Masjid Mungsolkanas

Masjid Mungsolkanas

NAMA Mungsolkanas untuk sebuah masjid terdengar unik. Sebagian orang mengira nama tersebut adalah nama jalan di sekitar Cihampelas. Nama unik ini merupakan pemberian Mama Aden alias R. Suradimadja alias Abdurohim. Menurut Mama Aden yang masih keluarga Lantenas, nama Mungsolkanas, merupakan singkatan dari “Mangga Urang Solawat ka Nabi SAW (mari kita solawat ke nabi SAW)”. Singkatan tersebut diambil dari filosofi doa di dalam kitab Tankibulkaul yang mengandung arti setiap orang yang membaca dan mengamalkan solawat Nabi SAW insya Allah doanya terkabul.

Pada zaman Belanda, Mama Aden kerap menulis di media massa Islam, misalnya di Al Muhtar. Di setiap artikel yang ditulisnya, Mama Ade selalu membubuhkan inisial TTM yang merupakan singkatan dari Tajug Tjihampelas Mungsolkanas.

Masjid yang berdiri pada 1869, awalnya hanya berupa tajug sederhana. Bentuk bangunannya berupa kobong dan panggungnya terbuat dari bilik. Dalam masyarakat Sunda, terutama di kalangan pesantren, kobong mengacu pada asrama atau tempat tinggal para santri yang sering disebut pondok pesantren.

IMG_0736.JPG

Masjid Mungsokalnas
Foto : Nugraha/PDR

Bangunan masjid ini didirikan di atas lahan yang diwakafkan oleh nenek Zakaria yang bernama Lantenas, seorang janda dari R. Suradipura, Camat Lengkong Sukabumi yang wafat pada 1869. Tanah yang dimiliki Lantenas saat itu terbilang sangat luas, yakni mulai dari Jalan Plesiran sampai Gandok (Jalan Siliwangi) Bandung. Lahan pemandian Cihampelas dan pabrik daging yang sekarang telah berubah menjadi pusat belanja Cihampelas Walk pun termasuk di dalam tanah milik Lantenas. Janda kaya ini wafat pada 1921, tepat pada usia 80 tahun.

Tajug yang sudah berdiri lebih dari 140 tahun itu pertama kali dipugar menjadi masjid pada tahun 1933, hampir bersamaan saat Wolf Schumaker memugar Masjid Kaum Cipaganti. Bedanya, Mungsolkanas dipugar atas biaya dan inisiatif Mama Aden, sedangkan Mesjid Kaum Cipaganti dibiayai oleh pemerintah kolonial Belanda. Menurut catatan salah satu pengurus pasca kemerdekaan, H. Zakaria Danamihardja, Masjid Cipaganti sendiri awalnya berupa tajug dan dibangun oleh Mohammad Tabri, yang juga leluhurnya. Saat Masjid Cipaganti dipugar oleh Schumaker, jamaah yang biasa solat di Cipaganti untuk sementara pindah tempat ke Mungsolkanas. Sementara itu, pemugaran besar-besaran terjadi pada tahun 1994.

IMG_0738.JPG

prasasti
Foto : Nugraha/PDR

Setelah Masjid Kaum Cipaganti selesai dibangun, Mama Aden yang saat itu menjadi imam dan khotib di Mungsolkanas, mengusulkan seorang ulama bernama Juanda kepada Bupati Bandung untuk memimpin Masjid Cipaganti. Usulan itu pun didengar Bupati Bandung. Setelah diuji dan dinyatakan lulus, Juanda menjadi imam Mesjid Kaum Cipaganti. Akan tetapi, tak berapa lama, dia dipindahkan menjadi imam Masjid Ujungberung, sampai wafatnya di tahun 1935. (Nugraha/PDR)***

Alamat: 
Masjid Mungsolkanas
Masjid Mungsolkanas
Jln. Cihampelas 61/35B RT 02/RW05, Kota Bandung 40131
Bandung Jawa Barat
Indonesia
Daerah: