Talaga Bodas, Sang Primadona Alam Yang Sempat Lama Tertidur

2907.JPG

Talaga Bodas
Foto: Medi AHN/PR
SEKITAR 200 meter dari pos penjaga, tampak sebuah genangan air berwarna putih dengan kepulan asap yang membubung tinggi di salah satu tepiannya. Sepanjang jalan menuju sumber genangan air itu banyak pohon puspa dan saninten yang tumbuh dengan subur. Angin yang datang menyapa pepohonan membuat daun-daunnya bergerak kesana kemari. Udara dingin mulai menyeruak ke dalam tubuh, sesekali saat menghebuskan napas, kepulan asap putih pun keluar dari dalam mulut.
 
Sesampainya di tepian, suasana yang jernih terpancar dari kilauan air telaga yang tersorot sinar matahari. Telaga yang merupakan kawah dari hasil letusan gunung berabad-abad lalu itu berwarna putih kehijauan. Karenanya, telaga ini dinamakan Telaga Bodas, dalam istilah Sunda bodas berarti putih. Kandungan belerang yang terdapat di dalam kawahnya menyebabkan telaga tersebut berwarna putih kehijau-hijauan. Namun, tak seperti Gunung Tangkuban Parahu atau Kawah Putih yang kawahnya mengeluarkan bau menyengat.
 
Kawah Telaga Bodas ini tidak tampak seperti sebuah kawah tetapi lebih seperti sebuah pantai dengan airnya yang mengalir tenang dan tanahnya yang seperti pasir pantai. Adapun bebatuan berukuran sedang yang bisa dipakai untuk bersinggah sambil mengabadikan keindahan telaga ini. Pengunjung bisa berjalan menyusuri tepian telaga dan melihat beberapa sumber uap belerang dalam skala kecil yang muncul dari dalam tanah, menimbulkan gelembung dan bunyi saat bercampur air. Sedangkan di salah satu tepiannya terdapat sumber uap belerang yang lebih besar sehingga menimbulkan gejolak air dengan bunyian yang bergemuruh, diiringi dengan letupan air dan kepulan asap yang membubung tinggi.
 

_DSC0023.JPG

Talaga Bodas
Foto: Medi AHN/PR
Di balik pesonanya itu, telaga yang terletak di tengah-tengah lembah dan dikelilingi pegunungan ini menyimpan sebuah cerita. “Telaga Bodas tidak memiliki dongeng seperti Gunung Tangkuban Parahu, tetapi yang pasti dulu pernah ada kehidupan di sini,” ujar penjaga pos kawasan Talaga Bodas, Agus Cobra.
 
Seperti yang dikatakan pria kelahiran 17 Agustus 1964 itu, zaman dulu di Telaga Bodas memang pernah terdapat sebuah kehidupan, yakni sebuah perkampungan yang dinamakan Kampung Papandak. Perkampungan tersebut diabadikan oleh seorang fotografer warga negara Belanda keturunan Jerman yang lahir di Kediri, Margarethe Mathilde Weissenborn atau lebih dikenalnya dengan panggilan Thilly Weissenborn. Ia mengabadikan hasil jepretannya dalam bentuk kartu pos.
 
Pada kartu pos tersebut terlihat dua ekor kambing yang sedang merumput di tengah jalan dan dua anak kecil tanpa busana dengan latar belakang rumah adat kampung Papandak. Di bawah kartu pos itu terdapat sebuah tulisan dalam bahasa Belanda, “Weg Naar Telaga – Bodas”, yang artinya “Jalan Ke Telaga Bodas”.
 
Kartu pos ini dikeluarkan oleh sebuah studio foto Atelier Lux di Societeitsstraat  15 (kini Jalan Ahmad Yani, Garut) pada tahun 1932. Bukan tanpa alasan, kartu pos tersebut dikeluarkan dengan tujuan sebagai sarana promosi saat itu. Foto-foto hasil jepretan Thilly  yang dibuat di sekitar Garut pada tahun 1917 – 1942 ia abadikan dalam bukunya yang berjudul “Vastgelegd voor later”.
 
Telaga Bodas yang kala itu menjadi primadona wisata alam banyak dikunjungi oleh wisatawan asal Eropa. Saking terkenalnya, pada 4 Februari 1924, Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu mengeluarkan keputusan untuk menjadikan Telaga Bodas sebagai salah satu objek wisata. Sebagai upaya promosi, selain membuat dalam bentuk kartu pos karya Thilly, detail peta dan jalur menuju kawasan wisata pun dibuat dalam bentuk buku-buku. Sejak saat itu, banyak turis asing yang berdatangan sambil berkuda. Potensi belerang di kawasan ini pun mulai ditambang untuk kepentingan medis dan kimia.
 
Namun, ketenaran Telaga Bodas zaman dulu sudah banyak berubah. Bangunan di kampung Papandak dengan bentuk bangunan julang ngapak serta atap cagak gunting sudah tidak bisa ditemukan lagi sejak terbakar pada tahun 1935. Dan setelah lebih dari 70 tahun yang lalu, kondisi ruas jalan pun berubah menjadi jalan berbatu yang tidak layak dilalui kendaraan roda empat. Rumput alang-alang setinggi dada mulai memenuhi jalan setapak menuju objek wisata.
 
Meskipun begitu, pesona Telaga Bodas tak pernah pudar. Kawahnya masih tetap asri, bahkan pohon puspa dan saninten tumbuh subur di tepian kawah. Selain itu, tak jauh dari lokasi kawah terdapat tiga buah kolam air panas alami dari perut bumi yang bisa digunakan untuk berendam dan dipercaya dapat menyembuhkan atau mengobati penyakit kulit. Dan sekitar 100 meter dari kolam air panas, pengunjung juga dapat menikmati kesegaran dinginnya air terjun kecil.
 
Keindahan Telaga Bodas yang memesona itu tidak mengubah fungsinya sebagai objek wisata. Wisatawan tetap bisa mengunjunginya meskipun untuk saat ini jalan menuju objek wisata sedang dalam perbaikan. Hal itu dilakukan untuk mengembalikan Telaga Bodas sebagai sang primadona alam yang sempat lama tertidur. Sebuah kawah yang indah, tiga kolam berendam air panas, serta sebuah air terjun kecil yang menyegarkan siap menyambut para wisatawan yang datang. (Mayang Ayu Lestari/PDR)
 
 
Alamat: Desa Sukamenak & Desa Sukahurip, Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut
              ± 25 Km dari Jln. Raya Garut
              ± 56 Km dari Tasikmalaya – Malangbong – Cibatu
              ± 13 Km dari pangkalan ojek Jalan Raya Wanaraja   
 
  
Luas Area Cagar Alam:  258,05 Ha
Taman Wisata Alam:      27,88 Ha
  
Transportasi/Akses:
Untuk mencapai lokasi dibutuhkan kurang lebih satu jam dari pangkalan ojek jalan raya Wanaraja, setelah Pasar Wanaraja. Pengunjung dapat menggunakan alat transportasi pribadi, delman, ojek atau angkutan kota dengan trayek: Garut – Cibatu, Garut – Cikelet, terminal Guntur – Sukawening, dan jalur terminal Guntur Perumnas Cempaka Indah. Saat ini, disarankan menggunakan kendaraan offroad.