Berpetualang Ke Pulau Biawak, Indramayu

2911.JPG

Pulau Biawak
Foto: Medi AHN/PR Biasanya setiap menjelang matahari terbenam, puluhan biawak sepanjang 20cm hingga 1,5m akan terlihat di tepian pantai, mencari makan
KALA kami terbangun, matahari baru beranjak dari peraduannya. Seiring dengan subuh yang berganti jadi pagi, langit yang awalnya biru pekat perlahan berubah jadi merah terang. Mata yang semula tak mampu melihat apapun, mulai bisa mengamati keadaan sekitar. Sepanjang mata memandang hanya ada lautan biru  yang mengelilingi perahu. Ombaknya yang tenang menggoyangkan perahu ke kanan dan kiri, membuai penumpangnya dengan ritme yang konstan. Dari kejauhan satu lampu mercusuar seolah mengedipkan matanya pada kami, memancarkan cahaya dan mengajak sang nahkoda kapal untuk mengarahkan perahu pada dirinya.
 
Sementara kami masih terkesima dan terombang-ambing di tengah lautan, salah seorang anak buah kapal dengan sigap menyalakan kompor dan memanaskan air. Lima belas menit kemudian beberapa gelas kopi dan teh panas pun sudah terhidang di hadapan kami. Sembari menyesap kehangatan dari segelas teh panas, untuk melawan dinginnya angin laut, pulau yang menjadi tujuan kami terlihat di ujung mata. Setengah jam kemudian, kami pun menginjakkan kaki di salah satu pulau terluar di Pulau Jawa ini: Pulau Biawak
 

IMG_0056.JPG

Pulau Biawak
Foto: Medi AHN/PR Perjalanan ke Pulau Biawak dengan menyewa perahu nelayan. Butuh waktu setidaknya 4 jam dari muara menuju pulau.
.
Berlokasi 20-26 mil dari Kabupaten Indramayu, Pulau Biawak sendiri adalah salah satu tujuan wisata utama kabupaten yang terkenal dengan mangga gedong gincu-nya ini. Seperti namanya, pulau ini memang dipenuhi oleh hewan reptil tersebut. Terdapat ratusan bahkan ribuan, jika menurut penjaga mercusuar yang bertugas disana, biawak di pulau yang vegetasinya dipenuhi oleh pohon mangroove itu.
 
Untuk mencapai pulau ini, pengunjung bisa menggunakan dua cara, pertama adalah dengan menyewa perahu nelayan. Sementara yang kedua adalah dengan menggunakan speed boat yang dimiliki oleh Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Indramayu.
 
Pembeda keduanya terletak pada waktu tempuh dan kenyamanan. Jika menggunakan speed boat, maka hanya dibutuhkan waktu sekitar satu setengah jam untuk mencapai pulau. Selain itu, dengan moda transportasi yang ber-AC dan dilengkapi dengan mesin karaoke serta kamar kecil ini, tentu pengunjung akan merasa lebih nyaman.
 
Sementara itu, jika menggunakan perahu nelayan, maka dibutuhkan waktu kurang lebih 4 jam dari muara untuk mencapai pulau. Fasilitasnya pun tentu seadanya. Tercatat hanya ada satu perahu nelayan saja yang memiliki peralatan keselamatan seperti safety jacket. Kamar kecil, apalagi kursi seperti yang tersedia di speed boat, tentu tak ada. Jika tubuh lelah dan mata mengantuk, hanya ada semacam karpet yang terbuat dari karet yang bisa jadi alas tidur.
 
Dengan lamanya waktu tempuh ini, perjalanan dengan menggunakan perahu nelayan juga harus dimulai lebih awal. Pukul dua malam motor perahu sudah harus dinyalakan dan perjalanan dimulai. Ini dilakukan agar perahu sudah sampai di pulau saat matahari terbit.
 
Bagi yang tidak berencana menginap di pulau, berangkat di tengah malam buta ini memang jadi semacam keharusan. Pasalnya maksimal pukul 2 siang perahu harus sudah bergerak pulang untuk menghindari air pasang. Memulai perjalanan lebih siang –pukul 6 pagi misalnya- berarti hanya ada waktu beberapa jam saja untuk menikmati keindahan Pulau Biawak. Tentu ini berbeda jika pengunjung berencana untuk menginap disana.
    
Bagi Anda yang berjiwa petualang, opsi perahu nelayan sendiri mungkin terasa lebih menantang. Mempercayakan diri pada kemampuan nahkoda mengemudikan perahu, dengan hanya berbekal cahaya mercusuar sebagai pemandu, di tengah-tengah lautan, bisa jadi satu pengalaman spiritual tersendiri. Pun demikian dengan terlelap diantara bisingnya mesin motor perahu dan “buaian” ombak. Tentu akan terasa lebih seru dibandingkan dengan kenyamanan yang ditawarkan oleh speed boat.
 

IMG_0098.JPG

Pulau Biawak
Foto: Medi AHN/PR Sebelumnya Pulau ini bernama Pulau Rakit tetapi karena di pulau tersebut banyak dijumpai satwa biawak, jadilah Pemerintah Kabupaten Indramayu menamainya Pulau Biawak
Menaiki Mercusuar 65 Meter
Berupa atol, Pulau Biawak tak memiliki pantai pasir luas yang bisa digunakan untuk bermain. Area pantainya hanya berukuran sepanjang 100 meter, dengan bibir pantai selebar kurang lebih 5 meter. Begitu memasukkan kaki ke air, ketajaman beberapa batu karang sudah siap menyambut telapak kaki. Ya, pantai pulau ini memang tak cocok digunakan untuk bermain karena dipenuhi oleh batu karang.
 
Namun ini bukan berarti tak ada keasikan yang bisa ditemui di Pulau Biawak. Peralatan snorkling dan menyelam untuk maksimal 4 orang tersedia dan bisa disewa. Dermaga kecilnya pun bisa digunakan untuk memancing atau sekedar bersantai menyelonjorkan kaki. Duduk di dipan yang tersedia di pantai sembari melihat biawak yang berkeliaran mencari makan juga bisa jadi satu atraksi tersendiri. 
Selain aktivitas-aktivitas tersebut, salah satu objek lainnya yang bisa ditemukan di Pulau Biawak adalah mercusuar setinggi 65 meter. Dibangun di zaman penjajahan Belanda, tepatnya pada 1872, hingga kini mercusuar masih berdiri kokoh. Hanya beberapa bagian yang terlihat sudah lapuk dan tak terawat. Namun, 240 anak tangga besi melingkar yang bisa digunakan untuk mencapai puncak mercusuar masih berfungsi dengan baik.
 
Untuk menapaki setiap anak tangga, dan mendatangi puncak mercusuar tersebut, tentu dibutuhkan suatu keberanian dan tenaga tersendiri. Akan tetapi pemandangan yang terlihat dari atas mercusuar seakan jadi bayaran yang setimpal dengan usaha yang dikeluarkan. Dermaga, laut yang menyatu dengan langit, serta hamparan pohon raksasa dan pohon mangroove di sekeliling pulau sangat indah terlihat dari ketinggian 65 meter.
 

IMG_0137.JPG

Pulau Biawak
Foto: Medi AHN/PR Pemandangan dari mercusuar setinggi 65 meter.
 
Setelah mengalahkan ketakutan menapaki mercusuar, dan puas bermain-main mengamati biawak, salah seorang anak buah kapal memanggil kami. Makan siang berupa nasi liwet, tahu-tempe, telor dadar, lalab, dan sambal kacang sudah beres disiapkan di kala kami beraktivitas. Di atas perahu, kami pun kemudian makan siang dengan lahapnya. 
Seusai santap siang, hanya ada satu kegiatan lagi yang menanti kami: mengelilingi pulau dengan menggunakan perahu. Kurang lebih setengah jam waktu dibutuhkan untuk melakukan ini. Saat jarum jam menunjukkan waktu pukul 1 siang, kami telah selesai berkeliling pulau dan kembali bergerak menuju Indramayu. Lagi-lagi buaian ombak dan angin laut menemani perjalanan. Sungguh pengalaman yang tidak terlupakan. (Dok. PR)