PT Kaltim Prima Coal Perusahaan Batu Bara Terbesar di Indonesia | KPC

5283.jpg

PT Kaltim Prima Coal benar-benar memperhatikan proses demi proses pertambangan yang dilakukan
PT Kaltim Prima Coal (KPC) meraih kembali penghargaan dalam bidang Corporate Social Responsibility (CSR). 10 penghargaan pada anugerah Indonesia Sustainable Development Goal’s Award (ISDA) tahun 2019, Jumat (6/9/2019), di Menara Bidakara, Jakarta. 10 penghargaan yang di raih adalah kontribusi dalam bidang tujuan pembangunan berkelanjutan dengan meraih dua platinum dan delapan gold. Dua platinum yang diraih KPC dari program penanggulangan anak balita kurang gizi dan gizi buruk serta pemanfaatan kolam tambang sebagai sumber air baku PDAM Kudungga untuk masyarakat Sangatta.

PT Kaltim Prima Coal (KPC) adalah salah satu perusahaan yang menghasilkan tambang batu bara terbesar di Indonesia. KPC bergerak di bidang pertambangan serta pemasaran batu bara yang dipasarkan untuk para pelanggan baik dari pasar ekspor maupun domestic.

Kaltim Prima Coal alamat pusatnya di Sangatta, Kabupaten Kutai Timur, Propinsi Kalimatan Timur. Tidak hanya itu, KPC juga memiliki kantor perwakilan yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia seperti di Jakarta, Samarinda, dan Balikpapan.

Menjadi salah satu perusahaan tambang batu bara terbesar di Indonesia, luas wilayah yang menjadi area pertambangan KPC saat ini memiliki luas lebih dari 90.938 hektare. Dengan begitu luasnya area pertambangan, KPC saat ini memiliki jumlah karyawan lebih dari 25.000 personil. Tidak heran jika hasil tambang batu bara KPC mencapai 50 juta ton dalam setiap tahunnya.

Untuk bisa terus menjaga perusahaan tambang batu bara ini mendapatkan kepercayaan dari pelanggan, KPC membangun area pelabuhan sendiri untuk langsung mengirimkan batu bara kepada para pelanggannya. KPC Sangatta juga memiliki pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berkapasitas 3x18 MW dan 2x5 MW untuk menunjang operasional pertambangan.

Pada setiap harinya, Kaltim Prima Coal mengirimkan batu bara kepada para pelanggan sekitar 170.000 ton. Pembeli dari dalam negeri masih mendominasi pembelian batu bara di KPC sebesar 28,5%. Lalu India 20,5%, China 15%, Jepang 9,5%, Filipina 5,6%, dan sisanya dari negara lain seperti Malaysia, Taiwan, Thailand, Korea, Italia, Brunei Darussalam, dan Pakistan.

PT Kaltim Prima Coal Perusahaan Taat Pajak.jpg

PT Kaltim Prima Coal Perusahaan Taat Bayar Pajak
Setelah meraih penghargaan sebagai perusahaan penyumbang Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) tertinggi akhir tahun 2018 lalu, PT Kaltim Prima Coal (KPC), kembali meraih penghargaan dalam bidang keuangan. Kali ini berupa penghargaan sebagai Perusahaan Taat Pajak yang diberikan oleh Kanwil Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Wajib Pajak Besar. Bersama dengan 30 wajib pajak lainnya, KPC menerima penghargaan langsung dari Menteri Keuangan RI Sri Mulyani, Rabu (13/3), di Jakarta. Penghargaan diterima oleh Komisaris KPC RA Sri Dharmayanti.

 

Tahun 2018, KPC menyumbang skitar 11% dari produksi batu bara nasional yang pada tahun lalu mencapai 528 juta ton. Total produksi batu bara KPC tahun lalu itu mencapai 58 juta ton dan akan terus ditingkatkan setiap tahunnya dengan mengejar target 60-62 juta ton.

Tidak hanya menyumbang produksi batu bara terbesar di Indonesia, KPC juga menjadi salah satu penyumbang pajak terbesar. Dimana pada tahun 2018 total pajak yang dibayarkan KPC kepada pemerintah hingga US$ 1,5 miliar. KPC memiliki sumber daya batu bara yang meilmpah diseluruh area pertambangannya. Tidak kurang dari 7.055 ton serta memiliki cadangan batu bara mencapai 1.178 miliar ton. Cadangan ini tersebar di dua wilayah yaitu 948 juta ton di Sangatta dan 230 juta ton di Bengalon.

 

pt kpc sangatta.jpg

pt kaltim prima coal CSR wawan setiawan
PT Kaltim Prima Coal (KPC) menyerahkan 13 paket program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM), atau yang dikenal dengan program corporate social responsibility (CSR). Paket program tersebut diserahkan dihadapan Bupati Kutai Timur dan jajaran pemerintah Kabupaten Kutai Timur, yang berlangsung di Bumi Pelatihan Percontohan dan Usaha Tani Konservasi (BPPUT).

PT Kaltim Prima Coal benar-benar memperhatikan proses demi proses pertambangan yang dilakukan, salah satunya ketika pengerukan batu bara selesai dilakukan. Area pertambangan yang sebelumnya dikeruk langsung kembali ditimbun oleh KPC dan diatasnya ditutup oleh tanah yang sebelumnya berada di lahan tersebut.

Bahkan KPC telah menyiapkan salah satu bekas area tambang sebagai tempat wisata, didalamnya terdapat danau yang mungkin orang tidak akan menyadari bahwa area tersebut bekas tambang batu bara. Area tersebut diberi nama Telaga Batu Arang yang masih belum dibuka untuk umum lantaran menunggu kepastian aturan untuk pengelolaan lahan bekas tambang.