Kuliner ala Kota Sukabumi

3073.JPG

Kuliner ala Kota Sukabumi
Foto: Periset/PR
SIAPA sangka, Kota Sukabumi yang sejak dulu memiliki julukan kota mochi dan kota sejuta bubur, kini menjelma menjadi kota yang diincar segala jenis kulinernya. Kabarnya, orang Sukabumi yang kebanyakan doyan makan memicu kuliner yang semakin menjamur. Coba tengok disetiap sudut kotanya, berbagai jenis kuliner akan mudah ditemukan. Mulai dari warung-warung tenda atau gerobak  pinggir jalan, sampai tempat makan bernuansa café pun bertebaran di kota ini.
 
Memang, tak sulit mencari tempat makan di Kota Sukabumi yang terbilang sejuk ini. Waktunya pun tak terbatas. Siang dan malam dipenuhi oleh aneka makanan yang siap menggoyang lidah para pemburu kenikmatan perut. Mulai dari makanan berat, camilan hingga oleh-oleh khas yang tak kalah banyaknya. Hampir setiap waktu ada saja inovasi dari kuliner Sukabumi. Meskipun begitu, kuliner yang telah berpuluh-puluh tahun berdiri juga tak tergoyahkan. Mereka tetap berdiri dan semakin menunjukkan taringnya. Nah, jika Anda sedang bertandang ke Sukabumi atau belum ada rencana di liburan mendatang, Kota Sukabumi layak menjadi tujuan wisata kuliner kali ini.
 
Roti Priangan bisa menjadi hidangan pembuka kuliner Sukabumi. Roti jadul ini telah setia menemani warga Sukabumi dan berhasil bertahan melintasi beberapa zaman, mulai dari era penjajahan, kemerdekaan hingga sekarang. Kendatipun, Roti Priangan yang berada di Jln. Parigi, Kecamatan Warudoyong ini tetap setia mempertahankan tradisinya, yakni membuat roti tanpa bahan pengawet. Alhasil, roti yang dihasilkan pun terasa lembut, meskipun hanya bisa bertahan satu atau dua hari saja.
 
Pabrik roti yang dahulu namanya diambil dari nama pemiliknya, Oey Tjang Lie, berdiri mulai tahun 1943. Dahulu, ia belajar membuat roti dari orang Belanda, bersama Tan Ek Tjoan dari Bogor, yang kini toko rotinya masih berdiri, dan Tan Ken Cu dari Cianjur. Berbekal hasil belajar inilah Oey Tjang Lie kemudian membuka usaha roti. Kini, usaha roti ini dikelola oleh Harris Widjaya (59), yang merupakan generasi ketiga.

Roti Priangan

Roti Priangan
Foto: Periset/PR
 
Roti tanduk menjadi ciri khas Roti Priangan sejak dulu. Bentuknya seperti tanduk atau kaki kuda dengan isian mentega dan susu. Menurut Harris, roti ini tidak akan ditemui di Jakarta ataupun luar kota lainnya. Namun, pabrik roti yang dulu sempat bernama Preanger ini pun menyediakan varian lain, meskipun tak sebanyak seperti halnya roti modern. Biasanya roti yang disediakan adalah roti kepang dan roti manis dengan isian stroberi, coklat, keju dan susu. Juga roti tawar dengan ukuran besar dan kecil. Roti manis khas Priangan ini dibanderol pada harga yang rata-rata sama, yaitu Rp 3.500. Sementara untuk roti tawar dibanderol pada harga Rp 8.000 untuk yang besar dan Rp 4.000 untuk yang kecil. 
 
Jika Anda ingin mencoba mencicipi roti jadul ini, Anda bisa mendapatkannya pada penjual yang berkeliling dengan gerobak-gerobaknya atau dititipkan di toko kue seperti Toko Rido. Roti pun bisa disantap lewat dari jam 12 siang, karena semua proses pembuatannya berakhir pada pukul 12.30-13.00. Pada jam-jam tersebut, dapat dipastikan Anda akan mendapatkan roti yang baru keluar dari oven.
 
Menjelang siang atau sore hari, kadang kala perut sudah menagih untuk diisi. Makanan selingan yang patut dicoba saat di Sukabumi salah satunya adalah Bakso Super HAS (Haji Ahmad Sudjai) atau orang Sukabumi menyebutnya dengan Bakso Mang Jai. Warung bakso ini terletak di Jln. Ir. H. Juanda No. 9, yang lebih dikenal dengan kawasan Dago-nya Sukabumi. Sudah buka dari pagi hari, sekitar pukul 09.00, dan siap menggoyang lidah para penggila bakso hingga malam hari.
 
Warung bakso Mang Jai tak pernah surut dari pengunjung. Kabarnya, rasa baksonya yang tidak pernah berubah, meski sudah berdiri lebih dari 40 tahun, membuat pelanggannya selalu setia. Tak heran jika diantara pelanggannya terdapat para pesohor seperti Desi Ratnasari, Hari Mukti hingga Syahrini, yang selalu mencicipi baksonya kala pulang kampung. 
 
Bakso Mang Jai dibuat dari daging sapi terbaik, yang dipilih dari bagian lamusir atau punggung sapi. Hasilnya, bakso pun terasa empuk dan gurih. Belum lagi dalam penyajiannya ditambah dengan tetelan daging atau sumsum yang melimpah. Mie bakso yamin pun menjadi menu favorit di warung bakso ini. Pilihannya tak hanya yamin manis dan asin, tetapi ada rasa asam manis. Harganya pun tidak terlalu menguras kantong. Satu porsi mie bakso yamin dibanderol Rp 17.000, mie bakso biasa Rp 14.000 dan bakso kecil Rp 12.000.
 
Selain bakso, Kota Sukabumi juga punya makanan selingan lain, terutama ketika perut keroncongan di malam hari. Coba saja datang ke Jln Gudang No. 4. Disana ada Bandros Ata yang sudah ada sejak tahun 1950-an. Bandros milik Bapak Ata ini tempatnya sederhana, berjualan di atas bahu jalan, tetapi selalu penuh dikunjungi pelanggannya. Bukan hanya bandros yang bisa dinikmati, tetapi pelanggan bisa sambil nongkrong di atas bangku-bangku pendek, menikmati suasana malam Kota Sukabumi. Bahkan, bisa menjadi tempat ajang bernostalgia bagi para pelanggan setianya. Jika malam minggu tiba, pengunjung bisa sampai berlesehan di trotoar hingga ke trotoar seberang jalan.
 
Bandros Ata memiliki cita rasa manis dengan permukaan yang empuk dan garing di bawah. Saat digigit, akan terasa potongan kelapa yang bertebaran dalam bandros. Bandros manis pun dihidangkan dengan berbagai pilihan minuman hangat seperti kopi, teh, bandrek, jeruk panas hingga susu telor. Satu cetakan bandros dibanderol Rp 6.000 untuk rasa orisinal/vanilla, bandros dengan taburan coklat Rp 7.000 dan bandros keju Rp 10.000. Tak perlu khawatir kehabisan, Bandros Ata akan selalu menemani malam Anda mulai dari pukul 20.30 hingga pukul 06.00.
 
Kenyang dengan kuliner khas Sukabumi, oleh-oleh menjadi pilihan terakhir saat akan meninggalkan Kota Sukabumi. Mochi yang sejak lama menjadi primadona oleh-oleh Sukabumi, pamornya tak pernah pudar hingga sekarang. Salah satunya yang masih terkenal adalah Mochi “Lampion” Kaswari yang terletak di Jln. Bhayangkara Gang Kaswari II No. 19. Mochi ini merupakan pionir yang ada di kawasan Kaswari dan sudah berdiri sejak 1983. Mochi Lampion Kaswari pun tak membuka cabang, baik di Sukabumi sendiri atau di kota lain. Hanya ada sebuah counter kecil di mulut Gang Kaswari, untuk memudahkan para pelanggan menjangkau mochi ini.
 
Untuk mempertahankan eksistensi mochinya, sang pemilik generasi kedua pun, Ibu Wanti (38) dan Ibu Nanti (35), selalu menciptakan berbagai inovasi. Terbukti, mochi sekarang hadir dengan berbagai rasa. Mulai dari kulit mochi dengan varian rasa seperti durian, pisang ambon, bluberry, mocca hingga mochi spesial dengan berbagai isian seperti keju, keju kacang dan wijen. Meskipun hadir dengan berbagai rasa, sang pemilik tak pernah menghilangkan tradisinya yang tidak memakai bahan pengawet, juga cara pembuatannya yang masih tradisional. Belum lagi, mochi ini pun masih menggunakan resep asli sang nenek, Ibu Maryam, yang belajar langsung dari orang Jepang.
 
Nah, tunggu apa lagi! Selamat menjelajah Kota Sukabumi, siapkan mata dengan jeli dan tentu saja yang paling penting adalah siapkan perut Anda.(Kania DN/DOK.PR)