Punclut

 

SEJAK dekade 90an, kawasan Punclut telah menjadi salah satu tempat kegemaran warga Bandung berolahraga. Udaranya yang segar menjadi magnet untuk warga datang ke sana. Setiap Sabtu dan Minggu di pagi hari, jalan selebar empat meter itu disesaki orang-orang yang gerak jalan, bersepeda, atau berlari. Ada juga pasar dadakan di tepian jalan. Jadilah Punclut pusat keramaian di dataran tinggi wilayah utara Bandung.

Nama Punclut diperkirakan kependekan dari puncak Ciumbuleuit utara. Letaknya memang berada di ujung Jalan Ciumbuleuit yang berjarak 7 km dari pusat kota. Topografinya berbukit dan berada pada ketinggian 850-1.000 m dpl. Tidak hanya dari Ciumbuleuit, Punclut juga dapat diakses dari wilayah Dago dan Lembang di Kabupaten Bandung Barat. Kini sebagian pengunjungya datang dari luar kota Bandung.

Selain tempat berolahraga, saat ini Punclut juga dikenal sebagai kawasan kuliner dan agrowisata. Potensi itu disadari ketika makin banyak orang yang berkunjung ke kawasan Punclut. Tahun 2001, jalan pun diperlebar dan diaspal untuk memudahkan akses masuknya kendaraan. Tiga tahun terakhir ini tempat makan juga semakin banyak bermunculan. Pada hari-hari biasa, pengunjung lebih senang makan di saung lesehan dan mengincar pemandangan Kota Bandung dari ketinggian. Terlihat juga pegunungan Malabar, Patuha, dan Waringin di bagian selatan. Sensasi memandangi kota pada malam hari, menikmati warna-warni lampunya juga bisa dilakukan di Punclut.

Pada zaman penjajahan Belanda, Punclut adalah kawasan erfpacht, yaitu lahan milik negara yang disewakan kepada pengusaha perkebunan. Kemudian pada 1961, melalui surat keputusan Menteri Agraria, pemerintah memberikan hak milik tanah bekas erfpacht tersebut kepada 948 pejuang kemerdekaan sebagai bentuk perhatian negara. Lahan yang semula akan dijadikan pemukiman itu justru dimanfaatkan warga sebagai tanah garapan pertanian, dikarenakan pemerintah tidak memiliki anggaran untuk membangun prasarana pendukung pembangunan perumahan.

Tahun 1982, Gubernur Jawa Barat Aang Kunaefi melalui surat keputusannya melarang pembangunan di kawasan Punclut karena merupakan wilayah inti Bandung raya bagian utara yang berfungsi sebagai daerah resapan air. Akhirnya pada 1997, Menteri Agraria kembali mengambil alih hak milik lahan Punclut. Tahun 2001, muncul rencana bahwa Punclut akan dijadikan area konservasi dan kawasan wisata terpadu yang tetap memertahankan potensi ekologisnya. Akan tetapi konsep pemanfaatan lahan itu mengundang kontroversi. Punclut sempat dikabarkan diburu pengembang untuk dibangun perumahan, hotel dan bangunan komersil lainnya. Melalui Perda Kota Bandung Nomor 2 tahun 2004 tentang tata ruang kota, sebenarnya Pemerintah Kota Bandung telah menetapkan Punclut sebagai kawasan hutan lindung. Namun setahun kemudian, pembangunan malah marak dilakukan. Kini udara Punclut tak sesejuk dulu. Jika menyusuri Punclut, yang ada di kiri kanan jalan bukan lagi hutan melainkan lahan terbuka atau deretan bangunan. Kondisi tersebut tentu tak mencerimnkan status Punclut sebagai paru-paru kota. (Fitrah/PDR)

 

Alamat: 
Bandung Utara
Bandung Utara
Jln. Bukit Raya
Bandung Jawa Barat
Indonesia
Daerah: