Architectural Conservation Award Bandung : Penghargaan Konservasi Bangunan Cagar Budaya

(PRINFO), Bandung merupakan salahsatu kota yang memiliki warisan budaya dan warisan alam yang cukup kaya. Dalam konteks arsitektur, kota Bandung dikenal sebagai kota yang memiliki banyak bangunan cagar budaya dengan berbagai langgam dari tradisional daerah, tradisional Barat, perpaduannya yang dikenal dengan langgam Art nouveau pada akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20. Sedangkan arsitektur modern telah berkembang sampai perang dunia ke 2. Saat ini atas usaha dan kerja keras Bandung heritage,sebuah lembaga independen yang bertugas memberi pertimbangan, usul , saran-saran kepada Pemerintah Daerah dalam mengambil kebijakan terhadap kelestarian dan pelestarian kawasan dan bangunan cagar budaya, Kota Bandung masih memiliki bangunan-bangunan kolonial yang masih berdiri, digunakan, dan cukup terawat.

Buku ini memuat informasi yang detail mengenai tiga puluh dua bangunan yang mendapatkan penghargaan sebagai bangunan cagar budaya. Bangunan tersebut mayoritas karya arsitektur terkemuka di zamannya, seperti Maclaine Pont, Wolff Schoemaker, Brinkman, Frederik Aalbers, J.W. Ijzerman, dan J. Gerber. Mereka berhasil menciptakan karya lingkungan budaya urban yang berkualitas sesuai perkembangan budaya di Bandung. Buku ini tersaji dalam dua bahasa yaitu bahasa Indonesia & bahasa Inggris terbagi dalam 5 bagian, bagian pertama berisi pembahasan mengenai Arsitektur periode Hindia Belanda, Art Noveou sebagai awal langgam arsitektur modern, Awal, perkembangan, dan akhir langgam Art Deco di kota Bandung. Bagian Dua membahas mengenai lokasi 32 Bangunan penghargaan menyuguhkan foto dan keterangan peta Tua Kota Bandung, Peta Rencana Perluasan Kawasan Kota Bandung Utara 1931, dan lokasi 32 Bangunan Dalam Enam Kawasan Bersejarah (kawasan Pusat Kota, Pecinan, Militer, Etnik Sunda, Villa, Industri). Di bagian tiga disajikan ulasan dari 32 bangunan cagar budaya penerima penghargaan yang merupakan karya arsitektur terkemuka di zamannya seperti Maclaine Pont, Wollf Schoemaker, Frederik Aalbers, dll yang penyajiannya dikelompokkan berdasarkan kawasan bersejarah. Bangunan tertua yang mendapat penghargaan adalah Vihara Setya Budhi (1865) dan yang termuda, Balai Pertemuan Bumi Sangkuriang (1957),. Bagian ke empat berisi tentang Pameran dan Acara Pemberian Penghargaan yang merupakan dokumentasi acara pemberian penghargaan yang berlangsung pada tanggal 26 Februai 2011 yang lalu di gedung bersejarah Indonesia Menggugat - Bandung. Dan terakhir di bagian ke lima yang berjudul Keindahan Masa Lalu yang Telah Hilang kita akan disuguhkan ulasan dan foto dari bangunan-bangunan cagar budaya yang terbengkalai dan bangunan yang hancur sebagian atau seluruhnya.

Disajikan dengan bahasa yang mudah difahami, juga dilengkapi dengan foto-foto, buku ini sangat menarik untuk disimak megingtakan akan keindahan eksotika kota bandung pada zamannya. (Nia K. Suryanegara. Pusat Data dan Riset)