Pasar Elektronik Cikapundung

3512.JPG

Pasar Elektronik CIkapundung
Pasar Elektronik CIkapundung
Walau terlihat kalah bersaing dengan mal-mal mewah, pasar elektronik Cikapundung memiliki cerita panjang tentang kemajuan pedagang Kota Bandung. Bagaimana tidak, bangunan bertingkat yang kini berisi ratusan kios itu dibangun oleh para pedagang sendiri melalui sumbangan atas prakarsa bersama.  
 
Saat itu, pada 1980, beberapa sesepuh pedagang elektronik berinisiatif untuk memindahkan kios-kios dagangannya ke lokasi yang lebih representatif. Sebelumnya, mereka berjualan di bedeng-bedeng di area yang tahun 1980an digunakan sebagai Matahari Banceuy. Oleh pemerintah, bedeng-bedeng itu juga dianggap terlampau kumuh dan mengotori pemandangan kota. Apalagi lokasi bedeng dekat dengan salah satu gedung bersejarah di Kota Bandung, yaitu gedung Merdeka.
 
Tapi rencana pemindahan ini tak berjalan mulus. Karena satu dan lain hal beberapa pedagang menentang ide tersebut dan bersikukuh untuk tetap berjualan di Banceuy. Kesepakatan pun baru berhasil dicapai dua tahun kemudian, yaitu membangun pasar sendiri dengan menggunakan uang urunan para pedagang. KOHIPPCI (Koperasi Himpunan Pedagang Pasar Cikapundung) lalu didirikan untuk mendukung pelaksanaan rencana tersebut. Saat itu uangnya terkumpul sebesar satu miliar rupiah.
 
Awalnya para pedagang akan memindahkan pasar ke daerah Soekarno-Hatta. Uang yang dikumpulkan dari hasil iuran dibelikan sepetak tanah dan akan dibangun pasar yang baru. Namun walikota Bandung saat itu meminta mereka tetap berjualan di daerah Cikapundung. Pemerintah kota Bandung pun lalu memberikan sepetak tanah di lokasi tersebut.
 
Tanah di Soekarno Hatta kemudian dijual dan uangnya dikonversikan menjadi dua gedung baru, yang hingga saat ini  dikenal sebagai Pasar Elektronik Cikapundung. Pada 1987, para pedagang yang tergabung di KOHIPPCI resmi menempati bangunan ini.
 
Keberhasilan tersebut membuat nama Cikapundung terkenal di kalangan koperasi-koperasi di Indonesia. “Pola KOHIPPCI,” demikianlah panggilan dari orang-orang yang kagum pada kemajuan mereka. Bahkan, Koperasi Himpunan Pedagang Pasar Cikapundung (KOHIPPCI) pernah meraih lima penghargaan Koperasi Teladan tingkat nasional secara berturut-turut. Banyak koperasi dari berbagai daerah di Indonesia malah pernah mengadakan studi banding ke Cikapundung. Malah, pada 1989, ada rombongan dari Malaysia yang berkunjung untuk belajar pada mereka.
 
Selain karena keberhasilan membangun gedung sendiri, KOHIPPCI terkenal karena produk-produk yang dijual oleh para pedagangnya rata-rata merupakan buatan sendiri. Dari radio, antena parabola, mesin pabrik, hingga komputer pernah mereka produksi. Maka jangan heran jika pada tahun 1990 pemerintah kota pernah menunjuk KOHIPPCI, bersama dengan ITB, untuk mengadakan sistem pendataan identitas penduduk (KTP) menggunakan komputer.
 
Kemampuan memproduksi barang elektronik tersebut akhirnya menjadi modal bagi KOHIPPCI untuk membuka kursus elektronik untuk masyarakat umum. Awalnya para pedaganglah yang memberikan kursus langsung bagi para anggotanya. Seiiring dengan bertambahnya orang yang mendaftar, pengajar-pengajar baru pun lalu didatangkan dari jurusan elektronika UPI.
 
Sayangnya dewasa ini kejayaan Cikapundung semakin memudar. Hadirnya barang-barang elektronik keluaran Cina dengan harga jauh lebih murah menjadi salah satu faktornya. Meski banyak pengunjung datang, sebagian besar dari mereka hanya melihat-melihat atau menanyakan harga jenis komponen tertentu tanpa adanya proses transaksi. (Dok. PR)