Kekuatan Anak-anak Dorong Penerbitan Buku

3165.jpg

SEJUMLAH anak membaca buku lego tentang Star Wars di samping patung lego raksasa tokoh dalam Star Wars di "Frankfurt Book Fair", Jerman, belum lama ini. (Foto: JOHN MACDOUGALL/AFP)
SEJAK beberapa tahun ke ­belakang, gawai canggih sudah merebut perhatian anak-anak. Waktu luang selalu dihabiskan dengan melihat layar yang menampilkan permainan. Akan te­tapi, kejenuhan pun tiba. Orangtua semakin gencar mengajak anak kembali membaca buku ­sehingga industri buku anak-anak di 2016 pun kembali menanjak.
 
Kecanggihan teknologi sekarang tidak hanya di­konsumsi orang dewasa. Target konsumennya sudah menurun ke usia anak-anak yang ternyata lebih mudah untuk kecanduan pada berbagai aplikasi di gawai canggih.
 
Namun, orangtua pun merasa­kan dampak gawai pada anak yang tidak melulu positif. Ke­tergan­tungan itu membuat anak-anak kurang membaca buku dan bersosiali­sasi. Gaya hidup anak-anak pun ingin dikembalikan ke sesuatu yang menggunakan kertas alias buku.
 
”Ada reaksi dari para orangtua terhadap penyebaran teknologi di­gital dan media sosial. Kami para orangtua ingin memberikan a­nak-anak bacaan berbentuk buku kertas karena anak-anak sudah terlalu banyak memandangi layar,” kata Philip Jones, editor majalah Bookseller seperti dimuat dalam artikel di situs milik The Guardian.
 
Ia mengatakan, hampir tiga perempat rumah tangga di Inggris memiliki komputer tablet di rumah. Namun, relatif sedikit anak-anak yang menggunakan perangkat itu untuk membaca. Hanya 23% dari keseluruhan anak-anak yang menggunakan tablet untuk membaca buku, sedangkan 84% menggunakannya untuk bermain.
 
Kesadaran itulah yang akhirnya membuat buku-buku anak dinilai yang paling sukses pada industri penerbitan di Inggris. Apalagi, kesuksesan itu terjadi di saat penjualan buku-buku umum menga­lami penurunan.
 
Penjualan buku di Inggris terus meningkat. Kenaikan itu dimulai pada 2007 saat novel Harry Potter pertama kali mengguncang du­nia perbukuan. Peningkatan penjualan buku pun terjadi sampai sekarang.
 
”Saya belum pernah melihat pe­ningkatan yang konstan pada buku-buku fiksi untuk pembaca muda. Anak-anak pun sepertinya lebih siap membaca dalam waktu lama dengan tema cerita yang menantang,” ucap Dawn Finch, penulis buku fantasi.
 
Kekuatan anak-anak dalam menyukai buku itu menjadi pendo­rong untuk industri penerbitan. Peningkatannya selama setahun bisa mencapai 10% meskipun dari segi industri buku secara umum mengalami penurunan 5%.
 
Tren itu juga terjadi di Amerika Serikat. Situs www.publishing­technology.com menyebutkan, tren perbukuan 2016 salah satunya adalah penerbitan buku anak-anak akan semakin berkembang pesat.
 
Artikel pada situs itu memaparkan, selama 3-5 tahun terakhir, buku-buku anak memegang peran­an utama dalam pertumbuhan industri penerbitan. Pada 2015, buku-buku anak di AS mengalami pe­ningkatan pasar 13%. Hal itu akan berlanjut pada 2016. Buku-buku populer seperti Star Wars, Harry Potter, dan Minecraft sangat berperan untuk kesehatan finansial para penerbit buku.
 
 

47459270316-03-Anak-anak baca buku lego Star Wars di di Frankfurt Book Fair Jerman.jpg

PENGUNJUNG di lorong rak buku menunggu bu­ku novel terbaru Harry Potter karya JK Rowling di Mount Prospect, Illinois, AS, beberapa waktu lalu. (Foto: TIM BOYLE/AFP)
 
 
Perubahan
 
Artikel di www.booksellers.co.nz menyebutkan, perkembangan industri buku anak-anak juga memperlihatkan adanya perubahan yang cukup signifikan. Perubahan bu­kan­lah hal buruk, meski harus dicermati dengan baik.
 
Menurut Jane Arthur, beberapa abad lalu, buku-buku anak di Selandia Baru menceritakan hal-hal yang sudah akrab dengan anak-anak di sana. Misalnya, suasana Natal dan peternakan. 
 
Buku juga mengajar­kan anak-anak bahwa dunia ini diisi oleh beragam manusia yang berbeda-beda. Buku-buku di masa lalu sering diberikan label ”buku untuk anak laki-laki” atau ”buku untuk anak perempuan”. Namun, hal itu pun sudah berubah. Pengategorian buku berdasarkan jenis kelamin sudah ditinggalkan karena anak-anak tetap anak-anak yang ingin mengekplorasi berbagai hal.
 
Buku fantasi memang seringkali mencuat dan menjadi sangat po­puler. Namun, buku-buku cerita yang bertahan untuk waktu la­ma tetaplah buku yang menceritakan kehidupan yang nyata dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
 
Hal itu pun dinyatakan Wendy Tighe-Umbers dari toko buku Time Out. ”Usia 11, 12, dan 13 tahun tidak terlalu menyukai fantasi. Mereka ingin buku yang berisi cerita yang berkaitan dengan hidup mereka. Misalnya buku dari Ted Dawe yang membuat anak-anak tidak ingin melepas bukunya dari sejak membaca kalimat pertama,” ucapnya.
 
Buku-buku nonfiksi pun sudah mulai digemari anak-anak. Se­per­ti buku ”Timeline” yang ditulis Peter Goes. Di Time Out, buku ini menjadi buku dengan penjualan terbaik. Buku itu pun bukan hanya cocok untuk anak-anak, tetapi juga digemari orang dewasa.
 
Para penerbit di Selandia Baru pun mulai menyentuh segmen usia 8-12 tahun. Upaya penerbit menyentuh anak-anak sebagai target konsumen adalah investasi. Dengan menyediakan sebanyak-banyaknya variasi buku untuk anak-anak saat ini, mereka akan terikat menjadi pembeli buku di ma­sa depan. (Vebertina Manihuruk/”PR”)