100 tahun Mo­numen Lingga Sumedang

4741.JPG

Milang­kala  Saa­bad (100 tahun) Lingga
BUPATI Sumedang Dony Ahmad Munir menuruni tangga seusai secara simbolis mencuci Monumen Lingga pada Milangkala Saabad Lingga di Alun-alun Sumedang, Kamis (25/4/2019).*

SUMEDANG, (PR).- Menurut sejarah, Monumen Lingga yang kini menjadi ikon Kabupaten Sumedang diba­ngun tahun 1922 oleh Belanda. Monumen itu dibangun untuk mengenang jasa Bupati Sume­dang Pangeran Aria Soeriaatmadja atau Pangeran Mekah (1883-1919). ”Pangeran Mekah ber­hasil membangun Sume­dang. Membangun pendidikannya, pertanian, peternakan, pembinaan akhlak dan moral masyarakatnya,” kata Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir.

Dony Ahmad Munir menambahkan, Monumen Lingga menjadi sum­ber inspirasi dan motivasi bagi semua warga Sume­dang. ”Kita semua punya kewajiban meneruskan tapak lacak ka­ru­hun untuk kemajuan pemba­ngunan Sumedang di segala bi­dang demi me­nyejahterakan seluruh warga Sume­dang. Ting­katkan partisipasi aktif semua warga untuk membangun Kabupaten Sumedang yang tercinta ini,” katanya.

Dony pun mengaku terinspirasi dan termotivasi tulisan yang tertera di Monumen Lingga yaitu ”Kita sekalian bersa­ma-sama umatnya Tu­han, lagi seasal, dan seturunan. Ka­lau dipimpin oleh yang paling sempurna dengan hati suci dan bijaksana, aman, dan tentram keada­an negaranya”. ”Sangat menginspirasi saya dalam me­mimpin Sumedang,” ujarnya.

Pada ”Milang­kala Saa­bad (100 tahun) Lingga” di Alun-alun Sumedang, Kamis (25/4/2019). Pada puncak aca­ra, dilakukan prosesi mencuci Mo­numen Lingga dengan air doa.
Prosesi pencucian Lingga dilakukan para sesepuh dan to­koh Sumedang yang bertrah bangsawan atau keturunan pangeran. Ada juga masyarakat adat dan para tokoh budaya­wan Sumedang. Mereka menge­nakan pangsi hitam leng­kap dengan ikat kepala dan berbagai aksesori kesundaannya.

Sebelum prosesi mencuci Lingga, didahului pembacaan doa-doa dan tawasulan oleh para sesepuh, tokoh adat, serta budayawan. Prosesi doa di­leng­kapi sesajen dan pembakaran keme­nyan. Proses selanjutnya membuka ka­in putih yang menutupi monumen itu.

Setelah kain putih dibuka, barulah prosesi mencuci Lingga secara simbolis dimulai. Diawali dengan mencipratkan air kembang hanjuang yang sudah dibasahi air doa. Itu dilakukan dengan mengelilingi monumen Lingga secara bergantian. Pencucian Monumen Lingga yang berada di tengah-tengah Alun-Alun Sume­dang itu dipimpin Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir. (Adang Jukardi)***

Koran Pikiran Rakyat 26 April 2019 Halaman 10