Pendopo Kota Bandung

3568.JPG

Pendopo
Nugraha R/ PDR
BANGUNAN pertama yang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Bandung terletak di Jalan Dalem Kaum, kawasan Alun-Alun Bandung. Sejak awal berdiri pada tahun 1812 hingga kini, masyarakat menyebutnya Pendopo. Pada 26 Februari 2011, Pendopo Bandung mendapat penghargaan dari organisasi Bandung Heritage sebagai bangunan bersejarah yang terawat keasriannya.
 
Pembangunan Pendopo pada saat itu diprakarsai Bupati Bandung ke-6 Wiranatakusumah II yang bernama asli Raden Indrareja dan kerap dipanggil Dalem Kaum. Bupati yang dijuluki the founding father inilah yang langsung memilih lokasi pembangunan Pendopo. Ia membangun Pendopo tepat menghadap ke arah gunung keramat Tangkuban Perahu yang merupakan simbol kepercayaan sejarah masyarakat Sunda. Tak hanya itu, lokasi bangunan yang berada di sekitar masjid, pasar, dan alun-alun merupakan sentuhan tata ruang tradisional yang sengaja dipilih

Pendopo

Pendopo
Nugraha R / PDR
 
Pendopo semula dibangun menggunakan kayu, beratap ilalang dan ijuk. Di sekitarnya dibangun jalan kecil bertabur batu kerikil, dengan kikis (pagar bambu) di kiri kanannya yang disebut lulurung. Pembangunan Pendopo yang dimulai sejak tahun 1811 berakhir pada tahun 1812 dan menjadi gedung pemerintahan pertama yang berdiri di Bandung. Wiranatakusumah II sempat menanam pohon Beringin di halaman Pendopo yang juga rumah dinas Bupati kala itu.
 
Pada masa pemerintahan Bupati R.A.A. Wiranatakusumah IV (1846-1874) tahun 1850, bangunan Pendopo direnovasi. Dindingnya diganti dengan tembok bata dan beratap genteng. Tahun 1935, dibangun tempat tinggal walikota di belakang Pendopo yang merupakan hasil rancangan Presiden Soekarno. Beberapa bangunan tambahan seperti ruang tamu utama, ruang kerja, ruang gudang dalam, ruang tengah, kamar utama, dua kamar keluarga, ruang arab (ruang pertemuan) dan ruang keluarga, serta ruang untuk keluarga Bupati di bagian barat bangunan utama. Di awal tahun 1980-an, dibangun pagar tembok di sekeliling kompleks bangunan Pendopo untuk meningkatkan keamanan.
 
Pada masa pemerintahan Ateng Wahyudi (1983-1993) tahun 1993, Pendopo dipugar. Perubahan yang paling mencolok adalah atapnya diganti menjadi gaya tradisional nusantara yang tersusun tiga. Sejak masa pemerintahannya jugalah, bangunan ini resmi kembali menjadi tempat kediaman walikota Bandung seperti Wahyu Hamijaya (1993-1998), Aa Tarmana (1998-2003), dan Dada Rosada (2003-2008&2008-sekarang).

Pendopo

Pendopo
Nugraha R/ PDR
 
Kini, di masa pemerintahan Dada Rosada kompleks Pendopo banyak berubah. Salah satunya, kondisi fisik bangunan yang diarahkan kepada bangunan ramah lingkungan. Menurut H. Iya Sunarya selaku Pengelola Urusan Rumah Dinas Pemkot Bandung, di sekitar Pendopo ditanami pohon sebanyak 1.070 buah yang terdiri dari 107 jenis. Disamping itu juga, dibangun tujuh sumur resapan, satu sumur utama, dan bipori sebagai cadangan air saat musim kemarau. Dengan tanaman ini, kawasan tersebut menjadi hijau dan teduh. Kondisi ini membuat kawasan Pendopo menjadi sering dikunjungi oleh beberapa jenis burung diantaranya burung kutilang, burung perkutut, burung jalak suren, burung merpati, burung caladi, dan burung hantu.
 
Sementara di luar Pendopo, alun-alun dan pasar tradisional kini berubah menjadi pusat perbelanjaan dan pemukiman penduduk yang semakin padat dan ramai. Sebenarnya tak sulit menemukan Pendopo, jalan raya di depan Pendopo menjadi jalur akses yang selalu dilalui angkutan umum. Pendopo milik masyarakat Bandung, oleh karena itu pemerintah mengizinkan masyarakat untuk menggunakan bangunan ini guna menyelenggarakan berbagai acara. Tentu saja ini semakin meningkatkan keinginan masyarakat untuk ikut memanfaatkan keberadaan pendopo sebagai tempat melakukan berbagai kegiatan.***  (DOK PR/ dari berbagai sumber)
 
Alamat: 
Pendopo
Jl. Dalem Kaum No. 56, Balonggede
Bandung Jawa Barat
Indonesia
Daerah: