Grand Royal Panghegar

SEBELUM menjadi megah seperti sekarang, Hotel Grand Royal Panghegar merupakan empat bungalo sederhana bergaya art deco yang dibangun tahun 1922. Pemiliknya adalah Anna Marie Meister, perempuan yang berasal dari distrik Italia di Swiss. Bangunan tersebut diberi nama Pension van Hengel. Mulanya, Pension van Hengel, terdiri atas 40 kamar dalam bangunan terpisah, karena memang sengaja dirancang sebagai wisma, yakni fasilitas penginapan untuk jangka waktu panjang (long staying guest). Jadi kebanyakan tamu di sana adalah mereka yang menetap dengan biaya sewa bulanan.

Tahun 1956, Pension van Hengel mendapatkan status badan hukum Naamloze Vennootschap (NV) atau perseroan terbatas. Jumlah kamarnya juga bertambah menjadi 48. Kala itu, Pension van Hengel terkenal sebagai hotel yang memuaskan dalam service, kondisi ruangan, serta menu makanan dan minuman yang memenuhi selera tamu.

Meski didirikan oleh orang asing, tetapi kebesaran nama Panghegar tidak bisa dilepaskan dari seorang pribumi pekerja keras bernama HEK Ruhiyat. Berbekal kemahiran dia berbahasa Belanda, Ruhiat diterima kerja di Pension van Hengel pada 1943 sebagai penerima tamu. Akan tetapi masa pendudukan Jepang membuat pria kelahiran Sumedang itu harus berhenti bekerja dan ikut bergerilya di hutan pada masa perang kemerdekaan. Meski begitu, nasib membawa Ruhiat kembali ke Pension van Hengel. Bahkan pada 1957, ketika Meister berangkat cuti ke Belanda, Ruhiat diangkat menjadi manajer hotel.

Setahun kemudian, Meister kembali ke Bandung. Alih-alih kembali untuk mengurus hotel, perempuan yang menikah dengan pria Belanda itu justru kembali untuk menjual hotelnya. Dengan modal nekat, Ruhiat pun membeli hotel tersebut, bukan dengan tunai melainkan dicicil selama delapan tahun dan baru lunas pada 1968. Di bawah pengelolaannya, Pension van Hengel berkembang pesat dan sekarang menjadi hotel bertaraf internasional.

Ada yang menarik mengenai pergantian nama Van Hengel menjadi Panghegar. Tahun 1962, pemerintah melarang penggunaan nama asing. Ruhiyat pun sibuk mencari pengganti nama yang cocok. Rupanya pada zaman pendudukan Nipon, orang-orang Jepang melafalkan van Hengel dengan sebutan “pen-hegaru” karena kesulitan mereka mengucapkan “V” dan “L”. Atas dasar memori unik tersebut, Ruhiat lalu mengganti nama hotelnya menjadi Panghegar yang juga merupakan kata dalam bahasa sunda, “hegar” berarti terang, megah, bersih, dan sejuk.

Sayangnya, arsitektur art deco, serta kesederhanaan bangunan bekas Pension van Hengel sudah tidak bisa dinikmati lagi. Tahun 1970an, keempat bungalo tersebut dibongkar dan dibangun kembali hingga akhirnya menjadi hotel megah seperti sekarang ini. (Fitrah/PDR)

Alamat: 
Grand Royal Panghegar
Grand Royal Panghegar
Jln. Merdeka No. 2
40111 Bandung Jawa Barat
Phone: 0224232286
Fax Number: 0224231583
Indonesia
Daerah: