Jejak Para Pejuang di Museum ­Benteng Vredeburg Solo

4742.JPG

museum benteng vredeburg solo
Benteng Vredeburg yang berbentuk persegi ini merupakan benteng pertahanan yang dibangun pada masa Belanda

Di negara kita, banyak ­ditemukan museum. Sampai saat ini masih ­menjadi salah satu tujuan wisata yang menarik untuk ­dikunjungi. Salah ­satunya adalah Museum ­Benteng Vredeburg yang ­terletak di Jalan Jenderal ­Ahmad Yani (Jalan Margo ­Mulyo) No 6 Yogyakarta. ­Berbagai hal tentang ke­sejarahan, ­kebudayaan, dan nilai-nilai luhur perjuangan, bisa kita pelajari di museum ini.

Sobat Percil, Benteng Vredeburg yang berbentuk persegi ini merupakan benteng pertahanan yang dibangun pada masa Belanda. Dulu, benteng ini merupakan pusat pemerintahan dan pertahanan residen Belanda yang dikelilingi parit. Pada keempat sudutnya memiliki menara pantau. Sejarah mencatat sejak awal berdirinya, benteng ini mengalami pergantian ­penguasaan dan fungsi.

Hari masih pagi ketika Percil be­r­kunjung ke Museum Benteng ­Vredeburg, beberapa waktu lalu. Kemegahan ­bangunan peninggalan Belanda ini sudah terlihat ketika Percil me­masuki pelataran parkirnya. Jembatan dan ­parit terlihat di bagian depan ­bangunan. Area tersebut terlihat bersih dan tertata ­dengan ­indah, ­maka tak ­heran banyak ­pengunjung mengambil foto di sana.

Mema­suki Benteng ­Vredeburg, ter­lihat dua ba­ngunan peng­apit di sisi selatan dan sisi utara. Terlihat pula taman yang asri, dua meriam, dan beberapa patung. ­Pada sejumlah bangunan terdapat ­empat ­diorama yang menggambarkan perjuang­an sebelum proklamasi kemerdekaan hingga masa Orde Baru. Di sana, kita ­juga bisa melihat koleksi ­benda-benda sejarah, foto-foto, dan ­lukisan yang menggambarkan perjuangan para ­pejuang di negara kita.

Pada salah satu ruang pameran ­diorama, Percil melihat replika Bandhil. Senjata Bandhil merupa­kan salah satu senjata yang digunakan para prajurit pengikut Pangeran Diponegoro dalam perjuangan melawan Belanda di ­Yogyakarta dan se­kitarnya pada tahun 1825-1830.

Percil juga melihat diorama misi pengeboman pertama penerbang ­Indonesia dan diorama ke­tika pasukan Jepang memasuki Kota Yogyakarta dari arah timur (Jalan Solo). Selain itu, ­Percil melihat diorama penurunan ­bendera Hinomaru dan ­pengibaran ­bendera Merah Putih di atap Gedung Cokan ­Kantai atau sekarang menjadi Gedung Agung. Itu baru sebagian kecil dari ­diorama yang Percil lihat, masih banyak lagi diorama lainnya Sobat ­Percil.

Saat Percil berada di sana, secara bergantian rombongan murid sekolah dari semua tingkatan ter­lihat memasuki Museum Benteng Vredeburg. Mereka datang dari Yogyakarta dan dari wilayah lainnya di Indonesia. Salah satunya ­berasal dari SD 2 ­Blunyahan, Sewon, Bantul, Daerah Istime­wa Yogyakarta.

Ibu Sumardi, guru di sekolah tersebut mengata­kan, mereka berkunjung ke ­Museum Benteng Vredeburg terkait ­dengan pelajaran sejarah. ”Peserta kegiatan ini adalah murid kelas IV dan V. Tujuan ke sini agar mereka cinta tanah air dan mengenal sejarah bangsa,” kata Bu Sumardi.

Percil juga bertemu dua pengunjung asal Bekasi, Jawa Barat. Mereka datang ke sana untuk melihat kemegahan benteng yang diba­ngun pemerintah Belanda pada tahun 1765 dan untuk mengetahui perjuangan para pahlawan kita. ”Sengaja datang ke sini karena saudara saya belum tahu museum ini,” ucap Kak Rani.

Nah sobat Percil, itu sebagian cerita saat Percil berkunjung ke Museum ­Benteng Vredeburg. Di sana kita bisa melihat diorama perjuangan para ­pejuang kita. Semoga bermanfaat. (Yeni ­Ratnadewi/”PR”)***

Koran Pikiran Rakyat 14 Aril 2019 Rubrik percil Halaman 12