Ciptakan Rasa Menyenangkan Saat Bermain Tanah

PELAKSANAAN Bandung Urban Farming Goes To School (BUGS) tahun 2011-2012 memang telah berakhir, tapi semangatnya ternyata tak memudar. Seperti terlihat di SMKN 7 Bandung yang berlokasi di Jalan Soekarno Hatta. Sekolah yang memang tampil hijau dan asri ini memiliki banyak cerita dari event BUGS lalu.

Hal ini dikisahkan Ati Atiah dan Ryo Andriyans, siswa kelas 2, SMKN 7 Bandung. Ati mengungkapkan, banyak ilmu baru yang didapat dari BUGS. Ati yang dari dulu senang menanam, seringkali mempraktekkan penghijauan bukan hanya di sekolah, namun juga di rumah. “Saat mengikuti pelatihan BUGS, kita diajarkan cara menanam yang benar, termasuk masalah pembibitan, benih dan pemupukan. Hal yang kurang saya ketahui sebelumnya. Ternyata hasil dari yang kita tanam itu tergantung cara kita merawatnya,” ujar Ati.

Lain cerita dengan Ryo yang mengatakan cukup senang dengan ilmu barunya membuat pupuk cair saat mengikuti pelatihan BUGS. “Saya baru tahu kalau air beras dicampur sayuran bisa jadi pupuk. Setelah mengendapkannya selama sekitar seminggu, campuran keduanya jadi penyubur tanaman alami. Tidak sulit untuk dibuat, meski hasilnya memiliki bau yang menyengat,” ungkapnya.

Guru Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) SMK Negeri 7 Bandung, Irma Indrayati SPd, memaparkan bahwa selepas BUGS, kepedulian terhadap lingkungan hidup sekitar tidak boleh berhenti. Dalam memotivasi para pelajar untuk secara berkelanjutan melakukan aksi nyata peduli terhadap lingkungan, memang tidak mudah.

“Untuk menumbuhkan kesadaran dan kecintaan terhadap alam sekitar, dibutuhkan adanya interaksi langsung dengan lingkungan. Dalam mengajarkan pendidikan lingkungan hidup, tidak cukup hanya dengan interaksi di dalam kelas tapi juga interaksi langsung dengan alam,” ujar Irma.

Irma juga menceritakan, ketika diajarkan bagaimana menaman, tidak sedikit siswa yang tidak terbiasa dengan kotornya tanah atau keberadaan cacing sebagai bagian dari ekosistem tanah. Ini menunjukkan betapa interaksi dengan alam belum jadi kebiasaan sehari-hari. Kalau belum terbiasa, bagaimana bisa peduli?

“Hal ini harus diubah, harus ada kesadaran tulus dari diri, dan akhirnya menjadi kebiasaan dan gaya hidup,” ungkap Irma. “Dalam memotivasi dan menumbuhkan kecintaan terhadap lingkungan memang sulit, namun intinya adalah fun,” tambahnya. Untuk itu, Irma selalu berusaha menciptakan rasa “fun” saat mengajarkan para siswanya berbagai aktifitas pelestarian lingkungan di lapangan.

Menurut Irma, SMKN 7 Bandung sendiri telah menerapkan mata pelajaran PLH sebagai Mulok untuk kelas 1. Untuk kelas 2 serta kelas 3 melakukan pemeliharaan serta mempraktekannya di rumah. “Untuk kelas 1, pendidikan lingkungan hidup menjadi Mulok yang harus diikuti. Semua siswa kelas 1 diberi benih dan diharuskan menanam serta memelihara tanaman tersebut. Setiap pot benih diberi label nama siswa yang menanam dan memeliharanya. Sementara untuk kelas 2, mereka diharuskan memelihara pot-pot tanaman yang sudah ada di sekolah, agar lingkungan tetap hijau,” paparnya menjelaskan. (AE-03/AE-08/Donny)***