Kebun Binatang Bandung

 

SALAH SATU objek wisata yang selalu ramai dikunjungi pada liburan Idulfitri di Kota Bandung adalah Kebun Binatang. Selain dapat melihat aneka satwa yang mencapai 218 jenis, pengunjung juga dapat menikmati sejuknya hawa di tempat ini. Tak heran, itu karena Kebun Binatang Bandung juga memiliki koleksi tumbuh-tumbuhan yang tidak sedikit. Beraneka tumbuhan langka dapat dijumpai di sini, salah satunya pohon mahoni badak setinggi 40 meter yang tumbuh di lahan sekitar pintu masuk Kebun Binatang di Jalan Tamansari.

Sejarah Kebun Binatang atau yang dahulu sering disebut “derenten” memang lekat dengan taman botani, yang menghimpun aneka tanaman hias dan tumbuhan keras. Sebelum dimanfaatkan sebagai kebun bintang, pada 1923 taman ini diresmikan dengan nama Jubileumpark untuk memperingati hari perayaan Ratu Wilhelmina dari Belanda. Dahulu, suatu prasasti yang menandai perayaan ini diletakkan di bagian belakang taman. Namun sekarang, prasasti ini tak lagi diketahui. Baru pada tahun 1930, Jubileumpark berubah fungsi menjadi kebun binatang atas prakarasa Bandung Zoological Park (BZP) yang dipelopori oleh Hoogland, seorang direktur Bank DENIS. Kebun binatang kemudian mendapat pengesahan dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada 12 April 1933. Selama masa pendudukan Jepang dan revolusi, Kebun Binatang Bandung sempat terlantar, hingga kemudian direhabilitasi pada 1948. Pada 1956, BZP sebagai pengelola Kebun Binatang dibubarkan. Sebagai gantinya didirikan Yayasan Margasatwa Tamansari tahun 1957, atas inisiatif R. Ema Bratakoesoema.

Wajah Kebun Binatang dari masa ke masa senantiasa mengalami perubahan. Sejak 2009, pengelola Kebun Binatang Bandung giat berbenah dan melakukan perubahan di sana-sini. Kandang gajah berikut wahana gajah tunggang tak lagi berada dekat pinta masuk, tetapi dipindahkan ke bagian belakang. Sementara kandang lama berubah fungsi menjadi tempat pengunjung duduk dan bersantai. Demikian pula dengan kandang hewan buas, seperti singa, harimau dan macan tutul. Dahulu, kandang hewan-hewan buas ini berdampingan satu sama lain dan terletak di tengah-tengah taman, tak jauh dari kandang gajah. Untuk keamanan, dipasang jeruji besi sebagai pembatas antara hewan buas dengan pengunjung. Sekarang, hewan-hewan buas ini dibuatkan kandang yang terpisah antara jenis yang satu dan jenis yang lain. Lokasi kandang pun dipindahkan ke bagian kanan atas dari pintu masuk utama. Pada masing-masing kandang disediakan kolam untuk minum, area terbuka yang cukup luas untuk dijelajahi, dan ruangan tertutup yang menaungi hewan-hewan di kala hujan. Pembatas antara hewan buas dan pengunjung pun tak lagi berbentuk terali besi, melainkan kolam dan kaca tebal. Pembenahan kandang dimaksudkan agar mendekati habitat asli, sehingga satwa-satwa yang ada dapat merasa lebih nyaman meski dalam lingkungan fisik buatan. Selain mengurus satwa-satwa yang ada, pengelola Kebun Binatang juga berupaya menanam 50 pohon dalam jangka waktu satu bulan. Selama satu tahun, sedikitnya ada 600 pohon baru yang ditanam. Pohon yang ditanam dapat dimanfaatkan sebagai pakan hewan dan menunjang kehijauan serta kerindangan Tamansari atau Jubileumpark. Jika kerindangan ini terjaga, Kebun Binatang dapat terus menjadi “leuweung” atau hutan kecil di belantara Kota Bandung. (Dok PR)

 
Alamat: 
Kebun Binatang Bandung
Jln. Kebun Binatang No. 6, Taman Sari
40132 Bandung Jawa Barat
Phone: 0222507302
Indonesia

Kebun Binatang