Industri Penerbitan Harus Ikut Tren Digital

2984.jpg

Ilustrasi: Dok.PR

BUKU adalah jendela dunia. Melaluinya ada penyebaran pengetahuan dan ajang berbagi rasa. Akan tetapi, bagaimana bila industri penerbitan mengalami stagnasi akibat berbagai tantangan yang salah ­sa­tunya minat baca rendah? Ada banyak tantangan dalam industri penerbitan, tetapi yang optimistis akan merespons tan­tangan sebagai peluang untuk maju.

SEJAK terjun meneruskan ­perusahaan keluarga di bidang penerbitan pada 2004, Rosidayati Rozalina yang 26 Februari 2016 nanti berusia 49 tahun, menjawab tantangan dengan penuh optimisme. Ia mengakui bahwa dunia penerbitan sempat mati suri dan ”istirahat di tempat”, tetapi ada berbagai tantangan yang bisa dijadikan sebagai peluang. Pada Selasa (9/2/2016), di tengah kesibukannya yang sering bolak-balik Jakarta-Bandung, ibu dua anak kelahiran Bandung itu bercerita banyak tentang dunia penerbitan. Kesibukannya terlihat di kantornya di PT Remaja Rosdakarya, Jalan Inggit Garnasih Nomor 40, Kota Bandung.

Ia harus membagi waktunya yang terbatas itu untuk tanggung jawabnya sebagai Direktur Utama PT Remaja Rosdakarya dan aktivitasnya di Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi). Apalagi, ia baru terpilih sebagai Ke­tua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) pada 2015. Membagi waktu dengan keluarga? Itu juga penting, meski terkadang hanya dengan menghabiskan waktu menonton bersama di rumah. Lalu, apa harapannya dan bagaimana ia menjawab tantangan menjadi peluang dalam industri penerbitan? Apakah ia dan anak-anaknya juga menggemari buku dan apa buku favoritnya? Berikut kutipan wawancara Rosidayati bersama wartawan Pikiran Rakyat, Vebertina Manihuruk, dan pewarta foto, Armin Abdul Jabbar.

Industri penerbitan di Indonesia sudah ada sejak lama. Bagaimana kondisinya saat ini? Ada berbagai tantangan dunia penerbitan saat ini. Industri ini bisa dibilang mati suri sejak munculnya Peraturan Menteri Pendidikan Nasional tahun 2008 yang melarang penerbit menjual buku ke sekolah. Saat itu, banyak penerbit gulung tikar. Sementara itu, kalau bicara buku umum, tantangannya adalah minat baca masih rendah sehingga nggak terlalu bagus pasarnya. Jadi, mati suri itu karena memiliki masalah dari segi pendapatan. Memang, banyak penerbit yang masih mengandalkan proyek pemerintah. Namun, seperti tahun 2015 kemarin, proyeknya sangat minimal. Akan tetapi, ke depan, alhamdulillah ada angin segar karena pemerintah melalui Mendikbud akan mengeluarkan aturan kewajiban membaca untuk anak sekolah setiap 15 menit sebelum memulai pelajaran. Aturan ini pasti membutuhkan banyak buku bacaan. Jadi, memang, tantangan yang ada itu juga menjadi peluang. Peraturan itu juga menantang kami untuk memenuhi ketersediaan buku bacaan, variasinya, layak baca, serta tata niaganya, terutama bagaimana supaya buku bisa sampai ke pelosok daerah terjauh.

Bagaimana dengan teknologi digital? Apakah itu juga akhirnya membuat industri buku konvensional menurun?

Keberadaan buku digital setelah bertahun-tahun memperlihatkan pengaruhnya masih sangat kecil. Revenue belum signifikan dibandingkan dengan cetak, masih sekitar dua persen. Contoh di Rosdakarya, kami mendigitalkan buku sejak 2011, hampir 5 tahun. Masih belum kelihatan hasilnya, belum signifikan. Namun, saat kami kerja sama dengan platform buku digital global, hasilnya lumayan. Ternyata, buku-buku Indonesia diminati, dalam waktu singkat lumayan hasilnya. Ke depan, mau tidak mau, kami memang harus ikut tren digital. Pemerintah juga melaksanaan pengadaan buku melalui digital. Karena sebagian besar pembelian dari pemerintah, ya kami harus ikut tren itu.

Bagaimana dengan keranjingan pada media sosial yang kelihatannya membuat gaya hidup masyarakat semakin jauh dari buku?

Media sosial dan buku itu berbeda. Facebook, misalnya, hanya berupa berita ring­kas. Kalau kita memerlukan pendalam­an, kita mau nggak mau harus baca buku, buku lebih komprehensif dan mendalam. Sebenarnya, televisi juga, dengan berbagai channel hiburannya mengganggu minat baca. Mungkin, lebih enak menonton. Padahal, kelebihan buku adalah melatih imajinasi karena bentuknya hanya berupa tulisan sehingga harus dibayangkan. Kalau film kan ada gambar dan suara, kita tidak perlu berpikir lagi dan tinggal telan. Ya, masing-masing punya kelebihan. Semua media itu harus saling melengkapi, bukan satu mematikan yang lain. Seperti buku digital yang mulai diminati, tapi itu kan bergantung pada baterai, buku cetak tidak. Penggunaan digital pun terbatas. Misalnya, di pesawat harus matikan gadget, nah kalau buku cetak kan bisa dibaca di mana pun. Ya, semuanya punya pasar sendiri-sendiri.

Salah satu yang menjadi masalah sejak dulu adalah pembajakan. Bagaimana solusi untuk masalah ini?

Ya, pembajakan memang masih ada, agak sulit memberantasnya karena demand dan supply-nya ada. Penerbit tidak bisa menjual buku dalam jumlah sedikit karena harganya akan tinggi, sementara kalau dari sisi konsumen ada kebutuhan, apalagi mahasiswa. Mereka butuh buku, buku tidak tersedia, maka muncullah peluang buku bajakan dengan harga murah. Murahnya buku itu memang menjadi daya tarik. Akan tetapi, ada hak orang yang dilewati, seperti penulis dan penerbit. Pemerintah sudah mulai serius menangani ini, melalui Badan Ekonomi Kreatif ditindaklanjuti dengan membentuk satgas pembajakan produk kreatif, buku termasuk di dalamnya.

Jenis buku apa atau konten buku seperti apa yang dari segi pemasaran tetap terbanyak?

Buku anak tetap menjadi pasar utama. Setiap orangtua tentu ingin anaknya pintar, lebih baik dari orangtuanya, sehingga biasanya dibawa ke toko buku. Selain itu, buku bertema agama, pengembangan diri, selain tentu buku fiksi.

Dari segi konten, apakah sekarang masih ada larangan atau aturan yang mengatur?

Kasus terakhir, muncul buku anak yang mengandung materi LGBT. Itu diperta­nyakan dan memang tidak ada aturannya. Hal-hal seperti itu menjadi pro dan kontra karena ada juga orangtua yang menerima fenomena itu. Tetapi menurut saya, tanpa harus diatur pun, nilai moral masyarakat memiliki sensitivitasnya sendiri. Konten yang mengganggu seperti radikalisme, pornografi, dan yang sekarang tentang LGBT, kontrol dari masyarakat yang sangat berperan di situ. Kalau ada aturannya, nanti pro dan kontra lagi tentang hak asasi dan akhirnya terus berpolemik. Kuncinya, kalau masyarakat heboh dan masalahnya mencuat, berarti ada yang salah di situ. Artinya, ada konten dalam buku yang mengandung nilai yang nggak bisa diterima masyarakat kita. Sekarang, saat satu buku bermasalah, penerbitnya sendiri yang meminta maaf dan menarik buku dari peredaran. Kalau bukunya dari pe­ngadaan pemerintah, maka sekolah yang akan menarik buku itu. Pemberedelan bukan zamannya lagi, tetapi nilai-nilai dalam masyarakat yang akhirnya menentukan rambu-rambu dari kebebasan berekspresi itu.

Bicara mengenai minat baca yang rendah, anak-anak sering menerima tawaran hiburan lain dari televisi dan gawai canggih. Apakah saat bersama-sama, ibu mewajibkan anak-anak membaca?

Hahaha, saya enggak masuk kriteria itu. Memang, ada juga teman-teman saya yang sepertinya mewajibkan. Kalau saya lebih mementingkan saat-saat bersama. Saya dan suami kerja, anak-anak sekolah full, jadi yang penting punya waktu bersama. Saat bersama, ada kalanya membahas buku, misalnya buku yang sedang dibaca anak saya. Akan tetapi, tidak ada aktivitas membaca buku bersama. Apalagi, suami senang menonton di rumah, anak-anak lebih banyak ikut ayahnya senang menonton.

Tetapi, apakah anak-anak tetap gemar membaca?

Ya, mereka membaca buku-buku yang sesuai dengan minatnya. Misalnya, seri Harry Potter dan Twilight. Kalau saya ajak ke toko buku, mereka lebih selektif memilih sesuai minat dan kriterianya, karena waktunya sudah padat untuk urusan sekolah dan tugas. Kalau saya pilihkan buku, mi­salkan ada dari Mizan tentang hijab dan taaruf, mereka belum tertarik, hehehe...

Kalau ibu sendiri bagaimana?

Saya dari kecil senang membaca buku. Dulu, sering ke toko buku Maranatha di Jalan Inggit ini juga, sering ke taman bacaan, kios bacaan, dan ke Cikapundung juga. Sekarang, saya senang membaca buku-buku tentang motivasi, manajemen, bisnis, dan leadership. Saya juga suka fiksi sebetulnya, tetapi jarang habis dibaca karena keburu ada filmnya, jadi akhirnya nonton filmnya, hahaha... Beberapa judul buku yang saya ingat karena sangat menginspirasi antara lain Who Moved My Cheese karya Spencer Johnson dan Seven Habits of Highly Effective People karya Stephen ­Covey. (Vebertina Manihuruk/PR)