian berbagai peraturan dan cara menggunakan bahasa Melayu Rendah yang merupakan cikal bakal Bahasa Indonesia. Karyanya tersebut diberi judul Melayu Betawi: Kitab dari hal perkataan-perkataan Malayu hal memecah ujar-ujar Malayu dan hal pernaken tanda-tanda baca dan huruf-huruf besar (1884) serta Kitab Eja A.B.C . (1884).

 

Setelah lebih dari 50 tahun terkubur, Kitab Eja A.B.C. kembali diterbitkan pada tahun 2000 pada era keterbukaan di Indonesia dimulai. Meski begitu, satu-satunya referensi yang membahas biografi Lie Kimhok hanya buku yang ditulis Tio Ie Soei. Dalam pengantarnya di buku itu, Tio Ie Soei mengatakan bahwa pertanyaan tentang siapa Lie Kimhok itu menunjukkan betapa lebar, gelap, dan dalam jurang yang memisahkan masa perlintasan abad terakhir dengan waktu sekarang.

 

Lie Kimhok lahir dari seorang ibu bernama Oey Tjiok Nio sebagai anak pertama dari tujuh bersaudara. Ayahnya, Lie Hian Tjouw, berasal dari Bogor, tetapi bekerja sebagai tukang cat di Cianjur yang saat itu menjadi ibu kota Priangan (hingga tahun 1864). Karena di Cianjur tidak ada dukun beranak dan tidak ada sanak saudara, Oey Tjiok Nio melahirkan Lie Kimhok di Kampung Tengah, Bogor pada tahun 1853. Semasa kecil, Lie Kimhok belajar di sekolah Zending yang dipimpin oleh pendeta Coolsma dengan bahasa Sunda sebagai bahasa pengantar di sekolah pagi hari. Lalu, pada sekolah malam yang juga diselenggarakan Coolsma, Lie Kimhok belajar Bahasa Belanda. Setelah sekolah dikelola Van der Linden, bahasa Sunda digantikan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantarnya.

 

Berbekal pendidikannya itu, Lie Kimhok bekerja mengelola percetakan Drukkerij Lie Kimhok dan mencetak buku-buku, di antaranya Kitab Edja , Sobat Anak-anak , dan Orang Prampoe- wan . Ia juga aktif menulis di koran Siang Po dan Sin Po . Pada per- mulaan abad ke-20, tepatnya tahun 1900, Lie Kimhok memelopori berdirinya Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) pertama di Pulau Jawa. Ia bertugas sebagai penulis komisi pendirian dan merencanakan anggaran dasar organisasi pergerakan Tionghoa itu.

 

Pada 2 Mei 1912 siang hari, ia datang ke kantor harian Sin Po di Asemka dan ke kantor Perniagaan (Siang Po) di Pintu Besar, Jakarta Barat. Di sana, ia berdiskusi ten- tang wabah kolera yang saat itu tengah melanda Jakarta. Rekan- rekannya tak mengira diskusi tersebut akan menjadi perjumpaan terakhir dengan Lie Kimhok. Keesokan harinya ia sakit dada dan susah bernapas. Tiga hari kemudian, Lie Kimhok tutup usia di kediamannya, di Roa Malaka, Jakarta, dan dimakamkan di pemakaman Tionghoa Kota Bambu (Petamburan). Sebagai bentuk penghormatan, THHK mendirikan batu nisan untuknya. (Lina Nursanty/”PR”)*** Selengkapnya...