Ke Purwakarta Jangan Lupa Kunjungi Tempat Ini

3121.JPG

Sate Anwar
Foto: PB Indra Kusumah/PDR
DI era 1990-an sampai awal 2000, Purwakarta dikenal sebagai kota penghubung antara Bandung dan Jakarta. Tak heran jika aktivitas warga Purwakarta kala itu banyak dipengaruhi oleh hilir-mudik  pengendara yang ‘numpang lewat’ dan beristirahat di Purwakarta. Demikian juga dengan wisata kulinernya. Tempat-tempat makan yang berada di jalur Jakarta-Bandung jadi usaha yang paling berkembang dan kecipratan rezeki paling banyak. 
 
Namun, dibukanya jalan tol Cipularang pada 2004 membuat penduduk kota ini harus beradaptasi. Tempat-tempat makan yang dulunya ramai mulai ditinggalkan pelanggan yang lebih memilih untuk melaju di jalur tanpa hambatan. Lalu, apakah ragam kuliner di kota ini lantas menguap hilang? Jawabannya tidak. Dalam lima tahun terakhir, Purwakarta mulai lagi menggalakkan berbagai aktivitas pariwisata, termasuk diantaranya wisata kuliner. Berbagai macam tempat makan baru bermunculan, sementara tempat-tempat yang dulunya jaya tetap berjuang untuk tetap ada, baik dengan memindahkan lokasi atau menginovasi makanannya. Kini penduduk Purwakarta dan pengunjungnya dimanjakan dengan beragam jenis makanan, baik yang merupakan khas Purwakarta maupun yang diadopsi dari daerah lain.
 
Berbicara mengenai makanan khas Purwakarta tentu tak bisa lepas dari sate maranggi. Hampir di semua penjuru daerah kabupaten ini terdapat penjaja maranggi, mulai dari yang berjualan menggunakan gerobak hingga rumah makan skala besar. Konon, kata maranggi sendiri berasal dari nama Ma’ Anggi, seorang penjual sate terkenal di daerah Cianting, Plered. Orang-orang kemudian meniru cara Ma’ Anggi mengolah sate dan kemudian namanya berkembang menjadi maranggi. 
 
Ada tiga daerah di Purwakarta yang terkenal dengan olahan sate maranggi: Cibungur, Pasawahan – Wanayasa, dan Plered. Di ketiga daerah ini bertebaran ‘tukang’ sate di sepanjang jalan, yang asap bakarannya menggoda pengendara mobil untuk mampir. Uniknya ketiga daerah ini menyajikan maranggi dengan cara berbeda, baik dalam hal campuran sambal, racikan kecap, ataupun cara mengolah daging satenya. 
 
Bagi Anda yang tertarik untuk menyicipi maranggi, maka Sate Anwar bisa jadi salah satu pilihan. Berdiri semenjak 1995, Sate Anwar merupakan salah satu tempat makan sate tertua di Purwakarta. Tempat ini hanya berjarak kurang lebih 10 km dari pusat kota, tepatnya di Desa Salamulya, Kecamatan Pasawahan. 
 
Salah satu keunggulan dari Sate Anwar adalah pada lokasinya. Dikelilingi dengan hamparan sawah di kaki gunung, tempat makan ini menawarkan keindahan alam bagi para pelanggannya. Pengunjung yang datang seakan diajak untuk bersantai sejenak, meluruskan kaki, dan menikmati sejuknya udara pegunungan. Bangunannya sendiri terdiri atas saung-saung bambu berkonsep lesehan, sehingga pas jika pengunjung ingin menikmati alam bebas sembari menunggu makanan disajikan. 
 
Walau memiliki keunggulan dalam faktor lokasi, Sate Anwar tidak lantas menelantarkan lidah pengunjung. Cita rasa yang dipertahankan sejak usaha berdiri membuat Sate Anwar tetap jadi pilihan nomor 1 untuk pengunjung yang ingin menyantap maranggi. Bahkan, pada Sabtu, Minggu, dan hari-hari libur lainnya, tempat ini bisa dikunjungi hingga lebih dari 500 orang.  
 
Keunggulan dari sate maranggi Anwar terletak pada daging sate selap gajih-nya yang terasa empuk, gurih, dan legit karena dicampur dengan gula merah terlebih dahulu sebelum dibakar. Sate ini disajikan dengan kecap kental serta sambal cabai rawit hijau yang cukup pedas sehingga menggugah selera pengunjung. Untuk mendapatkan kelezatan di seporsi sate (10 tusuk) ini pengunjung hanya perlu merogoh Rp 15.000 dari saku.  
 
Selain sate maranggi Anwar, satu tempat makan lain yang identik dengan Purwakarta adalah Soto Sadang. Berlokasi dekat dari gerbang tol Sadang, atau tepatnya di Jln Veteran No 12, Soto Sadang menjadi tempat favorit untuk para pengendara di jalur Jakarta – Bandung beristirahat dan makan siang. 
 
Sempat ditinggalkan pengunjung setelah adanya Cipularang, Soto Sadang melakukan inovasi dengan membuka cabang, yaitu Soto Sadang dan Soto Sadang Asli. Di tempat yang disebutkan terakhir, ada perbedaan cara memasak yaitu dengan menggunakan arang. Selain itu, untuk soto ayamnya, Soto Sadang Asli menggunakan ayam kampung, sementara Soto Sadang menggunakan ayam pedaging (broiler).
 
Soto Sadang sendiri terdiri atas dua pilihan, yaitu soto kuah bening dan soto kuah santan. Disajikan bersama nasi putih panas di boboko, sotonya sendiri terasa segar dengan campuran rempah-rempah yang menyatu pas dengan kuah daging dan aroma jeruk nipis. Menurut pemiliknya, Haji Charlie Suherli, kuah soto ini terasa gurih karena berasal dari kaldu asli dan tidak dicampur penyedap rasa.
    
Puas menikmati makanan berat, Anda dapat beralih ke cemilan khas Purwakarta yaitu simping. Panganan ini berbentuk lembaran-lembaran bulat tipis yang terbuat dari terigu, tepung tapioka, atau jenis tepung lainnya seperti tepung ketan, yang diberi campuran rasa. Dulunya, simping hanya terkenal dengan rasa beras kencur saja. Namun kini makanan ringan ini memiliki lebih dari sepuluh varian rasa, seperti pedas (rasa cabai), nangka, pisang, keju, atau coklat. 
 
Sebagaimana maranggi, ada beberapa daerah di Purwakarta yang memproduksi simping. Namun, yang paling terkenal berada di daerah Dalam Kaum, Kecamatan Purwakarta. Karena itu namanya sering dikenal dengan simping kaum. Di kawasan ini simping diproduksi di rumah-rumah dan menjadi salah satu aktivitas untuk ibu rumah tangga meningkatkan perekonomian rumah tangga. Hampir setiap rumah di gang di Dalam Kaum memiliki warung kecil yang menjajakan simping aneka rasa, lengkap dengan mereknya masing-masing. Selain simping, biasanya mereka juga memproduksi makanan ringan khas Purwakarta lainnya seperti sempron dan gapit. 
 
Salah satu merek simping yang sudah dikenal lama adalah Simping Edi. Berlokasi di Jln. Baing Marjuki No. 10, pedagang simping ini sudah berjualan semenjak tahun 70-an. Menurut Ibu H. Edi, resep simping ini ia dapatkan langsung dari mertuanya yang memang mengajarinya membuat simping setelah Ibu H. Edi menikah dengan anaknya. 
Selain melayani pembeli perorangan yang datang ke warungnya, Ibu H. Edi juga melayani pesanan untuk kantor, instansi, ataupun hotel. Simping Edi ini dibandrol dengan harga lima ribu rupiah per-bungkusnya, atau seratus ribu rupiah untuk satu blek.  Cukup murah, bukan?
 
Dibukanya jalan tol Cipularang memang sempat membuat wisata kuliner Purwakarta mati. Namun, seiring dengan beragam inovasi, wisata kuliner Purwakarta mampu bangkit. Kini tak  hanya sekedar jadi tempat singgah, kuliner Purwakarta mampu jadi destinasi para pecinta makanan enak. Tunggu apa lagi, mari kunjungi! (DOK.PR)