Sudahkah kita mengenal penyakit Glaukoma?

BANDUNG (PRINFO) “World glaucoma week”(Minggu Glaukoma Sedunia ) merupakan suatu kegiatan masyarakat di dunia dengan tujuan agar kita peduli terhadap glaukoma dan juga melakukan usaha penangulangan glaukoma.  Kegiatan ini diperingati diseluruh dunia setiap tahunnya dan untuk tahun ini dilaksanakan tgl 10-16 Maret 2013.
Glaukoma merupakan suatu kelainan atau penyakit syaraf mata yang progresif dengan tanda tanda hilangnya penglihatan secara perlahan lahan. Pada glaukoma, terjadi kerusakan syaraf mata yang fungsi utamanya adalah membawa informasi visual ke otak. Pada penderita glaukoma, akan terjadi penyempitan luas lapang pandang dan dapat berakhir dengan kebutaan apabila tidak ditangani dengan baik.
Sebagian besar glaukoma terjadi tanpa gejala atau tanpa disadari oleh penderita. Sebagian besar dari jenis glaukoma dapat mengakibatkan kerusakan penglihatan yang semakin progresif hingga menyebabkan kebutaan. Apabila hilangnya lapang pandang sudah terjadi maka tidak mungkin dapat diperbaiki lagi.  Oleh sebab itu glaukoma dimasukkan kedalam kelompok penyakit 'silent blinding desease' atau sering disebut sebagai ' si pencuri penglihatan'
Glaukoma merupakan penyebab kebutaan utama nomor 2 didunia termasuk di Indonesia. Diperkirakan 4,5 juta orang didunia menjadi buta akibat glaukoma dan angka ini akan menjadi 11,2 juta orang pada tahun 2020. Sehubungan dengan sifat penyakitnya yg progresif dan tanpa gejala,  hampir 50 % penderita dinegara maju, tidak mengetahui menderita glaukoma terutama pada kasus glaukoma dini. Angka ini dapat mencapai 90 % di negara sedang berkembang termasuk Indonesia.
Ada beberapa tipe / jenis Glaukoma. Salah satunya adalah glaukoma yang disebabkan oleh penyakit  mata  lainnya ( disebut glaukoma sekunder), akan tetapi mayoritas penyakit adalah glaukoma primer. Telah diketahui secara umum bahwa  pada  glaukoma biasanya disertai dengan tekanan bola mata yang tinggi sehingga tekanan bola mata yang tinggi ini dianggap merupakan suatu faktor risiko glaukoma. Meskipun demikian, ada juga penderita glaukoma yang mempunyai tekanan bola mata yang normal.
Faktor risiko  selain tekanan bola mata yang tinggi adalah ras, riwayat glaukoma di keluarga, usia dan riwayat mata minus yang besar.
Beberapa jenis glaukoma dapat terjadi saat lahir atau selama kehamilan (kongenital) dan masa kanak kanak ( Juvenilis), akan tetapi kebanyakan kasus terjadi setelah umur 40 tahun dan frekwensinya makin meningkat sesuai dengan bertambahnya usia.
Jenis glaukoma terbanyak adalah Glaukoma primer sudut terbuka (primary open angle glaucoma), banyak dijumpai pada penderita ras Kaukasus dan Afrika. Jenis yang lainnya adalah Glaukoma primer sudut tertutup (primary angle closure glaucoma) yang sering ditemui pada ras Asia. Glaukoma sudut tertutup ini kadang bersifat akut dengan tanda tanda mata yang sangat nyeri bahkan  disertai dengan penglihatan yang menurun mendadak.
Sampai saat ini tidak ada satupun obat yang dapat menyembuhkan glaukoma dan penglihatan yang hilang (buta) sifatnya menetap atau tidak dapat kembali normal seperti sebelumnya.
Pemberian terapi obat obatan maupun bedah termasuk laser, hanya dapat mencegah atau memperlambat kehilangan penglihatan. Oleh sebab itu, deteksi dini sangat penting dilakukan untuk membatasi  hilangnya penglihatan dan mencegah progresifitas glaukoma agar tidak menjadi buta. Sangat disarankan untuk melakukan pemeriksaan mata secara rutin agar kita tidak mengalami kehilangan penglihatan secara permanen akibat glaukoma.

Gambar ilustrasi tahapan kerusakan lapang pandang penderita glaukoma :

 

 

 

Data penulis :
DR .Dr.Andika Prahasta Gandasubrata, SpM(K), MKes
-    Kepala Sub Departemen Glaukoma FK Unpad / PMN RS Mata Cicendo Bandung
-    Kepala Departemen I Kesehatan Mata FK Unpad / PMN RS Mata Cicendo Bandung
-    Ketua Seminat Glaukoma Perdami (Persatuan dokter spesialis mata Indonesia)


(Donny/Nuq)***