PLTA BENGKOK

SEBELUM teraliri listik, malam di Kota Bandung terbilang gelap gulita. Lentera minyak atau cempor yang dipasang warga kota di tepian jalan juga masih belum bisa membuat Bandung benderang.

Pada akhir abad ke-19, cempor mulai diganti dengan lampu gas. Gas tersebut didistribusikan dari pabrik di kawasan Kiaracondong. Kala itu, Stasiun Bandung merupakan kawasan pertama yang mendapatkan penerangan lampu gas. Namun, peran lampu gas tidak berlangsung lama. Pemerintah Kolonial Belanda mulai mengembangkan energi listrik yang bersumber dari tenaga air.

Pemanfaatan tenaga air untuk menghasilkan energi listrik di Bandung, dimulai pada 1906. Saat itu, pemerintah meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang bernama Waterkracht Werk Pakar aan de Tjikapoendoeng Nabji Dago. PLTA yang juga disebut PLTA Pakar itu memanfaatkan aliran air Sungai Cikapundung untuk menggerakkan turbinnya. Daya listrik yang dihasilkan sebesar 800 kW, didistribusikan ke masyarakat oleh Perusahaan Listrik Bandung (Bandungte Electriciteits Maastchaapij). PLTA Pakar dianggap sebagai pionir PLTA di Hindia Belanda dan juga cikal bakal berdirinya PLTA Bengkok Bandung.

Pada 1920, pemerintah lolonial dan beberapa perusahaan swasta mendirikan NV Maintz&Co. GEBEO, Perusahaan Listrik Umum Bandung dan Sekitarnya. NV Maintz&Co. GEBEO pun mengambil alih pengelolaan PLTA Pakar kemudian membongkarnya dan membangun PLTA yang lebih besar.

PLTA tersebut diberi nama Centrale Bengkok atau kini kerap disebut PLTA Bengkok. PLTA Bengkok mulai beroperasi 1923. Sejak itu, aliran listrik mulai merambah ke berbagai wilayah Bandung. Akan tetapi, tidak semua penduduk kota bisa menikmatinya. Ketersediaan listrik masih terbatas untuk kantor-kantor pemerintahan, jalan protokol seperti Braga, permukiman warga Eropa, serta rumah pembesar-pembesar di Bandung.

PLTA Bengkok memanfaatkan aliran air Sungai Cikapundung. Sebelum diolah menjadi listrik, air dari Cikapundung dibendung terlebih dahulu di kawasan Bantar Awi, Lembang. Air kemudian dialirkan melalui saluran berbahan beton berbentuk tapal kuda sepanjang 2.731 meter berdiameter 1.3 m dengan kapasitas 3.0 m³/detik. Saluran air tersebut juga kerap disebut pipa raksaksa oleh warga. Air yang dialirkan dari pipa lalu memutar turbin dan menggerakkan generator sehingga menghasilkan aliran listrik. Jika padamasa penjajahan Belanda, listrik yang dihasilkan PLTA Bengkok langsung didistribusikan ke penduduk, kini aliran listrik dikumpulkan di gardu induk sebelum bisa dinikmati konsumen.

Meskipun tidak lagi menjadi sumber energi listrik utama, PLTA Bengkok masih beroperasi hingga sekarang. Bangunan yang ada di sana masih asli. Di dalamnya juga terdapat mesin-mesin pabrikan 1922 seperti mesin pendingin Ceber-Stroco Henegelo dan generator Smit Slikkerveer. Walaupun usia semakin menua, peralatan yang dimiliki PLTA Bengkok dianggap masih layak beroperasi. Kendala yang kerap dihadapi justru terkait penyusutan debit air, pasokan air yang menurun, endapan lumpur, hingga masalah sampah. (Fitrah/Periset ”PR”/Epaper 01 Maret 2015)***