Oleh - Oleh dari Tasikmalaya, Kelom Geulis Batik Nan Cantik

PHK MEMBAWA BERKAH”. Slogan itu yang selalu muncul pada pamflet dan baliho yang dibuat Ana Nuryana, pengusaha kelom geulis batik dengan bendera Sagitria Collection. PHK besar-besaran PT Dirgantara Indonesia (PT DI) yang berkantor pusat di Bandung turut pula menggerus pegawai-pegawai PT DI di Tasikmalaya tahun 2003 lalu. Ana pun harus rela melepas jabatannya sebagai staf marketing yang telah diembannya selama belasan tahun.

Rupanya kehilangan pekerjaan tak membuat Ana kehilangan akal. Berbekal keahlian melukis, Ana mulai melirik usaha untuk berjulan kelom geulis yang merupakan alas kaki dari kayu khas Tasikmalaya. Kelom yang penampilannya cenderung tidak menarik, di tangan Ana menjadi terlihat cantik. Alas kaki yang kebanyakan dipakai wanita itu seolah dijadikan kanvas oleh Ana. Diberinya sentuhan lain berupa lukisan dan ukiran bermotif batik. Inovasi itu yang membuat Sagitria Collection kini dikenal sebagai rajanya kelom batik.
Ana Nuryana juga menambah aksen lain pada kelom hasil karyanya. Hak atau telapak kelom yang kebanyakan berbentuk lancip digubah menjadi ukiran bercita rasa seni. Misalnya saja Ia pernah membuat hak kelom berbentuk kujang. Ada juga hak dengan lubang berbentuk hati serta ukiran lainnya.

Dalam berkreasi, Ana setidaknya menggunakan tiga metode. Kelom yang sudah selesai dicetak kemudian dirias menggunakan canting, serupa dengan membatik pada kain. Ada pula kelom yang diukir hingga membentuk pola batik, pisau tipis dan kecil digunakan sebagai kuasnya. Sebagian kelom juga dicat menggunakan airbrush sehingga pengerjaannya tak memakan waktu lama. Awal mula berusaha, Ana melakukan semuanya serba sendiri. Kini, Ana dibantu sekira 20 pegawai untuk mengerjakan proses pencetakan hingga finishing.
 
Nyaris semua desain pada kelom Sagitria Collection mengedepankan ciri khas Kota Tasikmalaya. Diantaranya desain payung geulis, anyaman bambu, serta desain merak ngibing yang merupakan tarian khas Tasikmalaya. Ana bahkan sudah mematenkan beberapa desainnya ke Direktorat Jendral Hak Kekayaan Intelektual, Kementrian Hukum dan HAM Indonesia. Tak hanya Tasikmalaya, berbagai desain yang mencirikan wilayah di Indonesia terpampang pada kelom geulis ala pria asli Tasikmalaya itu. Tujuannya, Ana ingin mempromosikan budaya nusantara lewat kelomnya ke berbagai negara. Selama berkarya sebagai perajin kelom, Ana sudah melempar ratusan desain karyanya ke pasaran.
 
Hasil inovasi Ana terbukti mampu menembus pasar internasional. Ana mampu mengekspor alas kaki berbahan kayu mahoni dan albasia itu ke Taiwan, Singapura, Philipina, hingga Jepang. Rata-rata Ana mengekspor hingga 5.000 pasang kelom perbulannya. Ana memulai usahanya dengan modal empat ratus ribu rupiah, kini omset Sagitra Collection perbulannya mencapai 200 hingga 300 juta. Produksi rata-rata perharinya mencapai 200 pasang kelom perhari.
Selain menggunakan strategi pemasaran konvensional, dan internet, Ana juga sering terlibat di berbagai pameran industri kreatif yang difasilitasi pemerintah. Dalam setahun, Sagitra Collection bisa mendapat undangan untuk mengikuti pameran hingga lima kali.  
 
Selain sebagai pengusaha, Ana juga mendirikan sekaligus memimpin Komunitas Creative Industri Tasikmalaya (Cinta).Melalui Komunitas Cinta, Ana kerap mempromosikan usaha kreatif yang menjadi komoditi utama di Tasikmalaya. Berbagai even juga digelar Ana, salah satunya pagelaran budaya. Tahun 2005, Ana juga terpilih menjadi Ketua Himpunan Perajin Indonesia (Himpi) Tasikmalaya.
Showroom kelom batik Sagitria Collection berada di Jalan Dadaha No. 26 Kota Tasikmalaya. Meski begitu, sebagian produksinya tetap dilakukan di Kampung Gobras, Kelurahan Sukahurip, Kecamatan Tamansari yang merupakan sentra kelom geulis. Di sana terdapat lebih dari seratus perajin kelom. Namun tak semua perajin melakukan proses produksi kelom dari awal sampai akhir. Kebanyakan dari mereka mengerjakan satu proses pengerjaan. Ada yang spesialis mengecat, mengukir, atau membordir. (Fitrah/PDR)