Colenak Murdi. Sejak 1930

Traveling ke Bandung jangan lupa untuk mencicipi kuliner tradisional  khas Bandung, Colenak Murdi. Kuliner dari peuyeum (tape singkong) bakar dicampur dengan kinca gula kelapa dan enten (pasta kelapa parut dan gula merah). Paduan rasa peuyeum bakar dengan gurihnya adonan enten menghasilkan sensasi khas rasa harum manis.

  Peuyeum Bandung kamashur
  Pangaosna teu luhur
  Ku sadaya kagaleuh
  Sepuh jeung murangkalih….

Persis seperti bait syair lagu Peuyeum Bandung, colenak Murdi tetap mashur hingga kini sejak pertama kali diperkenalkan oleh Aki Murdi tahun 1930. Nama colenak sendiri diberikan oleh penggemar  dari kaum ningrat jaman dulu dengan bahasa sunda colenak kependekan dari dicoel-coel enak. Saat Konferensi Asia Afrika digelar di Bandung tahun 1955 colenak Murdi menjadi makanan yang disajikan saat itu. Memang colenak Murdi enak dinikmati kapan saja terutama disantap dengan menyeruput segelas teh pahit hangat dan cemilan kerupuk.

Pemilik Colenak Murdi generasi ke tiga Mahmud dan Betty Nuraety menjelaskan kunci kelezatan colenak Murdi ada pada kualitas tape. “Sejak dulu sampai sekarang kami hanya menggunakan tape dari Cimenyan. Tapenya bertekstur lembut tapi tidak lembek,” jelasnya.

Di kawasan Cicadas Bandung tepatnya di Jalan Jend Ahmad Yani No. 733 aki Murdi kala itu mengawali jualan colenak. Pada awalnya, aki Murdi hanya menyediakan satu macam colenak rasa original yang dikemas dengan bungkus daun pisang. Rasa original inilah yang menjadi ciri khas colenak Murdi. Saat ini di tangan generasi penerus, telah dikembangkan varian rasa durian dan rasa nangka. Nama Putra ditambahkan sehingga menjadi Colenak Murdi Putra.

Bagi para penikmatnya colenak Murdi selain dapat dibeli di tempat aslinya di kawasan Cicadas,  juga dapat dibeli dengan harga Rp. 8000/bungkus di beberapa supermarket di Bandung dalam kemasan pincuk kertas bermerek Colenak Murdi Putra yang lebih praktis dan cocok dijadikan oleh-oleh.

 

(Refi/PRINFO)