Keindahan Pegunungan Papandayan

ASAP PUTIH membumbung terlihat dari kejauhan, dikelilingi kuning belerang dan coklat tanah, serta abu-abu bebatuan di pinggir gundukan hijau pepohonan. Sekira empat kilometer dari Kawah-Kawah Papandayan  bunyi kenalpot kendaraan roda dua berjenis bebek seakan berteriak, menggambarkan usahanya melibas tanjakan-tanjakan yang sebenarnya tidak terlalu curam.”
 
Ya, kendaraan tersebut adalah ojeg yang digunakan wisatawan yang ingin menuju kawah-kawah Papandayan. Biasanya hanya pengujung perorangan saja yang menggunakan jasa ojeg tersebut. Sebagai gunung api aktif, Kawasan Papandayan memiliki banyak kawah. Diameter kawah-kawah di Papandayan bervariasi dari yang kecil hingga yang besar. Terdapat beberapa kawah yang terkenal, diantaranya Kawah Mas, Kawah Baru, Kawah Nangklak, dan Kawah Manuk. Kawah-kawah yang mengeluarkan asap dan uap air tersebut dapat menjadi objek wisata yang mendatangkan banyak wisatawan.
 

IMG_5385.JPG

Papandayan
Perjalanan ke lokasi
 
Selain daya tarik wisata kawah, Kawasan Papandayan yang relatif tidak jauh dari Kota Bandung (sekitar 70 km sebelah tenggara Kota Bandung) banyak didatangi oleh pendaki baik dari dalam negeri atau mancanegara. Pemandangan gunung Papandayan yang unik agaknya menjadi daya tarik terbesar bagi wisatawan atau pendaki.
 
Bagi para pendaki gunung yang ingin berpetualang, di Kawasan Papandayan terdapat beberapa jalur pendakian yang dapat ditempuh. Diantaranya adalah jalur pendakian dari Kecamatan Pengalengan Kabupaten Bandung atau jalur lain dari Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut. Jalur pendakian dari Kecamatan Cisurupan terbilang sudah cukup baik karena jalannya telah diaspal sampai ke pos BKSDA (Badan Konservasi dan Sumber Daya Alam) tepat sebelum kawasan kompleks kawah. Mobil dan motor dapat melewati jalan tersebut kendati jalan aspalnya berlubang. Waktu pendakian akan dihemat dengan menggunakan angkutan tersebut. Sehingga kita hanya perlu menempuh waktu sekira satu jam saja untuk sampai ke kompleks kawah Papandayan. Bahkan, untuk mengapai puncaknya pendaki tidak harus berlama-lama berjalan kaki. Pendaki hanya perlu menempuh perjalanan sekira dua jam dengan jalur yang relatif landai.
 

_DSC0002.JPG

Papandayan
Papandayan dari kejauhan
 
Dari kaki Papandayan, sekitar Pasar Cisurupan, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, tersedia dua jenis angkutan umum, yakni dua puluh unit angkutan berjenis mobil bak terbuka dan ojeg-ojeg yang jumlahnya berubah-ubah. Mobil-mobil bak terbuka berjenis Mitshubishi L300 dan Suzuki Carry Pick Up itu berjajar di pintu masuk menuju Pegunungan Papandayan. Mobil-mobil yang kesemuanya berkelir hitam tersebut sebenarnya digunakan juga untuk mengangkut berbagai macam sayuran yang ditanam penduduk di Pegunungan Papandayan.
 
Tarif angkutan roda empat untuk satu kali jalan adalah Rp10.000,00. Daya angkut maksimal satu mobil adalah sekira sepuluh orang, walaupun para penumpang harus rela berada di atas bak terbuka selama perjalanan. Menurut pengakuan Sukarsa (38) yang sudah sekira lima belas tahun menjadi supir bak terbuka menuju Kawasan Papandayan, apabila mobil yang dikendarainnya mengangkut lebih dari sepuluh orang dewasa maka kendaraan akan sulit untuk dapat naik menuju ke pos dekat kawah-kawah Papandayan. Alternatif lain yang dapat digunakan jasa ojeg yang dipatok Rp 25.000,00 untuk satu kali jalan.
 

IMG_9362.JPG

Papandayan
Mendaki
 
Dari gerbang dekat Pasar Cisurupan pengunjung harus menempuh perjalanan sekira sebelas kilometer untuk menuju pos Kawasan Papandayan di dekat areal kawah. Hanya sekira 2,7 km saja  dari gerbang jalan aspal mulus tersedia untuk pengunjung. Seleas jalan itu jalanan aspal yang sudah berlubag dan sedikit berkerikil akan menemani perjalanan pengunjung sampai ke Pos Kawasan Papandayan di dekat kawah.
 
Di sepanjang perjalanan dari jalan raya Cisurupan pengunjung dapat menjumpai sungai-sugai yang penuh dengan material batu-batu besar sisa erupsi Gunung Papandayan. Mobil bak terbuka yang mengangkut sayuran juga sesekali berpapasan dengan kendaraan yang digunakan pengunjung. Mobil-mobil tersebut mengangkut hasil-hasil pertanian, seperti sayur kol dari lahan petanian penduduk Kecamatan Cisurupan, khususnya di area kaki Kawasan Papandayan. Sisa-sisa arang tumbuhan yang terbakar banyak terlihat di jalan menuju Pos Papandayan. Etah apakah kebakaran tersebut adalah ulah tangan manusia atau terjadi secara alami, tak ada yang dapat memberikan keterangan.
 
 
Sekira satu kilometer dalam perjalanan menuju kawah, pengunjung akan menemukan gerbang tiket yang sudah tidak dipergunakan lagi. Gerbang permanen berbahan bata dan semen serta beratapkan genteng tanah tersebut kondisinya dibiarkan tidak terawat. Atap sudah banyak yang berlubang, beberapa plester tembok yang terkelupas terdapat di sekujur tubuh bangunan. Kondisi tersebut diperparah lagi dengan coretan-coretan cat semprot tangan-tangan jahil di sana-sini.
 
Terdapat banyak pemandu yang menyediakan jasa bagi pendaki. Mereka biasanya berkumpul di Pos BKSDA jalur Cisurupan. Bagi pengunjung yang belum pernah mendaki Kawasan Papandayan sangat dianjurkan untuk menyewa pemandu karena terdapat beberapa wilayah rawan di kawasan Papandayan. Peranan pemandu juga sangat dibutuhkan karena Kawasan Papandayan masih tergolong gunung api aktif. Papandayan merupakan salah satu dari 18 gunung api aktif tipe A di Indonesia yang mendapat pemantauan khusus Salah satu area berbahaya adalah tanah yang labil dekat kawah.
Walaupun Kawasan Papandayan sering disebut “Gunung Papandayan” saja , sebenarnya tidak hanya satu gunung yang termasuk ke dalam wilayahnya. Pegunungan Papandayan merupakan Kompleks suatu gugusan pegunungan yang membentang dari Cikajang sampai Pengalengan. Terdapat enam puncak berderet dalam Kawasan Papandayan yaitu Puncak Nagklak (2.496 m dpl), Puncak Welirang (2.229 m dpl), Puncak Puntang (2.560 m dpl), Puncak Papandayan (2.662 m dpl), Puncak Masigit (2.662 m dpl) dan Puncak Pasir malang (2.665 m dpl).  (Garry Gumelar Pratama/PR)