Raih Kesuksesan Bersama CV Skin Solution Beauty Care

Bandung, (PR INFO) - Bisnis produk perawatan kulit tengah naik daun. Meski tengah diterpa pandemi, sektor bisnis ini masih bertahan dengan pelanggan loyal melalui transaksi online.
 
Ke depan pun situasi ini masih diprediksikan bagus. Tak heran, banyak pebisnis yang mengambil celah ini. Persaingan di lini industri skin care pun menjadi ketat, tetapi tak menyurutkan semangat Rizky Ananda Musa (38) untuk terus berkembang.
 
Direktur CV Skin Solution Beuty Care Indonesia ini tengah bersemangat membesarkan bisnis produksi kosmetiknya. Selain sebagai pemegang merek, ia membuka usaha produksi kosmetik dengan izin CPKB (Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik dan Benar) dari Badan POM dan Dinas Kesehatan.
 
Ibu dari empat anak ini mengisahkan awal mulanya membangun bisnis skin care yang sudah berjalan lima tahun tersebut. Sejak lama ia memang sudah tertarik dengan skin care dan produk kecantikan lainnya.
 
"Saya sampai belajar tata rias juga agar bisa dandan sendiri. Tapi setelah dijalani, kok lebih tertantang untuk menjual produknya ya. Sejak itu, saya bertahun-tahun menekuni bisnis marketing skin care dan kosmetik," katanya.
 
Bisnis Rizky melesat, penjualannya hebat. Pada satu titik, ia memikirkan kembali bisnisnya. Ia berkeinginan untuk lebih membesarkannya lagi. Sampai pada kesimpulan ia harus punya merek sendiri.
 
Bersama suaminya, Michael Simon, Rizky pelan-pelan membangun merek Skin Solutions. Selain membuka klinik, ia juga membuka pabrik rumahan untuk memproduksi skin care.
Di bawah CV Skin Solution, Rizky bisa memproduksi produk perawatan kulit dan kecantikan hingga kapasitas di bawah 10 ribu buah. Sudah lebih dari 70 merek skin care yang ia tangani di pabrik skala rumahan tersebut.
 
"Dengan buka pabrik, saya ingin membantu sesama di bisnis ini. Tidak hanya menjual produknya, tapi juga memproduksi skin care agar teman-teman bisa punya bisnis juga. Paling senang melihat perkembangan bisnis klien di ranah skincare ini. Ada yang modal awalnya minim, tapi setelah ditekuni sekarang omzetnya berkali-kali lipat," ujar perempuan kelahiran Garut, 3 Oktober 1981 itu.
 
Ia mengatakan, bisa jadi kliniknya itu adalah satu-satunya klinik kecantikan yang tidak menggunakan bahan obat-obatan di dalamnya, tapi herbal 100 persen. Keinginan membuat produk kecantikan herbal karena melihat masih banyak produk kosmetik abal-abal yang merugikan konsumen. Padahal, untuk kandungan bahan tertentu bisa didapat dari ekstraksi herbal dan unsur alami lain.
 
Misalnya, zat arbutin untuk mencerahkan, menurut Rizky, bisa juga diperoleh dari ekstraksi tanaman berry-berry-an. Lalu zat antiacne (jerawat) bisa dari centella.
 
"Saya ingin ikut alur yang benar. Misalnya dalam membuat produk, tidak ingin yang melenceng dari aturan Badan POM dan Dinkes. Juga saat membangun pabrik, saya ikuti alurnya dengan benar dan sebisa mungkin dikerjakan sendiri," kata Rizky.
 
Tahun 2020 menjadi penting bagi Rizky dan suaminya. Mereka segera membuka pabrik kosmetik berskala industri (besar) dengan kapasitas yang lebih banyak lagi.
 
"Mesin-mesin sudah masuk. Sempat terhambat karena pandemi, tapi sekarang pelan-pelan mulai jalan lagi. Mesin-mesin ini pakai teknologi Jepang dan Korea untuk memproduksi dalam skala besar," ujar Rizky.
 
Permintaan untuk produksi di pabriknya sudah mulai berdatangan termasuk dari negara tetangga. Rizky mengatakan ia ingin unggul untuk skala Asia. Mimpi yang sangat besar, tetapi ia percaya bisa mewujudkannya.
 
Rizky yang juga menjadi Wakil Ketua Perkosmi Jabar percaya jika industri kosmetik tanah air bisa berkembang pesat. "Saat ini, di Jabar ada 180 pabrik kosmetik yang tercatat. Artinya, persaingan semakin ketat, tetapi harus dianggap sebagai tantangan," tutup Rizky. (adv)